Jangan Marah

image

Sesaat yang cukup panjang sebelum tidur malam adalah waktu bagi saya dan Fatih untuk ngobrol ala orang dewasa.

“Fatih sayang momi nggak?” tanya saya. Sengaja, sebelumnya saya sempat marah karena Fatih memainkan pasta gigi hingga mengotori kamar mandi.

“Sayang…”

“Kalau momi marah, Fatih tetap sayang momi?”  tanya saya lagi.

“Ya, momi. Fatih sayang momi.”
Tapi kemudian Fatih terisak dan mulai menangis tersedu-sedu. “Cuma, Fatih sedih kalau momi marah.”

Dan itu adalah kali pertama Fatih. menangis lagi setelah dua bulan, tepatnya setelah saya melakukan pengakuan di depannya.

Saya mendekapnya dan membisikkan kata maaf berkali-kali hingga tangisnya hilang.

“Momi lupa, ya? Fatih kan pernah ngajarin lagu buat momi.”

“Lagu apa?”

“yang ini loh.. jangan marah-marah, jangan marah-marah, oh momi sayang.. sayangi Fatih.”

“Oh iya, momi lupa! terima kasih, ya, Fatih, sudah ingatkan momi,” ujar saya sambil menahan perasaan yang semakin sesak.

“Momi juga kan pernah ajarin Fatih hadits jangan marah laa taghdab wa lakal jannah. jangan marah, bagimu surga.

***

Tidak lama, Fatih tertidur. Dan saya menitipkan tetes airmata di atas selimutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s