A bitter-sweet story about me: on being a teacher

Akhir-akhir ini saya lagi hobi ngoprek-ngoprek tulisan zaman dahulu kala ketika kancil masih suka tipu-tipu buaya dan kura-kura bisa memenangkan lomba lari dari kelinci. Maksudnya, tulisan-tulisan yang sudah berumur, yang ketika saya membacanya, maka senyum saya pun mengembang lebar. Aroma yang menguar dari endapan kata, meghidupkan kilas balik kisah yang tidak ada salahnya saya jadikan media pengingat agar menjadi manusia yang lebih baik.

And here it is. A bitter-sweet story about me: on being a teacher.

IMG_0750 - Copy

don’t look at me. I’m shyo_O

Menjadi guru di sebuah sekolah dalam jangka waktu lama bukanlah sebuah jalan hidup yang sebelumnya pernah saya bayangkan. Dulu, saya suka bergaul dengan anak-anak jalanan. Saya menyambangi rumah singgah untuk duduk bersama mereka, kemudian kami belajar membaca, menulis, kami bernyanyi, dan berdoa bersama.

Saya juga pernah membuka “Kelas Sabtu-Minggu” di teras rumah untuk anak-anak kecil sampai dengan remaja pada masa-masa ketika saya skripsi sampai dengan menikah. Kami mendongeng, mewarnai, menonton film, belajar bersama, sampai mengajarkan cara pipis di kamar mandi dan membersihkannya.

Saya sangat menikmati suara-suara teriakan dari balik pagar, “Kak Luluuuuu.. Kak Luluuu… ini Aduunnnn… ayo Kak, cerita lagi.” Kemudian saya mulai membuka pagar rumah, dan anak-anak pun berebutan menyalami tangan saya. Bahagia? Surga rasanya! Lebih-lebih dari bahagia.

delapan tahun lalu. sekarang sudah pada gadis.

delapan tahun lalu. sekarang sudah pada gadis.

Nasib menerbangkan saya jauh dari teras rumah. Awalnya, saya ke Cairo murni untuk belajar, menemani suami belajar dan bekerja, layaknya istri salekah #eaaaaaa… Namun, rahasia hari esok hanya diketahui oleh Allah hingga akhirnya, tiba-tiba saya yang begini ini, harus menjadi guru di sebuah sekolah. Sekolah yang legal dan formal. Tidak seperti sekolah di rumah singgah atau pun Sekolah Sabtu-Minggu yang pernah saya asuh.

Lulu menjadi guru. Saya tersenyum menuliskannya. Tapi itulah kenyataannya. Kini saya menjadi guru, menjadi pusat mata bagi murid-murid–anak-anak sekaligus kawan-kawan saya–ketika saya menjelaskan sesuatu di depan kelas. Awalnya, sungguh saya merasa sangat kikuk. Namun, penyesuaian memang perlu waktu, dan waktu pula yang telah menjawab banyak pertanyaan dan kekhawatiran saya ketika memutuskan untuk menjadi guru di sebuah sekolah yang legal dan formal.

Ada perbedaan yang sangat saya rasakan ketika menjadi ‘guru’ di sekolah-sekolahan dan di sekolah. Ketika saya menghadapi anak-anak saya di sekolah-sekolahan, saya merasakan aura hangat dan semangat yang luar biasa. Bagi mereka, belajar adalah mencurigai banyak hal hingga berbagai pertanyaan keluar seperti air. Tawa mereka adalah keriangan yang berwujud syukur karena di sela jam kerja mereka, waktu belajar menjadi waktu untuk beristirahat, bermain, dan menemukan kembali kesejatian hidup mereka sebagai seorang anak yang belum waktunya untuk bekerja.

Tantangan lebih besar rupanya datang dari sekolah, yang legal dan formal. Di tempat ini saya merasakan patah hati yang teramat sering. Sebagai guru saya patah hati ketika anak-anak saya, mendatangi sekolah hanya sebagai penggugur kewajiban mereka sebagai pelajar. Saat itulah kelas hanya menjadi semacam tempat ngobrol dan tempat mendengar guru ceramah. Ya, ceramah pelajaran. Dan setahu saya, itu tidak menyenangkan. Saya juga patah hati ketika melihat perilaku anak-anak saya yang kurang berterima di hati saya. Saya orang yang sangat peduli, dan itu ternyata bikin sering patah hati.

Tapi, kisah yang berbunga-bunga tentu jauh lebih banyak dibandingkan kisah patah hati. Saya selalu senang mengajar anak kecil karena binar mata mereka tidak pernah redup meskipun mereka lelah. Mereka punya ekspresi kasih sayang yang membuat saya merasa berharga. Mereka punya cerita dan lagu yang menghidupkan senyum semua orang.

“Ibu, I want to tell you that I really want to be a teacher like you because I love you so much. Then, I want to be a barbie fashion and for the last, I want to be a princess fairy mermaid barbie.. Ibu, can you say it again? Do you remember what I said to you?”

“Bu, aku mau jadi guru agama supaya aku bisa kasih orang pelajaran dari Allah.”

“Bu, dia bilang aku nggak bisa, tapi kata Ibu aku kan pintar. Ya, kan, Bu?”

“Bu, masinis itu apa? kenapa dia nggak disebut sopir aja, Bu?”

“Bu, aku nggak bisa lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ tapi aku bisa nyanyi ‘Oppa Gangnam Style’.”

“Aku nggak mau latihan ibu jadi PR karena nanti ibu sedih kan kalau aku nggak selesai. Biarin aja aku nggak usah istirahat.”

“Bu, aku dibilang sama dia cantik padahal aku kan ganteng bukan cantik.”

f96a20d32308266695909158c8931d5c

Saya juga sumringah dengan siswa yang senang mengajukan pertanyaan, mengingatkan dan menasihati saya ketika saya salah, menanyakan kabar saya, memberitahu saya ketika rambut saya keluar T_T, mengajak saya bermain, mengerjakan latihan dan PR tepat waktu, sampai curhat tentang masalah-masalah pribadi mereka. Apalagi kalau ada alumni sekolah yang masih sering aja nyapa, ngajak ngobrol, bahkan mengingat perkataan-perkataan yang pernah terlontar di sekolah. Dan, akhirnya, kalau dipikir-pikir, saya lebih sering sumringah dan berbunga-bunga dibandingkan patah hatinya. Hahahahaha…

Merekalah yang sering menyunggingkan bulan sabit di bibir saya, entah itu karena senang ataupun masygul😀. Kadang saya merasa gagal, tapi mereka membuat saya terus memahami posisi saya sebagai manusia yang sangat biasa; yang boleh dianggap ataupun diabaikan, boleh didengarkan maupun ditinggalkan. Dan hal-hal itu yang justru membuat saya terus bertanya pada diri saya: apa yang salah? apa yang harus saya perbaiki? apakah saya terlalu kasar? Apakah metode ini tak cukup baik untuk digunakan? Apakah penjelasan saya sukar dipahami? Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya jadikan kaca diri untuk terus mengoreksi kepatutan saya dalam mengemban predikat sebagai guru.

Saya Lulu, dan saya guru yang amat jauh dari kata cakap. Saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai sosok yang layak untuk digugu dan ditiru. Namun, saya ibu guru yang bahagia karena mempunyai anak-anak yang amat manis dan luas hatinya. Untuk mereka yang teramat saya cintai itu, saya terus belajar bagaimana cara memantaskan diri agar sekurang-kurangnya, dapat diterima ketika saya memberikan pelajaran maupun nasihat kehidupan.

if-you-become-a-teacher-by-your-pupils-youll-be-taught-quote-1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s