Ketika Cinta Harus Diremedi 

Saat itu menjelang magrib di kereta kelas ekonomi Cirebon–Jakarta. Semburat jingga menembus jendela, menghadirkan melankolia yang menerbangkan angan ke peraduan.  Gerbong yang awalnya riuh dengan perbincangan kini dipenuhi mata-mata setengah layu yang siap terpejam.

Di pangkuanku, anakku tertidur lelap. Sementara di hadapanku, seorang lelaki muda tampan berkaca mata, melempar senyum ke arahku. “Belum ngantuk?” tanyanya.

Aku menggeleng. Bagaimana aku dapat mengantuk,  sementara sedari tadi pikiranku dipenuhi deretan kalimat dan juga pertanyaan yang sudah kusiapkan untuk lelaki itu.

Aku memanggilnya cinta. Karena ia adalah suamiku, tak apa ya kalau aku memanggilnya begitu?

“Ngerasa nggak sih kalau hubungan kita akhir-akhir ini seperti rada hambar?” tanyaku.

“Masa sih?” jawabnya sambil terkekeh.

“Kalau gitu, jawab jujur ya.. Dari skala 1–10, berapa angka yang tepat untuk menggambarkan perasaan Cinta kepada saya?” aku mengajukan pertanyaan sembari membayangkan bahwa ia akan menjawab ooohhhh tentu saja 10 dong. 

6,7!” jawabnya mantap

Hah? Aku melongo. “Seriusssssssss, Ndroooo? Kalau dalam istilah ulangan di sekolah mah, saya kudu remedi, ikut ulangan perbaikan supaya nilai saya husnul khatimah”

Lelaki itu tertawa. “Maksud saya 9,7 Cin, tadi salah ngomong.”

“Saya menerima jawaban yang pertama karena kalau saya ditanya hal yang sama, jawaban saya mungkin takjauh berbeda. Nah, supaya remedi kita berhasil, tolong jawab secara jujur pertanyaan-pertanyaan saya.”

Lelaki itu kembali terkekeh. Ia sadar bahwa matanya takkan bisa terpejam dalam sisa perjalanan itu.

Aku dan lelaki itu saling mengajukan pertanyaan. Misalnya, apa perilaku yang membuat senang dan sedih; apa yang paling diharapkan saat sedang bersama; dan lain-lain.

Selesai sesi tanya jawab,  kami saling melempar senyum lalu memalingkan pandangan.

Aku mengingat-ingat isi sebuah buku tentang nasihat pernikahan. Mungkin benar, lelaki datang dari Mars, sementara perempuan dari Venus. Atau lelaki Lebih jago membaca peta, tetapi sulit mengingat-ingat tempat penyimpanan barang, dan yang paling penting: lelaki perlu rasa hormat dan perempuan perlu kasih sayang.

Poin terakhir adalah tempat kakiku tergelincir. Aku maklum dan memaafkan diriku. Ya, aku pernah sangat membenci lelaki dan itu tertanam di alam bawah sadarku. Pasti ada sikapku yang takpantas ikut hadir dalam interaksi dengan lelaki itu.

Langit di luar semakin gelap dan gerbong semakin senyap. Aku bertafakur menyelami jiwaku lebih dalam, berharap Allah melunakkan hatiku dan berkenan menghadirkan sakinah dalam perjalanan hidupku bersamanya.

Dan ketika kauberharap pada-Nya, hanya satu yang akan ia beri: jawaban.

***

Empat bulan sudah berlalu, dan jika kau penasaran tentang nilai remediku, sejujurnya aku tak terlalu peduli. Sebab rasa yang akhirnya ada,  jauh melempar segala angka.

(Selamat hari suami sedunia ya, pak suami!)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s