0

Pernik Rumah Tangga (3)

Saya dan Kak Atjeng sama-sama mahasiswa angkatan 2003. Bedanya, tahun 2008 saya sudah sarjana sementara Kak Aceng sampai 2012 masih istiqomah menjadi mahasiswa S-1 (berapa tahun, ayooo? :D). Pada 2008 kami menikah dan sejak itu pula saya berusaha mendorongnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya supaya bisa melanjutkan ke strata selanjutnya. Tapi rupanya dorongan saya selalu mentah hingga akhirnya saya memutuskan untuk bersabar.

khankhalili_cafee__2

Continue reading

Advertisements
2

Cinta dalam Sepiring Nasi Goreng

Sudah hampir sepekan ini saya kurang sehat. Kombinasi migraine, flu, radang, batuk, dan muntah-muntah, bikin saya agak kewalahan untuk menghadapi hari-hari. Di antara semua hal itu, muntah-muntah adalah bagian yang paling kurang saya sukai. Soalnya, kalau sudah muntah bakalan sampai titik darah penghabisan alias nggak bakalan ada lagi isi perut yang bisa dimuntahin.

Kemarin malam, saya muntah lagi. “Yassalaaaam, ibu mau punya dedek baru?” tanya salah seorang siswa saya lewat whatsapp. “Kagak lah, Jeng. Ini ibu kalau lagi radang emang biasanya muntah-muntah juga.” Tapi saya jadi kepikiran, jangan-jangan gue hamidun? Ya kagak lah… nggak mungkin… dalam pemikiran saya, ini bukan waktu yang tepat karena saya masih perlu memperbaiki diri di sana sini sebelum memutuskan untuk menambah anak.

20150503_224919

Continue reading

2

Pernik Rumah Tangga (2)

Beberapa waktu lalu, saya baca tulisan seperti ini:

Di balik para lelaki sabar ada istri yang ngeyel dan susah dibilangin.

Membacanya, saya merasa sepet sekaligus geli. Sepet, karena jargon yang biasa saya dengar adalah “di balik lelaki sukses ada istri yang hebat.” Geli, karena dipikir-pikir, ‘ih, kokk… kayanya gue kenal deh sama salah satu pasangan suami-istri yang kaya gitu.” hahahaha 😀

Continue reading

3

Pernik Rumah Tangga

Saya tengah membaca buku And The Mountains Echoed saat saya tiba-tiba berkomentar, “Kayanya, perempuan paling cantik di dunia itu perempuan-perempuan Afghan dan Kashmir.”

“Kok bisa?” tanya Kak Aceng.

“Saya pernah lihat foto-foto mereka di majalah. Yang saya lihat itu foto-foto perempuan korban perang. Kebayang kan muka mereka kalau hidupnya bahagia.” Lanjut saya.

“Kalau menurut saya, perempuan paling cantik di dunia itu orang Bogor yang doyan mungutin kenari.” Ujar Kak Aceng  sambil terkekeh.

Saya terpaksa mengalihkan wajah saya dari buku ke wajah laki-laki yang kelakuannya paling lucu sekaligus paling menyebalkan sedunia itu. Sebuah bantal saya layangkan ke arahnya. Oke, dia memang hobi ngegombal dan saya perempuan yang terjerat dengan gombalannya.

Image

***

Continue reading

5

Kisah Sepatu dan Bulan Juni

“Cinta itu memang seperti udara, kita tidak bisa melihatnya, tapi kita bisa merasakannya. Sejuk. Juga mengisi memenuhi rongga paru-paru kehidupan kita. Lalu memberikan semangat dan makna kehidupan yang lebih berarti. Ia jauh, tak tersentuh, tetapi terasa kuat, betul-betul kuat, terasa dekat, sangat dekat.” (Atjeng, suaminya Lulu)

cats

Continue reading

0

The More We…… The Happier Will Be

Saya memang nggak terbiasa megang dapur sendirian. Bawaannya grogi; takut kurang asin lah, gosong, nggak enak, dan berbagai ketakutan lainnya yang sebenarnya hanya alasan saya aja supaya nggak ditinggalin di dapur sendirian. hahaha… Tapi betul loh, Kak Aceng jauh lebih pintar masak dibanding saya. Saking jauhnya, kadang saya suka diikhlasin aja minggat dari dapur supaya nggak memperlama proses masaknya. Nah, hari ini saya merasa sangat keren karena melewati hari dengan senyum kemenangan.

Ceritanya pagi-pagi sekali Kak Aceng pamit, “Cin, saya pergi dulu, yaaa..”

“Oke. Hati-hati. Cin, di dapur ada makanan apa ya?” tanya saya.

“Kemarin kan saya bikin cumi-cumi sama sambel terong . Jangan lupa sarapan.”

Saya pun mengheningkan cipta. Tiba-tiba bayangan peristiwa tadi malam bermunculan: seorang wanita makan malam dengan porsi ‘khilaf’ sehingga tanpa disangka ia menghabiskan cumi-cumi yang tersedia. Siapakah wanita tersebut? hanya Tuhan dan tukang bajaj yang tahu.

Continue reading