Percakapan Sore

“Assalamualaikum, ibu sedang sibuk apa?”

Demikian ia membuka percakapan sore tadi. Selanjutnya adalah hujan puisi. Ia mengirimi saya puisi-puisi yang indah. Hingga, “Ibu, ada puisi yang sesuatu banget deh.”

Saya mulai membaca puisi yang cukup panjang itu perlahan, menerka-nerka maksud yang “sesuatu banget” itu. Ah, anak muda sedang patah hati. Patah hati yang sulit.

Pikiran saya melayang pada sebuah senja, saat seseorang menepuk bahu saya dan berbisik, “Ibu, saya mau cerita.” Saya memperhatikan matanya yang berbinar dan intonasi suaranya yang turun naik tak menentu menahan degup jantungnya yang berdetak terlalu keras. Ya, senja itu saya mendengarkan cerita tentang cinta.

Sore ini, saya tak menyangka bahwa perasaannya masih bertahan bertahun-tahun lamanya.

“Ibu, saya sempat konflik batin, Bu.”

Saya tak ingin bertanya lebih jauh. Sebab, tentu sulit rasanya ditinggal menikah dengan orang yang kita cintai, dengan orang yang menjadi bagian dari doa-doa dalam sujud agar suatu saat, Allah berkenan menyandingkan.

Sebuah puisi saya kirimkan dan ia tertawa. “Duh, ibu.. itu cocok banget untuk saya. hahaha.”

Cinta itu ada yang lahir, ada pula yang ditumbuhkan. Dua-duanya baik.

Jangan bersedih lama-lama, ya!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s