0

Makna Uang dalam Pandangan Islam

Makna Uang dalam Pandangan Islam
dari : republika

Ugi Suharto,
(Direktur Program Keuangan Islam, University College of Bahrain)

Sutan Emir Hidayat
(Dosen di University College of Bahrain)

Uang yang merupakan pelicin jalannya suatu perekonomian memang selalu
menjadi suatu topik yang hangat untuk dibicarakan. Ibarat sebuah mesin
tanpa minyak, perekonomian juga tidak akan jalan tanpa adanya uang.
Namun, banyak di antara kita yang hanya memahami makna uang dalam
konteks bentuknya sebagai uang kertas dan uang logam. Padahal,
definisi uang adalah segala sesuatu yang dapat diterima sebagai alat
pembayaran untuk barang dan jasa dalam suatu sistem perekonomian.
Faktanya, di zaman kuno orang menggunakan batu, kulit hewan, garam,
dan kulit kerang sebagai uang. Di zaman Rasulullah (SAW), koin emas
(dinar) yang berasal dari Romawi dan koin perak (dirham) yang berasal
dari Persia merupakan dua logam mulia yang dianggap sebagai mata uang.
Di zaman sekarang, uang kertas (fiat money) sudah menjadi alat
pembayaran yang umum digunakan di seluruh negara di dunia.

Pada asalnya uang mempunyai tiga fungsi penting, yaitu sebagai alat
tukar, penyimpan nilai, dan pengukur nilai sebuah komoditas. Namun,
dengan menyebarluasnya sistem bunga dalam transaksi keuangan saat ini,
fungsi uang sudah bertambah menjadi sebuah komoditas. Fungsi uang
sebagai komoditas didukung oleh beberapa teori keuangan kontemporer
seperti dalam Loanable Funds Theory. Dalam teori ini bunga (interest)
dianggap sebagai harga dari dana yang tersedia untuk dipinjamkan
(loanable fund) yang menjadi salah satu variable yang mempengaruhi
tingkat penawaran (supply of) dan permintaan (demand for) dari
loanable fund tersebut. Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan
bahwa penyuplai loanable fund akan bersedia memberikan pinjaman uang
kepada peminjam hanya apabila si peminjam bersedia mengembalikan uang
pinjamannya dalam jumlah yang lebih besar dari pokok pinjamannya.
Selisih antara jumlah yang harus dibayarkan peminjam dan pokok
pinjamannya itulah yang disebut bunga. Secara kontrak, harga (bunga)
tersebut mesti dibayar peminjam dalam keadaan apa pun (usaha si
peminjam untung atau rugi) kepada pemberi pinjaman, karena si pemberi
pinjaman dianggap sudah menjual sebuah komoditas yang disebut dengan
uang.

Di sini sangat jelas terlihat bahwa dalam sistem keuangan yang berlaku
sekarang, uang sudah dianggap sebagai komoditas yang bisa
diperdagangkan. Hal ini berlawanan dengan pandangan Islam yang tidak
menerima fungsi uang sebagai suatu komoditas. Hal itu dikarenakan uang
tidak memenuhi syarat sebagai sebuah komoditas. Menurut Syeikh
Muhammad Taqi Usmani, pakar Syariah keuangan Islam, setidaknya ada 3
faktor yang membedakan uang dengan komoditas. Pertama, uang tidak
memiliki kegunaan instrinsk (intrinsic utility). Berbeda dengan
komoditas, uang tidak bisa dimakan, dipakai, atau digunakan secara
langsung. Uang hanya bisa ditukar dengan komoditas, lalu komoditas itu
yang akan di makan, dipakai atau digunakan. Dalam istilah ekonomi,
uang hanya memiliki value in exchange sementara komoditas memiliki
value in exchange dan value in use sekaligus.

Kedua, uang tidak memerlukan kualitas untuk menentukan nilainya, dalam
artian uang kertas Rp 100,000 yang sudah lusuh terbitan tahun 2007
dengan uang kertas Rp 100,000 yang baru terbitan tahun 2009 memiliki
daya beli yang sama. Lain halnya dengan komoditas, sebagai contoh,
mobil Honda Jazz keluaran 2007 dengan Honda Jazz keluaran Januari 2009
memiliki harga yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan
kualitas antara kedua mobil di atas yang tecermin dari perbedaan nilai
dan harganya.

