Pernik Rumah Tangga (2)

Beberapa waktu lalu, saya baca tulisan seperti ini:

Di balik para lelaki sabar ada istri yang ngeyel dan susah dibilangin.

Membacanya, saya merasa sepet sekaligus geli. Sepet, karena jargon yang biasa saya dengar adalah “di balik lelaki sukses ada istri yang hebat.” Geli, karena dipikir-pikir, ‘ih, kokk… kayanya gue kenal deh sama salah satu pasangan suami-istri yang kaya gitu.” hahahaha😀

Saya pengen banget mengingat episode ketika saya belajar masak pertama kali. Awal-awal jadi istri, saya masih juga belum bisa membedakan mana jahe, mana lengkuas, mana kunyit, dan yang mana laos. Hanya ada dua bumbu dapur yang saya ketahui kegunaannya secara pasti; gula yang menciptakan rasa manis, dan garam yang bikin asin. Maka, saya merasa kagum ketika saya melihat Kak Atjeng begitu piawai bergerak di dapur—dan itu bikin saya berpikir bahwa suatu saat saya akan membantunya memasak.

Saat itu pun tiba. Saya menawarkan diri untuk menjadi asistennya di dapur. Pekerjaan pertama yang ditawarkan kepada saya adalah mengupas bawang putih. Awalnya saya mau menolak sebab ketika itu saya masih musuhan sama bawang. Makan bawang goreng aja ogah apalagi ngurus bawang mentah. Tapi, sudahlah, saya mencoba untuk bertahan. Setelah selesai mengupas bawang, saya kembali menawarkan jasa bantuan. Lagi-lagi Kak Atjeng menawarkan saya pekerjaan yang berhubungan dengan bawang, “Tolong ditumbuk ya sampai halus.”

Saya pun mencoba menumbuk bawang dari jauh. Sejauh tangan saya bisa diulur. Saya menumbuk kira-kira dari jarak 55 cm dan ya tentu saja tidak akan berhasil. Saya merasa diawasi sepasang mata dari atas. “Kok numbuknya jauh banget?” Tanya Kak Atjeng.

“Saya nggak kuat cium bau bawang,”

“Oh gitu… gimana kalau sekarang saya dulu aja yang masak?” Kak Atjeng kembali bertanya.

Waktu itu, saya nggak merasa bahwa itu adalah ucapan halus dari, “Sini gue aja yang ngulek biar masakannya cepet jadi.” Sebaliknya, saya merasa bahagia karena terbebas dari bau bawang dan segera menawarkan bantuan lain. “Gimana kalau saya bantu cicip makannya aja?”

Begitulah suami saya a.k.a Ginanjar Sya’ban (hampir) tidak pernah menggunakan kalimat yang menyinggung jika ingin memberi tahu atau mengingatkan saya. Kenapa saya bilang hampir? Karena ada ucapannya yang pernah bikin saya sedih. Tapi terus saya langsung bilang kalau saya sedih (gue kadang rada drama queen lah ya kalau sama Kak Atjeng.) atau, saya juga pernah langsung bercandain, “Alfonso, bisa kau hentikan ucapanmu itu? Hatiku sakit mendengarnya. Ini hidup bukan telenovela” Hahaha…

Padahal ya, padahaaaaalll… kalau saya yang sebel, bisa kaya Krakatau meletus. Nggak diing. Kalau sebel, kesel, atau marah, saya bisa berlama-lama gerakan tutup mulut. Biasa, minta dirayu pacar dengan jutaan kata maaf. hahaha.. Tapi semakin lama, saya semakin belajar untuk bersabar dalam berumah tangga. Kan malu masa suaminya sabar tapi istrinya ngeyelan.

2 thoughts on “Pernik Rumah Tangga (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s