Gallery

Peralihan 1: Labil

Akhir-akhir ini saya sering banget bermuram durja, berlelah-lelah hati di balik bantal, dan menangis tanpa air mata (kalau dilanjutin lagi, kalimat ini barangkali bisa jadi lagu dangdut). Eh, tapi serius deh. Kalau matahari pagi muncul, entah kenapa hati saya nggak berseri-seri. Malah cenderung bersusah hati mikirin apa ya yang mau saya lakonin?

0

Dalam bahasa yang lebih mudah, bisa dibilang saya sedang labil. Labil banget macam Nurbaya yang menunggu Samsul Bahri merebut dirinya kembali dari Datuk Maringgih. Padahal, Nurbaya yang ini sungguh sudah berpasangan dengan Samsul Bahri. Maka, persoalan yang membuatnya labil bukanlah persoalan cinta. Yaaaa.. saya sempat sih labil karena perkara cinta.

Kok bisa? Ya, bisa. Ceritanya begini, dulu ketika di Mesir, meskipun saya bekerja, saya tak terlalu merasa terbebani dengan perkara domestik rumah tangga sebab Kak Aceng (hampir) selalu ada di samping saya untuk membantu. Misal, kalau saya bersih-bersih rumah dan menyetrika, berati yang cuci, jemur, dan masak adalah Kak Aceng. Lalu, pengasuhan Fatih bisa kami lakukan bersama-sama.

Sekarang mah nggak

Sekarang saya tidak bekerja. Tapi, Kak Aceng jadwalnya padat banget. Dalam sepekan, kami bertemu muka selama dua atau tiga malam, selebihnya kami menghabiskan malam dengan memandangi tembok kamar yang berbeda. Nah, otomatis yaaa.. pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan Fatih betul-betul saya yang pegang. Dan entah mengapa Fatih jadi posesif sekali sama saya.

Saya mau pipis, harus lapor. Mau masak, harus lapor. Mau tiduran, harus lapor. Bahkan, kalau pengen berleha-leha di kamar pun, harus ada di samping dia dan pintu kamar harus ditutup -______________-. Olahraga pagi, makan, mandi, belajar baca, main, baca iqro, makan, pergi les, cerita, makan, belanja, main, belajar, cerita, tidur…. semuaaaaa harus sama saya. Meskipun, saat itu ada nenek, om, atau tantenya, tetap saja ibunya harus ada di sana.

Dan dalam situasi seperti itu, saya kehilangan teman bercerita, yaitu Kak Aceng. Maka, suatu kali muka saya pun menjadi sangat tidak enak dilihat. Kak Aceng menghampiri, saya pergi. Kak Aceng ngomong, saya diam. Kak Aceng ngajak bercanda, saya tidak tertawa. Saya bergeming sambil menghadapkan wajah ke tembok kamar.

Untunglah Kak Aceng terus berusaha membujuk saya supaya kembali waras. Akhirnya, saya pun memaksakan diri untuk waras. “Saya suntuk. Saya kesal. Saya marah. Saya kesal dengan orang yang ninggalin saya berhari-hari, saya marah dengan orang yang kerja sampai malam tapi sampai di rumah langsung tidur, dan membiarkan saya menelan cerita-cerita kegelisahan saya sendirian.”

Memang barangkali saya yang dodol atau bagaimana, setelah bicara seperti itu, saya pun ngakak. Lah bener kan, saya cuma perlu teman ngobrol.Saya nggak peduli dengan ribuan kilo lelah dan bosan yang menimpa punggung saya, tapi di ujung hari saya perlu orang untuk menampung cerita saya dan tidak membiarkannya terurai menjadi air mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s