Cerita Zaman Seragam! (1)

Malam ini sungguh aneh karena ini sudah malam dan mata saya, sama sekali tidak mengantuk. Berkali-kali saya mencoba untuk tidur, sejumlah itu pula saya gagal🙂 Akhirnya, di kepala saya malah ada semacam kenangan yang mondar-mandir. Semacam nostalgia. Nostalgia yang sangat jauh ke masa-masa saya di sekolah.

Ketika sekolah, salah satu hal yang paling berkesan buat saya adalah guru. Ketika ayah saya memindahkan sekolah saya dari Bogor ke Depok, sebetulnya saya merasa sangat sedih sebab saya harus berpisah dengan ayah, bunda, dan adik-adik. Tapi, kesedihan saya tak betah tinggal lama-lama karena di sana saya bertemu dengan guru-guru yang amat luar biasa.

Wali kelas saya yang pertama di sekolah itu (Kelas V SD) adalah Pak Wawan Fahmy. Guru matematika paling tegas sekaligus paling lembut yang pernah saya kenal. Dulu, setiap kali Pak Wawan ngajar, yang selalu saya perhatikan adalah kumisnya, hahahaha… Pak Wawan senang pakai batik warna krem dengan motif cokelat tua, rambutnya selalu klimis, dan beliau senang tertawa. Saya beruntung sebab saya pernah melakukan kesalahan di kelas beliau sebab dengan begitu saya pun dinasihati. Kesalahan saya adalah saya makan di kelas ketika Pak Wawan sedang mencatat di papan tulis. Dua orang teman saya, sebut saja Umar dan Zidni (nama sebenarnya) melaporkan kelakuan saya:

“Pak, Lulu makan, Pak!”

Terus terang, jantung saya hampir copot karena ya ampun, masa sih baru masuk dan masih polos udah dilapor-laporin.

“Betul kamu makan?”

“Ya, Pak. Maaf,” saya menjawab singkat.

“Menurut kamu, itu baik atau tidak?”

“Nggak baik, Pak..”

“Coba dengarkan saya, idzaa lam tasy tahyi fasna maa syi ta. Jika kamu tak punya rasa malu, maka kerjakanlah semaumu.”

Saking membekasnya nasihat itu di hati saya, saya langsung hafal apa yang dikatakan oleh Pak Wawan. Dan sampai sekarang, nasihat itu masih sering saya putar di kepala.

***

Guru yang kedua adalah Pak Hermawan. Beliau hampir selalu memakai peci dan brewokan. Brewokan rapi, yaaa.. Pak Hermawan mengajar empat mata pelajaran, yaitu aqidah, qur’an hadits, fiqih, dan sejarah Islam. Yang paling tidak saya suka adalah fiqih, terutama bab zakat karena saya nggak mudeng-mudeng tentang cara penghitungannya. Tapi, saya akan menjadi sangat serius ketika pelajaran sejarah Islam.

Setiap kali pelajaran sejarah Islam, warna muka Pak Hermawan bisa berubah cepat sekali. Kadang-kadang gembira, terkadang emosional, dan beberapa kali beliau menangis. Menangis sampai beliau terdiam beberapa lama. Saya masih ingat, ketika itu Pak Hermawan sedang bercerita tentang perjalanan Rasulullah ke Thaif ditemani oleh Zaid bin Haritsah. Perjalanan Rasulullah ke Thaif, dipenuhi dengan makian, lemparan, kotoran, dan ludah para penduduk Thaif. Sampai-sampai Rasul yang mulia itu luka-luka, sementara Zaid bin Haritsah terus berusaha melindungi Rasul dari lemparan-lemparan batu. Sampai di sini, Pak Hermawan menangis.

Ketika itu, saya membayangkan seberapa besar rasa cinta Pak Hermawan kepada Rasulullah sehingga setiap kali beliau bercerita tentang Rasulullah, beliau menjadi begitu ekspresif. Ketika Pak Hermawan akan mengatakan doa yang dipanjatkan Rasulullah untuk penduduk Thaif, Pak Hermawan menunduk lama sekali, menahan-nahan tangisnya supaya tidak terlalu terdengar. Tapi saya mendengarnya, Pak. Dan tangisan Bapak kala itu, adalah juga pengingat bagi saya ketika saya seringkali lalai dalam mencintai Rasulullah.

