Gallery

Sukabumi

Sukabumi adalah kampung ayah saya, tempat aki mendarmabaktikan hidupnya dalam perjuangan sebagai tentara, tempat nini menebar benih ikan di kolam; menyemai padi; menyabit rumput untuk kambing-kambingnya; juga bercerita tentang keberhasilannya menangkap musang yang menyelinap dan mencuri ayam-ayamnya. Ya, nini saya adalah seorang petani.

Di Sukabumi, aki membangun sebuah langgar di belakang rumah. Di sanalah tempat saya salat sembari mendengarkan gericik air pancuran yang mengalir dari mataair. Terkadang, sehabis salat, aki akan meminta saya mengaji. Setiap kali saya mengaji al-‘Adiyaat, aki akan meminta saya mengulangnya sampai tiga kali. Aki meninggal saat saya SD (antara kelas 5 atau 6). Aki, Allahu yarham, kembali kepada Allah selepas berucap selamat tinggal dalam Haji Wada’ di Makkah.

This slideshow requires JavaScript.

Aki mengisap daun klobot dan mempunyai asbak yang setiap kali aki membuang abu klobot itu, asbaknya akan batuk-batuk, “uhuk uhuk uhuk, no smoking!” Setiap kali asbak itu terbatuk dan bilang “no smoking”, aki akan menyahut “Meuni ribut! cicing geura!”  kemudian saya tertawa.

Setelah aki meninggal, kisah di Sukabumi adalah kisah tentang nini. Nini, sampai sekarang, masih setia mengisap tembakau. Saat merasa gatal, ia meraih golok dan mulai menggaruk dengan golok sampai gatal-galanya hilang. Seringkali ia meraih pedang yang disimpan di atas lemarinya, dan cerita perjuangan pun dimulai. Begitulah nini, dan saya tidak heran saat mendengar cerita bahwa duluuuuu, nini kalau naik kendaraan umum nggak pernah bayar. Sebab, alih-alih duduk, nini malah berdiri di pintu angkot macem kernet.

Nini sangat baik. Ia memberi saya ayam jago yang bernama buhil. Dulu, saya tidak menganggapnya sebagi sesuatu yang spesial karena saya malas sekali mengurus kotorannya. Maka, saat tiba waktunya bagi buhil untuk disembelih, saya tidak merasa sedih.

Selama hampir dua puluh tahun nini hidup tanpa aki, belum pernah sekali pun saya membayangkan kesusahan hatinya saat harus melewati lorong-lorong rumah yang dihabiskan bersama aki semasa hidupnya. Namun, ayah barangkali merasakannya. Dan mulailah ayah membeli saung di Sukabumi, di sebelah rumah nini, agar setiap pekan ada yang menengok dan menghibur nini. Di antara saya dan adik-adik, Ahmad, lelaki pertama dalam keluarga, hampir setiap pekan datang ke Sukabumi.

Saya tidak pasti berapa umur ini. Tapi, jika ketika aki meninggal nini berusia 60-an, maka saat ini usia nini adalah 80 tahunan. Sudah tua dan sakit-sakitan.  Meskipun begitu, nini masih semangat kalau diajak swafoto alias selfie.

Aki Rukmandis, Allahu yarham, semoga lapang kuburmu

Nini Nunung, semoga semakin sehat, semakin bahagia.

Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s