Gallery

Peralihan 2: Si Tukang Marah

Di antara doa-doa yang selalu saya panjatkan adalah, “Ya Allah, hindarilah aku dari segala penyakit hati.” Sebab, tentu kita mafhum bahwa hati adalah raja dalam diri kita. Jika ia baik, maka keseluruhan tubuh akan baik. Jika ia buruk, maka keseluruhan tubuh pun akan buruk (seperti yang disabdakan Rasulullah Saw.)

Nah, kalau misalnya saya sering spanneng, senggol bacok, doyan ngelamun nggak jelas, pasti sebab utamanya adalah hati saya sedang tak sehat. Saya agak sedih dengan saran: kalau gitu, dekati Pemilik hati dong.. Iya, sedih. Kesannya saya tidak berusaha melakukan hal itu. Padahal, mungkin yang saya perlu hanya sejenak waktu untuk melakukan hal yang saya sukai.

img_20130601_144132

Saya sadar bahwa apa yang menyebabkan saya seperti ini adalah rasa bosan. Saya bosan melambaikan tangan dari depan pagar saat Kak Aceng pergi. Saya kesal membayangkan dia akan bersenang-senang di berbagai kota, bertemu dengan teman-temannya, dan membahas hal-hal yang disukainya. Sementara, saya akan menutup pagar, menutup pintu rumah, kembali melakukan apa yang saya lakukan pada hari kemarin. Terus, salah? Ya nggak lah…

Yang salah, hati saya jadi nggak lapang. Dulu, niat utama saya mengundurkan diri dari pekerjaan adalah supaya punya waktu yang lapang buat Fatih. Kemudian, saya merasa terperangkap. Dulu, tanggung jawab terhadap pengasuhan Fatih ada di saya, Kak Aceng, dan gurunya. Sekarang, Fatih menghabiskan hampir seluruh waktunya berdua dengan saya. Maka, dalam berinteraksi dengan Fatih, saya jadi suka kehilangan kontrol lagi.

Sedih deh… orang yang paling saya sayangi, justru paling sering saya sakiti hatinya. Padahal, hanya keingintahuaannya akan sesuatu hal sangat besar dan terkadang saya merasa lelah. Ditambah lagi perilakunya yang sedang superposesif.

Tapi kemudian saya diingatkan lewat salah satu cerita yang saya bacakan untuk Fatih. Ceritanya, bayi yang sedang digendong oleh Rasulullah pipis di baju beliau. Ibu bayi tersebut marah dan merenggut bayinya dengan keras. Nah, Rasulullah bilang, “Air kencing ini bisa dibersihkan, sedangkan hati seorang anak yang dipukul, akan terluka.”

Membacanya, hati saya jadi nelangsa dan mendadak mata saya berkaca-kaca. Saya refleks memeluk Fatih yang masih serius menunggu kelanjutan cerita itu.

“Fatih pasti sedih ya punya ibu yang mudah marah?”

Saya makin nelangsa lagi setelah Fatih menjawab dengan santai, “Fatih nggak apa-apa, Momi karena Fatih sayang momi.” (brb ambil tisu)

And right after he said that, he felt asleep.

Saya mendadak risau dengan diri saya.

*****

Rasul berkata, laa taghdab faraddada miraaran, qaala laa taghdab

laa taghdab wa lakal jannah

man kaana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yaqul khairan aw liyas mut

*****

Saya ingin melapangkan hati saya. Saya ingin memaklumi bahwa yang saya hadapi adalah anak berumur empat tahun yang perlu waktu lebih lama daripada saya ketika ia memakai kaos kakinya.

Saya ingin menjawabnya dengan lemah lembut saat ia bertanya, “Momi, sepatu ini untuk kaki kanan atau kaki kiri?” Meskipun ia telah menanyakannya ratusan kali.

Saya ingin…

 

2 thoughts on “Peralihan 2: Si Tukang Marah

  1. Ibu, maaf ya kalau setiap saya ajak Ibu bertukar pesan, saya banyak meminta. Saya lupa, Ibu pun punya permintaan dan sesuatu untuk dihadapi. Semangat ya, Bu. Ibu banyak membantu urusan orang lain (setahu saya). Dan sesuai janji, Ibu pun akan dibantu dalam menjalani urusan ibu. Semoga Fatih jadi sebaik-baik prajurit ya, Buk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s