Lelaki Itu (Episode Masa Kecil)

Lelaki itu menyimpan ketegasan, kewaspadaan, dan keteguhan di balik sorot matanya. Lelaki itu, bahkan, seringkali saya temukan tengah mengontrol tatapannya agar tak terlalu tajam. Saya tidak tahu, tapi pasti kehidupannyalah yang membentuknya seperti itu. Ketika sedang berdekatan dengannya, tak jarang saya merasakan pancaran aura super-saiya yang membuat saya menjadi sedikit kaku.

Lelaki itu, lelaki paling teratur sedunia. Ia punya presisi yang begitu akurat. Segalanya harus tertata dan terorganisasi. Jika ada satu hal yang bergeser dari standarnya, sorot matanya akan berubah. Bagi saya, seringkali ucapannya terdengar seperti “sabda”. Untuk mengabaikannya saya begitu takut, dan sebab itulah saya banyak mengingatnya.

Lelaki itu juga punya segunung kasih sayang dalam hatinya. Maka, meski dalam ketegasan, meski dalam kewaspadaan, meski dalam keteguhan, tak ada hal lain yang saya rasakan kecuali kasih sayang.

masa muda

masa muda

****

Bogor, 1990

Saya sudah menjadi siswa di TK Aisyiyah, Kedung Halang, Bogor. Dalam setiap pekan, akan ada hari ketika saya diantar oleh ayah ke TK dengan menggunakan vespa biru kesayangannya. Dan kau tahu, kan, deru vespa itu seperti apa? Rasanya membuat saya menjadi raja jalanan sementara waktu. Setiap kali naik vespa, ayah akan mewanti-wanti, “Pegang yang kencang, yaaa..!” Terkadang, saya juga ingin berdiri di depan. Ayah memang tidak selalu mengizinkan. Tapi, ketika diizinkan, persiapan saya akan menjadi maksimal. Selain berseragam sekolah, saya juga akan memakai kacamata hitam supaya mata saya tidak banyak terpapar angin.

Jika ayah punya kesempatan untuk menjemput saya pulang dari TK, ayah akan memberi tahu saya sejak pagi hari. Dan sampai sesiang apa pun, saya akan menunggunya. Sebab, ya, itu tadi. Naik vespa biru dengan deru yang membelah kota Bogor bersama lelaki yang paling saya cintai sedunia membuat saya merasa keren.

Raja Jalanan

Raja Jalanan

****

Bogor, 1991

Saya hampir-hampir menganggap shalat sunnah fajr adalah shalat fardhu karena ayah saya amat ketat terhadap shalat sunnah yang satu ini. Setiap kali waktu subuh tiba, ayah, saya, dan adik-adik punya ritual yang tidak terlupakan. Sehabis shalat sunnah fajr dan shalat subuh, ayah akan duduk bersila di atas sajadah. Dzikir. lamaaaaaaaaaaa sekali (perasaan saya waktu itu). Dan biasanya, saya tidak berani beranjak dari tempat saya sebagai makmum sebelum ayah pergi terlebih dahulu. Soalnya, kalau saya berani pergi duluan, saya bakal dengar suara, “Lulu mau kemana?”

Jiper, saudara-saudara.

Tidur setelah subuh adalah hal yang mewah alias dilarang keras. Maka, ayah akan segera mengajak kami keluar rumah untuk berlari-lari di atas kerikil tanpa menggunakan sepatu, kemudian ayah akan mengajak kami mencari kenari, berjalan di bawah rindang pohon di sepanjang Jalan Ahmad Yani, diiringi kicauan burung dan kepak sayap kelelawar. (Blog ini saya namakan “Pohon Kenari” sebab saya begitu mengenang jalan-jalan di pagi hari bersama ayah.)

Dari sana, ayah pun mengajak kami menyeberang jalan besar menuju GOR Pajajaran. GOR paling hits sekota Bogor yang bisa ditempuh dengan koprol dan jungkir balik beberapa kali dari depan rumah. Di GOR ini ayah akan mengajak kami berlari-lari kecil, bermain bola, bahkan push-up dan pull-up. Hal yang paling saya suka adalah ketika ayah menantang saya untuk loncat dan menggapai pucuk-pucuk daun (tentunya saya nggak akan pernah berhasil loncat setinggi itu.. -_-). Setelah berkali-kali mencoba dan gagal, ayah akan meminta saya untuk menginjak telapak tangannya dan mengangkat saya hingga saya berhasil menyentuh pucuk daun tersebut.

Tak lama, ayah akan mengajak kami menikmati kue pancong atau kue cubit yang dijual oleh kakek-kakek bertopi bundar yang seringkali mangkal di depan kolam renang “Mila Kencana”. Sayangnya, kami tidak diizinkan untuk beli kue yang setengah matang. Padahal, kata orang-orang rasanya enak banget.

Tiba di rumah, hidangan istimewa yang amat kami hindari telah tersedia, tersusun rapi di meja; susu murni berlemak rasa badan sapi, telur ayam kampung setengah matang yang hanya boleh dimakan dengan merica dan sedikit garam. Setelah itu, kami akan berbaris, menunggu giliran untuk dicekoki minyak ikan dan tablet kalsium “kalzana”. Kemudian, barulah kami diizinkan untuk menggeprek kenari di halaman belakang rumah.