Ketiga, uang tidak memerlukan spesifikasi ketika berlakunya transaksi,
sementara komoditas mempunyai sifat yang spesifik ketika berlakunya
transaksi. Sebagai contoh, jika kita ingin membeli barang kita akan
memilih barang yang kita inginkan sesuai selera kita, seperti warna,
aksesoris pelengkap lainnya. Artinya, jika si penjual menawarkan
barang yang sama tapi warnanya tidak sesuai dengan selera kita mungkin
kita akan menolak. Tetapi, lain halnya dengan uang yang bersifat tidak
spesifik. Sebagai contoh, untuk pembayaran tagihan listrik bulanan
sebesar Rp 300.000. kita bisa membayar tagihan tersebut dengan
menggunakan tiga lembar uang Rp 100.000 atau empat lembar uang Rp
50.000 ditambah satu lembar Rp 100.000 bahkan kita bisa bayar tagihan
tersebut dengan tiga ratus lembar Rp 1.000. Bagi si penerima tidak
akan ada perbedaan nilai dalam ketiga cara pembayaran di atas.

Ada satu lagi tambahan perbedaan antara uang dengan komoditas,
khususnya dengan uang fiat yang kita gunakan sekarang ini. Uang kertas
(fiat money) yang berlaku saat ini tidak memiliki nilai intrinsik
(intrinsic value). Uang kertas menjadi alat tukar yang sah melalui
undang-undang yang dikeluarkan sebuah negara yang menyatakan keabsahan
uang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa diterimanya uang kertas
sebagai alat pembayaran hanya dikarenakan faktor kepercayaan kepada
pemerintah yang menjamin keabsahan uang kertas tersebut. Artinya,
apabila kepercayaan itu hilang atau berkurang maka nilai uang tersebut
akan melemah (terdepresisasi) dikarenakan orang lebih banyak melepas,
dengan cara menjual uang tersebut, daripada ingin memilikinya. Karena
jelas, memilikinya tidak punya nilai intrinsik.

Namun, perlu juga ditegaskan di sini bahwa uang fiat adalah uang yang
sah di sisi syariah. Penulis tidak setuju dengan pandangan bahwa hanya
uang emas yang sah di sisi syariah. Memang, benar uang emas adalah
uang yang paling baik dan paling stabil nilainya, dan kalau kita bisa
kembali menggunakan emas sebagai standar nilai uang, sudah tentu
sistem keuangan dunia akan jauh lebih baik. Namun, mengklaim bahwa
hanya emas atau perak saja yang diakui Islam sebagai uang dan selain
emas dan perak maka tidak sah, hal ini adalah klaim yang berlebihan.
Buktinya, Khalifah Umar pernah berniat untuk menjadikan kulit unta
sebagai mata uang, namun kemudian dinasihati supaya tidak
melakukannya, karena nantinya unta akan pupus dari kehidupan. Begitu
juga Imam Malik pernah berkata bahwa seandainya masyarakat menjadikan
kulit hewan sebagai mata uang, niscaya beliau akan melarang jual beli
kulit hewan tersebut melainkan dengan tunai dan tidak boleh
tertangguh. Walaupun pada hari ini kita bersemangat untuk kembali
kepada uang emas sebagai standar nilai mata uang, kita tidak perlu
berlebihan dan ekstrem dengan mengatakan bahwa uang fiat adalah haram.
Mengharamkan yang halal adalah sama saja buruknya di sisi Islam dengan
menghalalkan yang haram. Kalau uang fiat haram, sudah tentu mas kawin
kita menjadi tidak sah, dan perkawinan kita juga tidak sah, maka
anak-anak kita juga adalah jadi anak haram. Bukankah begitu
konsekuensi logika dari mengatakan uang fiat itu haram ? Wallahu
a’lam.

Advertisements
10

Perkelahian di Bawah Rumah

Malam tadi, saya baru akan beranjak tidur pada pukul 2 dini hari. Belum lagi saya sempat memejamkan mata, tiba-tiba terdengar keramaian di luar. Keramaian itu saya tafsirkan bukan sorak kemenangan orang-orang yang gembira karena Mesir berhasil menekuk Italia 1-0 di kejuaraan Piala Konfederasi, melainkan sorak yang bernuansa suram.

Benar saja. Ketika saya dan ka aceng melongok dari jendela, sudah ada dua kubu yang tengah berhadapan di samping lapangan futsal sambil membawa pentungan. Mereka beradu mulut dalam jarak dekat. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya, tapi kalau kata ka aceng, mungkin di antara gerombolan anak muda itu tadi ada yang mengganggu anak gadis sebuah keluarga.

