11

Setelah Tiga Bulan di Mesir (1): Episode Kedatangan

Belum lekang dari ingatan saya ketika pertama kali menjejakkan kaki di negeri Musa ini. Seorang petugas bandara bertanya padaku,
“Bassburt?” (sebenere dia ngomong ‘passport’, cuman aja emang logatnya begitu.)
Saya segera menyerahkan passport. Dan berusaha PD dengan menggunakan bahasa Inggris yang pas-pasan. hehehe.

“I come here to study with my husband,” ujar saya
Sebelum diinterogasi macam-macam. “He’s studying here.”

“Ah, so, he’s Azhar student?” Tanyanya.

“Alhamdulillah.”

Setelah itu, ia segera mengembalikan passport saya dan memmberitahu saya jalan menuju pintu keluar. Di depan pintu keluar saya lihat beberapa pendatang asal Indonesia tengah diinterogasi seraya dibongkar muatan tasnya. Sejak maraknya TKI ilegal asal Indonesia, sambutan bandara terhadap orang Indonesia memang tidak terlalu ramah–begitu katanya.

Saya mendekati seorang petugas pintu keluar dan segera menyerahkan passport saya. Ia bertanya kepada saya dalam bahasa Arab ‘ammiyah.

“i’m sorry sir, but i don’t really understand Arabic.”

Namun, penjaga bergaris wajah tegas itu bertanya lagi kepada saya, kali ini dengan nada lebih keras.

“Pardon me Sir, i told you that i’m not speaking Arabic. But if you still want to ask me please let me go outside and bring my husband to you so you can speak with him. He’s student here.”

“In Egypt? Where?” Akhirnya ia pun menangkap maksud saya.

“al-Azhar.”

***
Saya pun melenggang keluar dengan sedkit deg-degan. Bagaimana tidak, seorang kawan saya yang tiba sepekan sebelumnya harus diinterogasi dulu selama sekian jam oleh petugas bandara sebelum akhirnya diperbolehkan keluar.

Di luar saya melihat muka yang sudah tak asing lagi. Ah, itu dia wajah lelaki yang hampir setahun ini begitu lekat dalam hidup saya.

Udara dingin serta-merta menampar wajah saya. Rupanya tadi hujan turun dan mengembalikan hawa dingin yang sebetulnya mulai menghangat.

Saya pun segera masuk ke dalam mobil yang telah menunggu. Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan kota Kairo di malam hari sambil menerka pengalaman apa yang akan saya alami di negeri seribu menara ini.

***
Imarah (apartemen) 11, Rab’ah al-Adawea. Kami (saya dan suami) tiba di tempat kediaman kami yang pertama dan segera menuju lift untuk naik ke lantai 8. Sampai di sana, saya disambut dengan tulisan:
“ahlan wa sahlan zawjati al-mahbubah” atau dalam bahasa Sundanya “wilujeng sumping pun istri nu dipikanyaah.” kalau kata anak-anak zaman sekarang mah “so sweeeeeeeeeeet…” suami saya pun segera mengabarkan kedatangan saya kepada keluarga.

Flat yang kami huni terhitung besar untuk keluarga kecil (belum ada anak). Ada tiga kamar tidur yang ukurannya besar-besar, di samping juga ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan balkon.

Ketika memasuk kamar, saya merasa sangat surprise, kamar tidur kami penuh dengan bunga-bunga segar yang berwarna-warni. Pandangan saya tertuju pada seikat mawar ungu yang berada di kasur. Ya ampun, baru kali ini saya melihat mawar berwarna ungu. Lagi pula, Istri mana yang tidak suka mendapatkan bunga dari suaminya?

Malam itu saya merasa sangat bahagia, tetapi saya juga tidak bisa menyembunyikan kelelahan saya. Tom yum seafood yang sudah disiapkan pun akhirnya disimpan untuk esok hari.

Saya tiba di Mesir pada 1 Februari 2009 pukul 04.00 CLT.

7

Réussite, Sekolah Islam Tertua di Prancis

“Kaifa aqra?” Tanya saya kepada Nadia–seorang muslimah asal Prancis–sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan ‘Réussite’ (Ibn Rushd). Saya ingin tahu bagaimana cara pembacaannya.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Nggak, ini nama salah satu sekolah muslim di Prancis. Kemarin saya baca beritanya.”

“oh, iya, iya. sekolah itu adalah sekolah muslim yang pertama di Prancis. Namanya Réussite, tapi sering disebut juga sekolah Ibn Rushd. Kenapa?”

“Katanya dalam waktu dekat akan segera tutup.” Jawab saya seadanya. “Kepala sekolahnya bilang sekolah itu dalam masalah keuangan yang sangat serius.”

“iya, saya ingat, saya ingat. Prancis masih diskriminatif,” katanya. “Sekolah muslim tidak dibantu, tapi sekolah kristen dan yahudi semuanya dibantu oleh pemerintah.”

Saya menganggukkan kepala. Di berita itu saya memang baca bahwa meskipun Réussite merupakan sekolah unggulan dengan tingkat keberhasilan 100%, tapi pemerintah tidak tergerak untuk memberikan bantuan finansial. Padahal, berdasarkan hukum Prancis, pemerintah harus memberikan bantuan bagi keberlangsungan pendidikan di sekolah-sekolah yang memenuhi syarat.

“Sekolah itu sekolah agama?” Tanya Lathifah, seorang kawan dari Thailand yang ikut mendengarkan pembicaraan kami.

“Nggak, bukan. itu sekolah biasa tapi juga ada muatan materi keislamannya.” Jawab Nadia.

Saya dan Lathifah hanya mengangguk.

Di Prancis memang ada larangan jilbab masuk sekolah. Sebab itulah, keberadaan sekolah Islam amat membantu muslimah Prancis untuk menjaga harga diri mereka dengan tetap bisa menggunakan jilbab di sekolah. Sedih rasanya kalau harus ada satu sekolah Islam yang harus gulung tikar di negara sekuler macam Prancis.

hmm, semoga ada donatur kelas kakap yang mengikhlaskan uangnya untuk mempertahankan Réussite, sekolah Islam tertua sekaligus sekolah tersukses di Prancis.