Dulu, saya bertanya-tanya: kenapa sih main-mainnya harus langsung setelah subuh? sekarang saya mendapat jawabannya: karena subuh adalah satu-satunya waktu luang yang cukup senggang yang ayah punya untuk menemani saya bermain-main. Sebab setelah ayah pergi dari rumah, kedatangannya tak pernah bisa ditebak. Mungkin jauh setelah saya terlelap. Bahkan terkadang, ayah sudah tidak di rumah ketika saya membuka mata.

****

Bogor, 1992

Saya sedang menjadi siswa kelas 2 SD di Insan Kamil ketika ayah bilang saya akan mulai masuk pesantren untuk menghafal Al-Quran. Maka, saya pun resmi nyantri di Pesantren Shalahuddin di kawasan Ciomas, Bogor. Sebetulnya pesantren itu juga tak bisa disebut pesantren karena atmosfernya sangat “homy”. Guru-guru di sana seperti ibu dan bapak bagi saya. Dan itu artinya saya bisa menghabiskan waktu di sana dengan rasa bahagia.

Ayah tetap sering mengunjungi saya. Biasanya sepekan dua kali. Satu kali untuk menjenguk, satu kali lagi untuk menjemput saya berakhir pekan di rumah bersama keluarga. Ayah tidak pernah datang untuk berlama-lama. Mungkin sekitar lima belas menit bertemu, ayah kemudian kembali pergi. Setelah salam, mencium, dan memeluk ayah, saya melihat punggungnya yang perlahan hilang dibawa vespa biru. Setelah benar-benar tak terlihat, biasanya saya akan duduk sejenak di tempat ayah memarkir vespa birunya sambil mengenang hari-hari bersama ayah.

****

Depok, 1995

Saya kembali pindah sekolah. Kali ini ke SDIT Nurul Fikri di Depok. Saya tinggal di keluarga Ust. Aus Hidayat Nur dan Ibu Susanti. Hingga saat ini, saya menyebut mereka abi dan ummi. Sebab sejak saya mulai tinggal di sana, saya seperti menjadi bagian dari keluarga mereka.

Ayah yang mengantarkan saya ke Depok, dan berkata, “Insya Allah, di sekolah baru, Lulu akan mendapat kawan-kawan dan pendidikan yang lebih baik.” Rupanya, doa itu Allah kabulkan dan saya merasa bersekolah di sana adalah salah satu hal terbaik dalam hidup saya.

Sebelum ayah kembali ke Bogor, ayah menitipkan uang Rp1.000,00 yang dapat “digunakan jika perlu, jika tidak perlu sebaiknya ditabung.” Ayah juga bilang, setiap dua minggu, ayah akan menjemput saya untuk liburan ke Bogor. Saya pun jadi senang menghitung hari. Sebab setiap kali pulang ke Bogor, kami akan menaiki kereta api. Ayah akan membiarkan saya membeli tiket dan memberikannya kepada petugas kereta api untuk dibolongkan.

November 1986

November 1986

****

Epilog

Untuk Ayah

(Depok, 2001)

tidak ada yang terlupa

dari jalan yang berjajar pohon kenari

dan sudut-sudut taman topi

aku ingat saat itu masih pagi

sedang tanganmu menjadi pijakan kaki

saat kuberdiri

 

Nak,

apa yang kaulihat?

simbah peluh kaki-kaki siapakah

yang berlari dan terbang

ke langit dengan kucuran darah?

Berdoalah, agar kita menjelma mereka!

Ya, sejak kecil saya sering mengacak-acak lemari buku ayah, bertanya-tanya tentang sampul buku yang tengah saya lihat. Salah satu sampul yang paling berkesan adalah gambar anak-anak yang terperangkap perang. Buku itu berjudul Palestina, Nasibmu Kini. Saya pun mulai sering bertanya-tanya tentang anak-anak di Palestina. Dan ayah selalu menjawab pertanyaan saya seolah-olah saya bukanlah anak kecil yang tak perlu tahu situasi dunia. Ketika saya bertanya-tanya tentang itu, ayah juga memperkenalkan saya dengan nama-nama seperti: Bosnia, Herzegovina, Srebrenica, Afghanistan, Chechnya. “Anak-anak di sana sangat mencintai Allah, Rasulullah, dan Al-Quran,” kata ayah ketika itu.

Kemudian, ayah mengajarkan saya sebuah doa: Allahummanshur ikhwanunaa fii kulli makaan wa fii kulli zamaan.

****

Lelaki itu menyimpan ketegasan, kewaspadaan, dan keteguhan di matanya. Maka, di hadapannya saya “malas” untuk terlihat lemah. Lelaki itu menyimpan segunung kasih sayang dan cinta yang seluas samudera. Maka, di mana pun saya berada, setangkup doa, salam, peluk, dan cium senantiasa saya kirimkan kepadanya. Lelaki itu, saya sebut “ayah”.

Syafakallah, Ayah. Maaf, belum banyak bakti yang dapat saya beri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s