3

Benteng Kesabaran Terakhir Itu Bernama Khaled Said

Pemuda itu didekati oleh dua orang polisi keamanan di sebuah kafe di kawasan Sidi Gaber, Aleksandria. Dengan kasar, ia diseret keluar lalu dianiaya. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi, sementara kepalanya dihantamkan berkali-kali ke tembok dan tangga hingga akhirnya, ia pun menjelma benteng terakhir rakyat Mesir yang selama ini membendung luapan ketertekanan mereka.

Peristiwa yang menimpa pebisnis muda itu terjadi tidak lama setelah aksi pengeboman gereja saat malam tahun baru di Aleksandria. Ditambah lagi, terjadi pula dua “insiden Khaled Said” lain di kota yang sama beberapa waktu setelah penganiayaan yang terjadi terhadap Khaled, tentunya dengan pelaku yang sama: polisi keamanan. Alasan pembunuhannya pun sama: tak ada. Maka, bayangkanlah temperatur kemarahan sepanas apa yang melingkupi Aleksandria kali itu. Mereka pun mulai menyerukan, “ana ismi Khaled Said” atau “kulluna Khaled Said” sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

****
“Ibu, Anda harus meliburkan kami pada Selasa pekan depan.” Kata salah satu peserta kurus bahasa Indonesia kepada saya.

Saya mengernyitkan dahi, “Mengapa?”

“Ini mungkin tidak masuk akal. Tapi sudah ada 40 ribu orang Mesir yang menandatangani petisi di internet. Mereka akan turun ke jalan untuk menuntut mundur presiden!”

“Apakah Tunisia telah menjadi inspirasi?” Sejujurnya, saya bertanya dalam kondisi kaget.

“Bukan karena itu saja, Bu. Tapi ini memang sudah saatnya.”

Perkataan salah seorang peserta kursus itu diamini oleh teman-temannya yang sama-sama berada di kelas itu. Saya pun segera memulai pelajaran meskipun pikiran saya dipenuhi berbagai hal. Enam hari lagi, entah apa yang akan terjadi.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia yang membahas tentang pemerintahan dan pemilu, situasi di kelas saya sering mendadak menjadi dingin dan kaku. Kemudian terdengar suara nafas yang ditarik panjang. Ketika mereka giliran berbicara, hampir tidak ada seorang pun yang memberi apresiasi bagi pemerintahan yang sekarang, bahkan rata-rata dari mereka memilih untuk menjadi Golput pada Pemilu kemarin. “Untuk apa kami berpartisipasi sedangkan kertas suara kami sudah terisi.”

Saya pun pulang dengan pikiran yang penuh, dan segera, setelah tiba di rumah, saya pun menceritakan hal ini kepada Mas Khanteng. Ia menyarankan saya untuk segera menelepon penanggung jawab Puskin (semacam BIPA) dan meminta agar Puskin diliburkan.
***

Selasa, 25 Januari 2011. “yom el-ghadab” atau “hari kemarahan” itu pun tiba bersamaan dengan hari libur nasional Mesir, yaitu “eid el-Shurthah” atau “Hari Polisi”. Sepanjang perjalanan sejauh 19 km dari rumah saya menuju sekolah, saya tempuh dengan taksi. Selama itu pula mata saya sibuk menyapu Mesir. Jalanan sangat lengang, hampir tidak ada kendaraan berlalu lalang. Maklum, ini baru jam delapan. Polisi pun sama sekali tidak terlihat~ya, hari ini mereka libur.

Namun, lihatlah 4 jam kemudian, massa mulai melakukan long march, kemudian berkumpul di Maydan Tahrir (Liberation Square), jantung Kairo. Mereka melakukan aksi simpatik, menuntut reformasi dan menuntut mundur presiden. Unjuk rasa pada hari itu adalah unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah Mesir. Banyak orang yang turun mempertaruhkan segalanya, berunjuk rasa di hadapan tekanan dan kebrutalan polisi Mesir. Hari itu saya berdoa untuk Mesir, “Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman, sebagaimana perkataan Nabi Yusuf kepada orangtuanya, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, Insya Allah aman’ [1]”

Unjuk rasa pada Selasa itu mengguncang Mesir (terjadi di beberapa titik penting, terutama Kairo, Aleksandria, dan Ismailiah). Tidak ada yang menyangka kursi baja itu mulai condong ke barat perlahan-lahan. Gelombang demonstrasi terus berlanjut, dan mencapai puncaknya pada pekan lalu. Setelah 30 tahun, akhirnya akan ada kurikulum tambahan untuk pelajaran sejarah di sekolah-sekolah Mesir 🙂

Tuan Khaled, lihatlah delapan juta orang yang turun ke jalan itu. Jumat kemarahan dan Jumat pemakzulan telah terlewati, kini mereka tengah menyiapkan rangkaian aksi untuk Jumat penghabisan. Sudah banyak, Tuan, sudah banyak darah yang tumpah, tetapi mereka masih tetap bertahan.

Tuan Khaled, berbahagialah di alam sana. berbahagialah bersama 300 pemuda lain yang telah menyusulmu dalam serangkaian unjuk rasa kali ini. Seseorang di Tahrir telah berkata, “kami sudah terlalu lelah untuk merasa takut, dan jika kami harus memberi 1000 nyawa kami dalam revolusi kali ini, akan kami berikan.”

[1] Q.S. Yusuf: 99

12

Hari Paling Menyedihkan

Saya ingin mencatat bahwa Rabu, 2 Februari 2011 ini adalah hari paling berdarah sepanjang demonstrasi “Tsawrah al-Ghadab” sejak Selasa, 25 Januari lalu. Saya hanya dapat terperangah di depan televisi melihat bentrokan kubu pro-Mubarak dan anti-Mubarak.

