5

Ma’assalamah Kak Ima dan Mang Ican

Kopi darat. Itulah istilah pertemuan di alam nyata bagi orang yang sebelumnya hanya mengenal lewat dunia maya, entah itu melalui blog maupun jejaring sosial macam fesbuk ataupun twitter.  Bagi saya, kopi darat itu sendiri adalah salah satu pengalaman termenarik dan terunik karena bagaimana bisa seseorang yang belum pernah bertatap muka satu sama lain tiba-tiba tanpa canggung bisa saling bersalaman, cupika cupiki, berpelukan, dan tenggelam dalam percakapan yang bisa dibilang ngalor-ngidul alias ke mana-mana.

Continue reading

Advertisements
4

Fatih Sebelas Bulan

Fatih, bagaimana rasanya sudah punya empat gigi?

Bagaimana rasanya mendengarkan suara-suara teriakan sendiri?

Bagaimana rasanya berjalan satu, dua, tiga, empat, lima, enam langkah?

Bagaimana rasanya bermain bersama lele, paus, bebek, dan mobil di baskom?

Bagaimana rasanya tertawa bersama mama, baba, dan orang-orang di sekitarmu?

Bagaimana rasanya mempunyai rasa penasaran yang tinggi terhadap berbagai hal? Continue reading

0

Nilometer: Permata Sains dan Arsitektur Islam di Ujung Pulau Rhoda Kairo

Kamis (9/5) kemarin, bertepatan dengan hari libur Kenaikan Isa al-Masih (‘Id al-Qiyamah), kami menyempatkan mengisi liburan dengan jalan-jalan ke komplek Nilometer, Istana Manesterly Pasha dan Museum Biduwanita Legendaris Mesir Umi Kultsum yang terdapat di ujung pulau Raudha (Rodha), Kairo.

Meski cuaca terhitung panas, tapi jalan-jalan kali ini terasa sangat menyenangkan. Apalagi kami ditemani oleh Adik kami, Ade Gumilar yang biasa blusukan ke tempat-tempat bersejarah di seantero Kairo. Dari rumah kami yang terletak di kawasn Dokki, kami pergi ke tempat tujuan dengan naik Taksi. Dari tempat tinggal kami, jarak tempuh ke tempat tujuan tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10-15 menit. Tiket masuk ke Nilometer juga tidak mahal, hanya 6 EGP (sekitar Rp. 8500) perorang.Di sana kami ditemani seorang pemandu bernama Ammu Hamdi.

Miqyâs an-Nîl (Nilometer) didirikan pada tahun 247 H (861 M) oleh insinyur Muslim kesohor pada zamannya, Ahmad ibn Muhammad ibn Katsir al-Farghani (Ahmad al-Farghani, dikenal juga di dunia barat dengan Alfraganus the Astronomer), atas perintah khalifah al-Mutawakkil ‘Alallaah. Saat itu, Mesir menjadi wilayah bagian kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Image

Bagian luar Nilometer Continue reading

0

Dear Baba Fatih

Di mana aku mencari rindu
Jika bukan di balik kelopak matamu
Di mana aku mencari cinta
Jika bukan di dasar jiwa

Hei, kau lelaki
Aku jatuh cinta padamu berkali-kali