Gallery
0

Kalau Pergi ke Taman Safari (1)

Ceritanya saya merasa berutang sama Fatih karena belum sempat mengajak Fatih jalan-jalan ke kebun binatang. Pernah sih, ke Giza Zoo ketika di Cairo. Tapi, sayang banget karena hewan-hewan di sana ternyata sangat terbatas. Paling banyak semut, kucing, dan gagak. Ada juga hewan yang berevolusi, yaitu elang yang berubah jadi ayam karena hanya bisa berjalan dan terbang rendah. Padahal, dari yang saya baca, dulunya kebun binatang ini cukup megah, loh!

Continue reading

Gallery
0

Sukabumi

Sukabumi adalah kampung ayah saya, tempat aki mendarmabaktikan hidupnya dalam perjuangan sebagai tentara, tempat nini menebar benih ikan di kolam; menyemai padi; menyabit rumput untuk kambing-kambingnya; juga bercerita tentang keberhasilannya menangkap musang yang menyelinap dan mencuri ayam-ayamnya. Ya, nini saya adalah seorang petani.

Di Sukabumi, aki membangun sebuah langgar di belakang rumah. Di sanalah tempat saya salat sembari mendengarkan gericik air pancuran yang mengalir dari mataair. Terkadang, sehabis salat, aki akan meminta saya mengaji. Setiap kali saya mengaji al-‘Adiyaat, aki akan meminta saya mengulangnya sampai tiga kali. Aki meninggal saat saya SD (antara kelas 5 atau 6). Aki, Allahu yarham, kembali kepada Allah selepas berucap selamat tinggal dalam Haji Wada’ di Makkah.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading

8

Menyambut Musim Semi Kelima

Aroma musim semi mulai menyeruak dari balik kelopak bunga yang mulai mekar. Mesir yang cokelat mulai menampakkan warna-warninya. Hari ini, kami bertiga–saya, Kak Aceng, dan Fatih–menikmati hari dengan jalan-jalan di Taman al-Azhar. Taman, yang dalam pandangan saya, adalah taman terindah seantero Cairo. Bunga-bunga mulai bersemi, meski tak semua sempat saya abadikan sebab bagaimana pun, Fatih tetaplah musim semi terindah dan paling menarik untuk saya kagumi 😀

Image

Kembang sepatu merah merekah indah mengundang mata untuk singgah sejenak

Continue reading

2

Bertualang ke Lembah Warna

Fatih Dipanagara, jika suatu ketika kaurasakan bahwa dirimu terlalu lelah berhadapan dengan rutinitas, lakukanlah perjalanan. Perjalanan akan membawa kita ke alam baru yang memperkaya batin hingga kita menyadari bahwa dunia ini begitu luas: janganlah bersempit hati. Dunia ini tidak berujung: janganlah berkerdil jiwa. Setiap lekuk bumi menawarkan perbedaan dan itulah yang membuat bumi ini begitu harmonis, indah untuk dipandang, dijelajahi, dan dipelajari.

Image

Perjalanan menuju Colored Canyon dari kawasan Sharm el-Sheikh. Sejauh mata memandang, hanya bukit, pasir, dan jalan. Namun, wilayah ini dikelilingi oleh Laut Merah

Continue reading

4

Fatih Sebelas Bulan

Fatih, bagaimana rasanya sudah punya empat gigi?

Bagaimana rasanya mendengarkan suara-suara teriakan sendiri?

Bagaimana rasanya berjalan satu, dua, tiga, empat, lima, enam langkah?

Bagaimana rasanya bermain bersama lele, paus, bebek, dan mobil di baskom?

Bagaimana rasanya tertawa bersama mama, baba, dan orang-orang di sekitarmu?

Bagaimana rasanya mempunyai rasa penasaran yang tinggi terhadap berbagai hal? Continue reading

0

Nilometer: Permata Sains dan Arsitektur Islam di Ujung Pulau Rhoda Kairo

Kamis (9/5) kemarin, bertepatan dengan hari libur Kenaikan Isa al-Masih (‘Id al-Qiyamah), kami menyempatkan mengisi liburan dengan jalan-jalan ke komplek Nilometer, Istana Manesterly Pasha dan Museum Biduwanita Legendaris Mesir Umi Kultsum yang terdapat di ujung pulau Raudha (Rodha), Kairo.

Meski cuaca terhitung panas, tapi jalan-jalan kali ini terasa sangat menyenangkan. Apalagi kami ditemani oleh Adik kami, Ade Gumilar yang biasa blusukan ke tempat-tempat bersejarah di seantero Kairo. Dari rumah kami yang terletak di kawasn Dokki, kami pergi ke tempat tujuan dengan naik Taksi. Dari tempat tinggal kami, jarak tempuh ke tempat tujuan tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10-15 menit. Tiket masuk ke Nilometer juga tidak mahal, hanya 6 EGP (sekitar Rp. 8500) perorang.Di sana kami ditemani seorang pemandu bernama Ammu Hamdi.

Miqyâs an-Nîl (Nilometer) didirikan pada tahun 247 H (861 M) oleh insinyur Muslim kesohor pada zamannya, Ahmad ibn Muhammad ibn Katsir al-Farghani (Ahmad al-Farghani, dikenal juga di dunia barat dengan Alfraganus the Astronomer), atas perintah khalifah al-Mutawakkil ‘Alallaah. Saat itu, Mesir menjadi wilayah bagian kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Image

Bagian luar Nilometer Continue reading