Sejak saya pulang dari sekolah dan menempuh jarak sekitar belasan kilometer, saya menyaksikan pawai-pawai yang diikuti ratusan orang. “Na’am yaa Mubarak!” teriak mereka. Saya merasa khawatir. Khawatir sekali.

“Ke mana mereka, Bu?” tanya saya kepada Bu Rahayu yang berbaik hati memberi saya tumpangan di mobilnya. “Nggak ke Tahrir, kan, Bu?” tanya saya.
“Nggak, jadwal mereka kan demonya di Mostafa Mahmoud. di belakang sekolah.”

Jarak dari Tahrir–tempat demonstrasi anti-Mubarak–ke Mostafa mahmoud–pro-Mubarak, tidaklah terlalu jauh. cukup melewati tiga atau empat stasiun metro.

“Mungkin nggak ya bentrok di Tahrir?” Tanya saya lagi.
“Mungkin. Bisa seperti di Alexandria.”

saya kembali menyibukkan diri dengan memfoto para demonstran pro-Mubarak dari balik kaca jendela mobil. Untunglah penumpang mobil kali ini perempuan semua, jadi kami tidak perlu melewati pemeriksaan-pemeriksaan setiap 100 meter.

Sampai di rumah, saya segera menonton al-Jazeera. Bundaran tahrir masih penuh seperti kemarin. kabarnya ada sekitar 3 juta demonstran yang bertahan di sana. Dan entah mengapa tiba-tiba sekelompok pasukan berkuda menyerbu demonstran, Itulah permulaan tragedi yang saya saksikan sejak tadi sore hingga waktu menunjukkan pukul 00.00 CLT. Saya merinding, membayangkan bentrok yang akan terjadi antarkedua kubu. Sebetulnya saya tidak perlu membayangkan karena gambaran nyatanya langsung terekam di depan saya. Seorang demonstran anti-pemerintah dikeroyok, kemudian terjadi aksi saling pukul dan lempar batu.

Sejumlah orang berlarian, mempersiapkan senjata lain. Dua buah tronton militer segera membentuk barikade untuk memisahkan kedua kubu tersebut. Tiba-tiba semuanya terasa mencekam. Tembakan berulang kali dilepas ke udara, para pemuda yang harus berlari-lari menggotong rekannya yang tumbang karena terluka.

Sebegitu banyaknya massa saling berhadapan, melempar batu, siapa yang tak merinding melihatnya? Saya memutuskan untuk masuk kamar dan beristirahat dari tontonan itu, sambil bertanya-tanya, siapa setan yang tega mengadu saudara setanah air itu? siapa setan yang tengah menyeringai di antara cucuran darah yang mencatat 500 orang cedera dalam bentrokan kali itu?

Sebuah panser dan beberapa lelaki berseragam militer berjaga di jalan raya tepat di depan flat yang tengah saya tempati ini. Sebegitu rawannya kah kondisi tanah ini? Pikiran saya disesaki pilihan untuk ikut gelombang evakuasi atau sementara waktu bertahan di sini. percayalah, itu bukan keputusan yang mudah.

Besok seharusnya saya harus siap ke sekolah pukul sembilan pagi. tapi rencana itu sepertinya harus dibuyarkan karena jam malam kini diberlakukan mulai pukul sepuluh pagi hingga lima sore. Saya sendiri masih belum tahu apa yang mungkin terjadi esok hari selain kecurigaan yang meruncing antara masyarakat Mesir sendiri, saling curiga siapa yang pro siapa yang kontra, siapa yang preman, siapa yang bukan. Malam ini tawuran mulai terjadi di Distrik 10, Nasr City. sementara, adik ipar saya yang baru saja menyelesaikan ujian semester satunya di Provinsi Manshurah harus mengurungkan niatnya untuk kembali ke Kairo setelah ia terjadi tawuran di dekat flat yang ditinggalinya.

“Cin, kata Ade, di Manshurah orang-orang saling bacok.” Saya lemas sekali. Padahal sehari sebelumnya ia mengatakan kondisi di sana aman terkendali. Kembali, saya menonton lewat televisi. pemukulan masih terjadi di bundaran Tahrir. Apa yang akan terjadi lagi? Sementara ini, pemerintah mengambinghitamkan pihak oposisi atas terjadinya tragedi itu. Katanya, pihak oposisi terpecah sehingga saling pukul.

Entah mengapa pemerintah seolah belum menyadari bahwa kebanyakan orang di sini bukan anak kecil yang menelan bulat-bulat apa-apa yang disuapi oleh ibunya. Sejak pecahnya revolusi ini, secara resmi polisi dan intel telah menjadi musuh utama masyarakat, terutama mereka yang memakai baju sipil, dan menggabungkan diri dengan para demonstran anti-pemerintah. Sementara, kali ini militer (tentara) menjadi satu-satunya elemen pemerintah yang mendapat peran protagonis sebagai penjaga rakyat. Saya hanya tidak mau membayangkan, suatu waktu, entah besok, lusa, atau entah, militer membuang predikat protagonisnya dan berbalik menyerang demonstran anti-pemerintah.

Jumat lusa akan menjadi hari dengan gelombang demonstrasi terbesar. Saya tidak tahu apakah hal itu kan terwujud atau tidak mengingat kini hampir semua akses transportasi dari provinsi lain ke kairo diperketat, bahkan ditutup. Malam ini saya berharap rakyat Mesir terutama anak-anak dapat tidur dengan lelap, karena ketika bangun ada banyak persoalan yang sudah menunggu.

ket.gambar: diambil oleh Om Tob ketika kami berlima menyusuri jalanan antara Nasr City–Tahrir–Dokki pada hari kelima demonstrasi Mesir (Sabtu, 29 Januari 2011)