Pernik Rumah Tangga (3)

Saya dan Kak Atjeng sama-sama mahasiswa angkatan 2003. Bedanya, tahun 2008 saya sudah sarjana sementara Kak Aceng sampai 2012 masih istiqomah menjadi mahasiswa S-1 (berapa tahun, ayooo? :D). Pada 2008 kami menikah dan sejak itu pula saya berusaha mendorongnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya supaya bisa melanjutkan ke strata selanjutnya. Tapi rupanya dorongan saya selalu mentah hingga akhirnya saya memutuskan untuk bersabar.

khankhalili_cafee__2

“Saya nggak pernah mengejar kelulusan. Buat saya belajar ya belajar, urusannya sama ilmu nggak ada hubungannya sama kelulusan.” Begitu ujar Kak Aceng. “Saya di sini mau belajar sebanyak-banyaknya.” Dan memang itulah kerjaannya. Belajar. Dari apa saja. Kak Aceng kuliah di jurusan ushuluddin. Saya tidak pernah mencari tahu apa yang ia pelajari di sana. Yang saya tahu: selama menikah dengan saya, tak sekalipun ia datang ke kampus untuk kuliah. Ia datang setahun beberapa kali hanya untuk ujian.

Sejujurnya, saya terganggu dengan sikapnya itu. Meskipun demikian, saya lebih berusaha memahaminya daripada mempertanyakannya. Akhirnya, saya berpendapat bahwa kelas yang ia ingin hadiri bukanlah ruangan-ruangan bersekat yang dipenuhi dengan mahasiswa beraneka rupa (dari yang memang datang untuk belajar sampai yang datang sekadar datang), Kelasnya adalah peta dunia; film dokumenter; buku-buku; tempat-tempat bersejarah; orang-orang yang ia temui baik sekejap maupun berlama-lama; diskusi-diskusi yang dihadiri mereka yang tertarik; juga talaqqi di majelis-majelis dengan orang-orang yang memang haus ilmu. Hingga saya menyaksikan bahwa Kak Aceng adalah sosok penuntut ilmu yang berbahagia, tanpa tuntutan tugas apa pun juga.

Dari sana saya memahami bahwa minatnya tersebar di bidang sosial-humaniora; sejarah, geopolitik Timur Tengah, sosiologi, bahasa, sastra, filsafat, dan budaya. Ia juga tergila-gila dengan seni bangunan, terutama pada corak arsitektur Islam. Maka, selama empat tahun menikah, saya pun membiarkannya belajar dengan caranya.

****

“Saya tinggal di Indonesia jauh lebih lama,” ujar saya suatu hari. “Yang saya pahami, negara kita adalah negara yang gila gelar. Bukan berarti kita harus ikutan gila, tapi saya cuma pengen ngajak untuk berpikir realistis, apalagi kita sudah berkeluarga.”

“Saya kan selalu berusaha ikut ujian, ya memang belum waktunya lulus aja. Lagipula saya lebih baik ambil kursus-kursus singkat yang bisa nambah keterampilan, deh.” Begitulah. Kak Aceng memang selalu santai dalam menghadapi persoalan hidup (sah elah…).

“Kita nggak akan pernah tau kemana nasib bakal membawa kita. Kenapa sih kita nggak berusaha menyiapkan diri kita untuk mampu bertahan di berbagai situasi? Sekarang waktu kita masih luang, belum ada anak. Ini bukan masalah lulus atau gelar, tapi realistis aja deh… kita hidup di dunia super materialistis. Segalanya diukur sama materi, hal-hal yang tertulis, yang terlihat. Kualifikasi bisa dikira-kira lewat pendidikan yang kita ambil. Nggak mungkin kan mau jadi dosen tapi lulusan SMA?” Saya mengajukan pertanyaan retoris.

Saya tau kapasitas Kak Aceng, dan saya juga tau dia pengen banget jadi dosen. Makanya saya seneppp banget dan sering gemes dengan sikap santainya. Alhamdulillah, akhirnya Allah memberi jalan buat Kak Aceng untuk menyelesaikan studi S-1 nya meski bukan di Al-Azhar.

Saat ini, sementara saya sudah jauh mengubur mimpi-mimpi saya di bidang akademik, Kak Aceng sudah menyelesaikan studi S-2 filologi di Unpad. Ia menyelesaikannya juga dengan bahagia meskipun kali ini harus selalu mengikuti perkuliahan secara formal. Memakai baju rapi dan berpantofel untuk belajar.

Saya menikmati saat-saat Kak Aceng berlama-lama di depan laptop untuk menyelesaikan tulisannya, menyuntingnya berkali-kali, kemudian merevisi kembali. Sebab saya bahagia melihatnya melakukan itu semua, maka sekarang saya pun berusaha mendorongnya untuk mencari beasiswa doktoral, mudah-mudahan, dengan itu, impiannya untuk menjadi dosen bisa segera terwujud.

***

“Cin, nggak mau sekolah lagi?”

Saya pun terdiam mendengar pertanyaanya. Kak Aceng tentu paham, dulu saya ingin sekali meneruskan kuliah di Leiden. Di awal pernikahan, saya sering membayangkan bahwa saya dan Kak Aceng sama-sama akan melanjutkan S2 di Leiden. Tapi sekarang, seperti yang sudah saya utarakan, saya sudah mengubur impian saya di bidang akademik. Tidak apa-apa, setidaknya, dulu saya pernah bercita-cita.

“Nggak, saya nggak mau,” jawab saya. “Saya memang selalu dan akan terus belajar, tapi nggak lagi lewat pendidikan formal. Sekarang mah fokus aja ngajak saya jalan-jalan, kita jelajahi dunia bersama-sama.”

“Cin, kalau gaji saya sebagai dosen nanti kecil gimana?”

“Lah, yang dulu bilang ‘apakah kita mencari kemapanan atau kedamaian jiwa’ itu siapa?” Dan saya pun mulai bercerita tentang salah satu mimpi saya: pergi ke Mongolia–menikmati kesederhanaan, singgah di tenda-tenda, bertemu dengan anak-anak berpipi merah dan para perempuan penakluk elang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s