Kamar yang Tidak Diam

Ngoprek-ngoprek tulisan lama yang berujung pada nostalgia zaman ngekos.

Kamar yang Tidak Diam

 

Hujan memang sedang mencintai Depok, hingga sering kali enggan berpisah terlalu lama. Seperti juga malam ini, hujan membuatku memasuki kamar tidurku dengan basah. Memang, tidak kuyup, hingga aku masih juga betah diam di kamar dengan pakaian basah.

Kamarku bukan kamar yang diam. Pintu masuknya yang ada dua saja sudah cukup ribut. Diperlukan suara “srek..srek..srek..” yang cukup lama dan berulang-ulang untuk membukanya. Maklum, pintu geser. Musik pun menjadi hiburan yang cukup sering dipilih untuk menemani keberadaanku, entah itu ketika sedang diam, tidur, mengerjakan tugas, atau pun sekadar membaca. Namun, ada lagi sebuah suara yang akan melengkapi keramaian kamar; suara teman sekamarku. Suaranya memang tidak bisa digolongkan pelan, celakanya ia bahkan tidak tahu kalau ia mempunyai suara yang tidak pelan.

Sudut yang paling kusuka di kamar ini adalah kasur yang letaknya tepat di depan meja yang di atas dan di rak bawahnya tersusun banyak buku. Buru Kuartet, Teori Sosiologi Modern, Cita Humanisme Islam, My Name is Red, Feminist Thought, Kamus Besar Bahasa Indonesia, The Reconstruction of Islamic Thought, dan buku-buku besar lainnya akan segera merangsang minat membaca.

Tidak ada barang yang lebih mewah dan menarik di kamar ini selain meja dengan buku-buku itu. Untunglah kamar ini cukup luas, hingga cukup untuk ditumpangi dua buah kasur busa, satu lemari baju, koper besar yang juga berisi buku-buku, satu lemari buku kecil, dan satu keranjang untuk baju-baju kotor.  Itu pun masih menyisakan area kosong yang cukup untuk berguling-guling, Sebuah kipas angin dan rice cooker menambah kebersamaan di kamarku.

Sebagai kamar yang dihuni dua orang gadis, kamar ini bisa dikatakan tidak cukup rapi. Kalau pun rapi, tidak akan pernah benar-benar rapi. Akan selalu ada sudut yang layak dicela. Seperti saat ini. Buku-buku yang baru saja dibaca dan akan dibaca berserakan di lantai kamar dan di atas meja. Bed cover dalam keadaan tidak terlipat dengan baik, mukena bekas shalat bertengger di atas kasur, gelas-gelas kotor bekas kemarin malam masih juga menghiasi lantai, dan tidak ketinggalan juga baju-baju kotor yang tidak tersimpan dengan rapi di tempatnya. Jika keadaannya seperti itu, satu-satunya sebab adalah tidak sempat merapikan ketika akan pergi ke kampus.

Seharusnya ada sebuah kertas besar bertuliskan puisi Sapardi “Kuhentikan Hujan” yang menempel di dinding kamar, namun aku tidak membawanya turut serta ketika pindah dari kamar yang lama. Sayang, padahal puisi itu mengandung banyak kenangan. Sekarang, di dinding kamar hanya ada sebuah poster film Sky Fighter dengan gambar dua pria gagah yang sedang berjalan di depan pesawat pada suatu senja. Memang, nilainya tidak sebanding dengan “Kuhentikan Hujan” yang menyimpan banyak kenangan itu, tetapi cukup juga untuk mengisi kekosongan di dinding kamar.

Hujan masih juga belum berhenti, meskipun irama yang sekarang terdengar adalah rintik-rintik yang beradu dengan suara kucuran air di kamar mandi. Aku masih mengetik dengan pakaian basah, kamarku masih dalam keadaan yang kuceritakan, damai dengan bunyi yang diciptakan putaran kipas angin dan Eine Klaine Nachtmusik yang mengalun menemani sudut-sudut diam.

2 thoughts on “Kamar yang Tidak Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s