***

Ketika saya sedang dipanggil oleh guru IPA saya, Pak Idris Azhar, saya datang tergesa-gesa hingga saya tidak melihat ada orang yang sedang shalat dhuha, sementara saya lewat di depannya. Ketika itu saya bertanya, “Ada apa, Pak?”

“Kamu sudah baca al-ma’tsurat pagi ini?”

Dalam hati, saya merasa heran dengan pertannyaan beliau. Saya kira, saya dipanggil karena nilai ulangan IPA saya yang jelek atau PR yang tidak saya kerjakan, atau baju saya yang kumel dan berantakan.

“Belum, Pak.”

“Kalau gitu, duduk dulu di sini. Nggak usah masuk kelas dulu. Baca yang keras, bapak dengarkan.”

Saya pun mulai melafalkan al-ma’tsurat dengan perasaan bingung karena biasanya, kami membaca al-ma’tsurat bersama-sama di kelas sebelum mulai belajar. Pak Idris, guru saya yang paling mirip engkoh-engkoh. Kulitnya putih, matanya sipit, badanya jangkung. Tapi yang paling khas adalah rambutnya yang tipis dan jakun lancipnya yang selalu aktif turun naik sesuai dengan intonasi suara ketika mengajar. hahaha… maaf ya, Pak!

Setelah selesai membaca al-ma’tsurat saya diminta untuk shalat dhuha. Setelah selesai, Pak Idris pun meminta saya duduk di depannya.

“Kalau ada orang yang sedang shalat, boleh nggak kita lewat di depan mereka?”

“Nggak boleh, Pak!” saya menjawab dengan mantap.

“Ya, betul. Saking tidak bolehnya, kalau ada orang yang lewat di depan kita ketika sedang shalat, kita boleh menghalangi orang tersebut dengan tangan kita supaya berhenti lewat. Sekarang kamu boleh masuk kelas lagi.”

Setelah itu, setiap kali saya masuk masjid, saya berusaha untuk berhati-hati, tidak lari-lari, supaya saya tidak lagi melewati orang yang shalat.

***

Ketika saya SMP, karena permasalahan saya semakin pelik alias nyerempet-nyerempet masalah pergaulan, perhatian yang saya terima pun berbeda.

“Lulu, lagi apa?” Tanya Pak Feri alias dari depan pintu kelas

“Lagi baca buku, Pak.”

“Kemarin saya liat Lulu lagi jalan sama teman-teman, tapi kayanya ada anak laki-lakinya juga ya, Lu?”

“Ah, masa sih, Pak?” *pura-pura dungu* “Jangan-jangan itu bukan saya…”

“Itu Lulu deh, kayanya. Emang lagi pada mau ngapain sih, Lu?”

“Iya, Pak. Itu saya. Kita punya klub menulis dan kemarin itu waktunya buat tuker-tukeran cerita. Jadi kita ngumpul bareng, Pak.”

“Oh gitu…itu nggak ada apa-apa, Lu?”

“Nggak ada apa-apa, Pak.” Jawab saya meyakinkan.

“Ke depannya juga nggak akan ada apa-apa, Lu?”

Aduh, hahaha… intinya, Pak Feri ini salah satu guru terkepo pada masa SMP saya, terutama masalah pergaulan. Makanya dulu pas ada cowok-cowok (aahem) yang ngasih kado ke saya, saya balikin lagi lewat Pak Feri. hahaha… Pak, makasih ya, Pak.. banyak mengingatkan saya tentang pergaulan. Dulu pas kuliah, pas saya keingetan banget sama Bapak, saya sampe menerjang lautan (ini lebay) supaya bisa nginep di Pesantren Asy-Syifa, Subang, ngeliatin Bapak bergaul lagi sama murid-murid.

***

To be continued.,,

Terima kasih untuk Bapak dan Ibu guru yang membimbing kami dengan sebaik-baiknya, yang senantiasa mau tau dan peduli terhadap aqidah dan akhlak kami, semoga Allah mengumpulkan Bapak dan Ibu guru di tempat terbaik di sisi-Nya. Pak, Bu, saya pun sekarang adalah seorang guru, yang katanya sepatutnya bisa digugu dan ditiru. Maafkanlah saya sebab saya belum bisa menjadi guru yang baik, yang layak diteladani seperti Bapak dan Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s