Perkelahian nyaris tak terkendali saat pentungan mulai diangkat. Beruntung, datang masyarakat yang melerai mereka. Perkelahian kali itu tidak bisa selesai dengan kalimat, “shallu ‘ala an-Nabiy” seperti biasanya. Namun akhirnya, para orang tua yang berusaha melerai pun berhasil memisahkan dua kubu tersebut.

Semenjak kami pindah tempat tinggal dari Rab’ah ke distrik 10 (hayy Ashir), malam-malam kami memang nyaris tak pernah tenang. suatu waktu, bengkel mobil yang berada di bawah rumah kami, masih saja sibuk memotong besi pada jam 1 malam. Belum lagi kegemaran orang Mesir yang suka bermain futsal selepas jam 11 malam, atau riuh rendah orang-orang yang nongkrong di kafe saat menggelar nonton bareng siaran sepak bola yang menampilkan Mesir sebagai partisipannya. Bisa gempa deh hayy ashir setiap kali Mesir berhasil menguasai bola, apalagi ketika gol.

Maklum, musim panas. Malamnya jauh lebih hidup dibandingkan pagi dan siangnya.

p.s.: biasanya, di sini, kalau ada orang yang bertengkar, bisa dengan mudahnya dilerai dengan kalimat, “shallu ‘ala an-nabiy.” mereka akan terdiam dan segera mengirim shalawat kepada Rasulullah saw–seperti yang saya saksikan di bus dalam beberapa perjalanan.

keterangan gambar
atas : pemandangan dari rumah di Rab’ah. Yang mirip piramid itu adalah makam dan monumennya anwar sadat.

bawah: pemandangan dari rumah di mutsallas, hayy ashir yang kami tempati hampir dua bulanan ini..

8

Shalat Jumat yang Pertama

Jumat (5/6) adalah pertama kalinya saya ikut shalat Jumat. Sebabnya sederhana: ka aceng khutbah untuk pertama kali dalam hidupnya. hahahaha…..(akhirnya setelah ditekan dari sana-sini). Perjalanan yang kami tempuh cukup panjang, yaitu dari distrik 10 ke daerah Dokki. pertama, kami naik tramco ke Damrdash, kemudian dilanjutkan dengan naik metro (kereta api) ke st. mubarak dan disambung ke st. el-behoos.

Sampai di sana, masih ada waktu 1 jam lagi menuju zuhur. akhirnya, dengan pertimbangan keadilan terhadap perut, kami pun menyempatkan makan thomiyah bil baidh (roti gandum isi sayuran, kacang polong goreng, telur, dan saus wijen) di warung terdekat. Rasanya lumayan lah…tapi terhitung kecil dibanding thomiyah yang biasa saya beli di arabiata–salah satu resto thomiyah yang perlu diperhitungkan.
***

Masjid itu berada di lingkungan Sekolah Indonesia Cairo (SIC). Sampai di sana kami disambut oleh anak-anak kecil yang tengah belajar mengaji. Saya pun masuk ke tempat shalat perempuan, sementara ka aceng bersiap di ruang takmir masjid. Setelah sendirian menunggu cukup lama, datanglah ibu-ibu KBRI yang ingin ikut shalat Jumat juga.

Adzan membuyarkan obrolan kami dan segera mengambil ancang-ancang untuk mendengar khutbah Jumat. Tema kali ini adalah meneladani kepemimpinan Umar ibn Khattab.
***

Shalat Jumat pun berakhir, tetapi tidak dengan keberadaan kami. Setelah ini ada diskusi tentang sistem ekonomi kerakyatan vs neoliberalisme, dan ibu-ibu pun semakin banyak yang berdatangan. Diskusi berlangsung santai dan enak–karena selama diskusi kerjaan saya cuma ngunyah makanan yang disediain panitia. hehehe.

Setelah diskusi selesai, segera digelar sesi makan siang (ohh… betapa beruntungnya) dan dilanjutkan dengan shalat ashar berjamaah.
***

Di sini saya bertemu dengan bu umi (ibu yang membantu saya di bandara Mesir), dan berkenalan dengan banyak orang baru, ada mbak ima (makasih banyak ya mbak untuk pattiseries-nya^^), teh ratih (yang ternyata orang gunung batu), mbak uning (orang riau tapi suaminya orang leuwiliang), fully (kelas 2 smp yang tergila2 dengan jepang), mamanya fully, dan yang lainnya.

Sepulang dari masjid SIC kami sempatkan bersilaturrahin ke rumah Ceu Mimin dan Pak Endang, bertemu dengan Isa, Yahya, dan Nurhan. Makan malam bersama–dibekelin pula. hadooohhhh…
***

Sekitar jam 10 malam kami tiba di rumah.