0

Elegi yang tak pernah selesai disenandungkan

IMG_8542

kafiyeh,
batu,
dan elegi yang tak pernah selesai disenandungkan,

tak pernah menyalahkan kemanusiaan kita yang kian surut,

tak pernah bertanya tentang perlu seberapa banyak lagi darah yang tercecer agar mata kita tak lagi buta,

tak pernah bertanya perlu sekencang apa raungan bocah-bocah yang menjadi yatim agar telinga kita tak lagi tuli,

tak pernah bertanya tentang perlu seporanda apa tanah mereka agar mulut kita tak lagi bisu.

langit akan kembali memerah saga; entah oleh siapa:

oleh bayang api yang melumat kota,
oleh darah para syuhada,
oleh tangan-tangan durjana,
atau oleh jiwa kita—yang terbutakan dunia fana.

***
Ya Allah maafkan kami jika membantu saudara kami sebatas doa pun kami masih lalai.

Allahummansurhum. Allahummansurhum. Allahummansurhum.

LMS, 3 Juli 2014

3

Pernik Rumah Tangga

Saya tengah membaca buku And The Mountains Echoed saat saya tiba-tiba berkomentar, “Kayanya, perempuan paling cantik di dunia itu perempuan-perempuan Afghan dan Kashmir.”

“Kok bisa?” tanya Kak Aceng.

“Saya pernah lihat foto-foto mereka di majalah. Yang saya lihat itu foto-foto perempuan korban perang. Kebayang kan muka mereka kalau hidupnya bahagia.” Lanjut saya.

“Kalau menurut saya, perempuan paling cantik di dunia itu orang Bogor yang doyan mungutin kenari.” Ujar Kak Aceng  sambil terkekeh.

Saya terpaksa mengalihkan wajah saya dari buku ke wajah laki-laki yang kelakuannya paling lucu sekaligus paling menyebalkan sedunia itu. Sebuah bantal saya layangkan ke arahnya. Oke, dia memang hobi ngegombal dan saya perempuan yang terjerat dengan gombalannya.

Image

***

Continue reading