Fatih yang Sedang Suka Ngobrol

“Momi, bangun. Momi jangan tidur”

“Maaf Fatih, mama harus baring dulu sebentar,” jawab saya.

“Momi, momi kenapa?”

“Kepala dan punggung mama sakit, Nak.”

“Fatih pijit, momi?”

“Boleh, pijit dahi mama ya, Fatih. Tapi pakai bibir saja.”

Dan sore itu, wajah saya diciumnya berkali-kali. Saya tahu, seharusnya pusing dan sakit di punggung saya bisa serta-merta hilang sebab saya telah menerima obat yang paling mujarab.

Fatih, si penggemar berat kereta api

Fatih, si penggemar berat kereta api

“momi, punggung momi kasih minyak telon? Dokter Fatih kembali menawarkan pengobatan.

“Boleh, Nak.”

Setelah itu saya pun duduk dan mengucapkan terima kasih. Tak disangka, Fatih masih saja terus mengira-ngira tentang mengapa saya bisa sakit kepala dan punggung.

“Momi, momi makan permen? momi makan ciki? momi makan apa?”

“Kenapa Fatih?” tanya saya (pura-pura) penasaran.

“nggak boooleh!” Fatih meninggikan dan memanjangkan suku kata ‘bo’ sambil menaikkan jari telunjuknya. Saya merasa seperti anak kecil yang sedang dinasihati ibunya karena terlalu lama main layang-layang di lapangan dan baru tiba di rumah saat magrib tiba.

“momi nanti pusing. momi sakit gigi. gigi momi bolong. ihhh… takut momi!”

Saya hanya tertawa-tawa kecil mendengar jawabannya. Tapi saat itu saya merasa benar-benar payah. Maka saya pun memeluk Fatih dan tanpa saya sadari, saya tertidur. Padahal, saya hampir selalu menjaga diri saya untuk tidak tidur sore. Sekitar lima belas menit kemudian, saya terbangun. Fatih di samping saya sedang menyusun bricks menjadi kereta dan rumah-rumah.

“momi kenapa momi? momi pusing? kepala momi kejedot?” Fatih kembali bertanya-tanya kepada saya.

“Nggak, Fatih. Mama sudah sembuh. Main, yuk!”

*******

Fatih Dipanagara (hampir 2,5 tahun), sudah banyak bicara. Segala hal dikomentari dari A–Z. Ia juga senang mengarang cerita yang inspirasinya ia dapat dari lagu-lagu. “Momi, Fatih punya cerita. Burung gelatik kan terbang, terus kepalanya kejedot awan. Burung gelatik nangis, kepalanya sakit. Terus sayap burung gelatik sakit juga jadi tak bisa terbang. Burung gelatik luka, dia dikasih obat supaya sembuh.”

Fatih juga paling senang meminta saya menyanyi. “Momi, ayo nyanyi!” Biasanya saya langsung menyanyi. Tapi suatu kali saya menawarkan seorang yang lain. “Baba aja, Fatih, Baba pinter nyanyi, loh!” Kak Aceng pun bernyanyi setelah diminta oleh Fatih. Baru di awal lagu, tiba-tiba Fatih berkomentar, “Aduh, ampuuuun. Salah, baba…” Lalu Fatih tertawa-tawa sambil meninggalkan kami. Saya dan Kak Aceng berpandang-pandangan seolah saling berkata, “Situ ye yang ngajarin ngomong begitu?” Setelah itu, Kak Aceng tidak pernah lagi menyanyikan sebuah lagu sampai habis karena selalu terpotong oleh komentar Fatih. “Salah, baba” “Baba lupa, ya.” Sampai akhirnya, “Sudah baba, momi aja yang nyanyi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s