Mimpi

“Ibu, ibu suka jus apel?” tanya salah seorang murid saya.

“Nggak terlalu. Kenapa?”

“Kalau ibu tidur, ibu seringkali mimpi atau tidak?”

“Ibu tidak terlalu sering bermimpi dan kurang suka kalau bermimpi ketika tidur.”

“Saya juga seperti ibu, tidak sering bermimpi ketika tidur. Tapi, saya pernah baca kalau jus apel bisa berguna untuk menciptakan mimpi-mimpi yang bagus.”

“Oh ya? kamu pernah coba?” kini giliran saya balik bertanya.

“Ya, Bu. Saya suka penasaran. Akhirnya saya coba, sebelum tidur saya minum sekitar hampir satu liter jus apel. Ternyata betul, Bu. Mimpi saya bagus dan tersusun baik.”

Saya senang sekali mendengar siswa ini berbicara. Setiap kali berbicara ia selalu berusaha menggunakan kata yang baik dan sopan. Saya tak terlalu ingat apa yang menyebabkan ia bertanya kepada saya tentang mimpi, yang jelas pertanyaannya melemparkan memori saya pada sebuah mimpi yang seumur hidup tak akan pernah saya lupakan.

***

Saya masih berusia 7 tahun ketika ayah dan bunda memasukkan saya ke sebuah pesantren yang amat istimewa dalam hati saya. Selepas membaca al-ma’tsurat bersama-sama, salah seorang guru saya mengatakan, “Tadi malam, salah seorang dari kawan kalian ada yang tidur sambil menangis. Dalam tangisnya ia membesarkan nama Allah dan memanggil-manggil Rasulullah. Hingga akhirnya ia terbangun dan benar-benar menangis sambil berkata, ‘wahai Rasulullah, jangan pergi.'”  Kemudian guru saya melanjutkan bahwa kawan saya, sebut saja namanya Fulan, adalah santri yang amat senang berdzikir dan menghafal Alquran.

Mendengar cerita seperti itu, saya merasa Fulan sungguh beruntung. Tapi, untuk merasa iri kepada Fulan pun rasanya saya tidak pantas. Sebab, dibandingkan dengan kawan-kawan yang lain, hafalan Quran saya tidaklah bagus.

Beberapa tahun kemudian, ketika saya kelas 5 atau 6 SD, saya mulai senang membaca serial kisah kepahlawanan dan sebuah buku tebal yang berisi cerita enam puluh sahabat Rasul. Dalam buku itu saya merasakan cinta yang amat luar biasa dari para sahabat kepada Rasulullah hingga mereka mati-matian membela Rasulullah dan risalah yang dibawa olehnya.

Suatu ketika, saya membaca beberapa kisah sampai saya menangis. Mungkin, saya juga menangis karena ada hal-hal kurang menyenangkan yang saya alami. Yang jelas, malam itu perasaan saya sedang tak enak dan untuk mengusir perasaan itu saya memilih untuk membaca buku. Kemudian, saya tertidur.

Dalam tidur, saya bermimpi diajak naik unta yang amat gagah oleh seseorang. Di wajahnya saya hanya menangkap cahaya. Ia mengajak saya mengelilingi padang pasir hingga akhirnya saya pun diturunkan di sebuah oase yang amat indah. Sosok itu berbalik pergi bersama untanya setelah menjawab sebuah pertanyaan: ‘Siapa engkau?’

Saya tidak peduli apakah benar bahwa sosoknya adalah nama yang ia sebut sejenak sebelum ia pergi, ataukah itu hanya jelmaan khayali yang menyambangi mimpi karena terbawa oleh kisah di dalam buku yang tengah saya baca. Bagaimana pun, saya yang masih kecil begitu gembira dengan mimpi itu. Seolah menjadi hiburan dan pesan bahwa di tempat tandus pun Allah menyediakan kedamaian dan sumber kehidupan bagi makhluknya. Jangan sedih, jangan khawatir.

Esok harinya saya pergi ke sekolah dengan gegas yang berbeda. Saya menemui salah seorang guru saya yang amat saya sayangi dan menceritakan mimpi yang baru saja saya alami.

Sampai saat ini, hanya itulah mimpi yang saya kenang. Mimpi 18 tahun silam yang sempat membalutkan begitu banyak luka jiwa. Mimpi yang seringkali menjadi motivasi bagi saya untuk memperbaiki diri. Mimpi yang tentu saja jus apel terenak pun belum tentu dapat menghadirkannya kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s