Ibu Paling Bahagia

Seperti biasa, pukul 07.30 pagi adalah waktu bagi saya untuk menyiapkan Fatih. Dan saat itu bisa dipastikan penuh dengan sahut-sahutan antara Fatih, yang masih istiqomah ngulet di tempat tidur sejak pagi atau lagi nungging-nungging nggak jelas, dan saya, yang sibuk bebenah diri buat ke sekolah.

DSCF2076 - Copy

Fatih, 9 hari. waktu omongannya masih sebatas a, e, o, dan u🙂

“Fatih, ayo cepetaaaaann… mama udah siap. Kamu mau ikut sekolah, nggak?”

“Hari ini aku nggak sekolah, deh. Aku cape.” Jawab Fatih tetap dalam posisi tidur.

“Ya nggak bisa Fatih. Mama kan juga harus sekolah.”

“Okelah, tapi aku sekolah di atas, ya! Aku sama momi loh, bukan di TK..”

“Sekarang di atas ulangan loh, Fatih. Kamu nggak boleh ikutan.”

“Aku mau ulangan.”

“Kalau mau ulangan harus bisa membaca dan menulis dulu. Memang Fatih bisa baca?”

“Belum. Tapi aku bisa nulis.”

“Nulis apa?”

“Nulis spiderman…”

“Itu bukan nulis, Fatih. Itu gambar. Ayo siap-siap mau ikut nggaaaakkkk?”

“Aku mau di atas aja!”

***

Begitulah ritual setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tawar-menawar yang sangat alot dengan anak kecil yang lagi banyak ngatur-ngatur ibunya. Meskipun ya, pada akhirnya selalu (harus) berangkat dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Selesai pintu rumah ditutup, saat-saat turun tangga pun selalu menjadi waktu yang penuh dengan obrolan.

“Momi, momi, inget ya aku belajarnya di atas…”

“Kamu mau apa di atas, Fatih?”

“Aku mau ulangan laahhh…”

“Ulangan apa? kan mama bilang harus bisa baca tulis dulu.”

“Aku bisa kok.”

“Ya, tapi bukan baca spiderman loh kalau ulangan…”

“Memang bukan. aku bisa baca bahasa indonesia, kok.”

“Memang bahasa indonesia apa, Fatih?”

“Bahasa indonesia itu ulangan. Nanti aku ulangan…”

Sampai sini, saya senyam-senyum sendiri. Membayangkan obrolan macam apalagi nanti yang akan terjadi sepanjang perjalanan dari rumah sampai sekolah. Yang pasti, Fatih doyan banget mengomentari orang yang dia lihat di jalan.

“Momi, jangan liat ya, ‘ammu itu nggak bagus, Momi, dia rokok! Nggak bagus kan? kan?”

“Momi, ‘ammu yang itu baik, looohhh… dia suka aku.”

“Momi, liat deh, ada polisi yang dua.. tiga.. (padahal ada empat). Momi nggak boleh nakal loh!” (apalah -_-)

Belum lagi kalau dia nemu kucing yang lagi nganggur mojok di sisi bangunan, atau nemu burung yang kebetulan lagi mendarat.Intinya, segala hal dia komentarin.

“Tunggu ya, Momi aku mau kejar supaya burungnya terbang!”

“Momi, itu kucing kenapa sih? dia sedih? dia laper? dia lagi nyari temen? dia lagi apa, momi?”

“Momi tau nggak, di sana (toko tas kulit), ada ular. ularnya ada dua, Momi jangan pegang, ya!”

Kalau komentarnya habis, Fatih bakal mulai nyanyi. Nyanyi apa aja, suka-suka dia. Dan sekarang,, Fatih lagi hobi banget nyanyi lagu “Indonesia Raya”. Setiap kali nyanyi, tangannya harus posisi hormat. Lebih repot lagi kalau di rumah karena dia bakalan sibuk membariskan mobil-mobilan dan hewan-hewanannya buat ikutan hormat.

Dan ada satu hal yang hampir selalu setiap sekian jam satu kali, bakal diulang-ulang terus sama Fatih: cerita tentang rencananya dia yang bakalan naik pesawat.

“Momi tau pesawat? pesawat itu besar loh, dia bisa teeeeeerrrr….bang. Aku nanti mau naik pesawat loh bulan Juni. Momi ikut kan? aku mau ketemu baba, aki, nini, om, tante, temen-temen aku semua di Indonesia, di Bogor, di semuanya. Aku pergi bulang Juni loh, Momi… bulan Juni yang bintang! Momi mau bulan Juni apa bintang Juni? Kalau aku bulan Juni yang bintang..” -_-

****

Fatih, bicaralah tentang apa pun, sepanjang apa pun. Sebab suatu ketika, akan ada suatu masa ketika kau akan kesulitan untuk mengungkapkan hal-hal yang ada di benak kamu. Kesedihan dan kegembiraan akan menjadi rahasia bagimu. Kau mungkin akan berbagi perasaan, tapi sedikit. Jika saat itu tiba, pertimbangkanlah ibumu: yang pasti akan menjadi orang paling bahagia saat menjadi tempat bagimu untuk bercerita, meski itu adalah cerita sederhana yang sangat tidak penting, sebab hal sederhana seringkali menjadi hal paling berharga.

 

2 thoughts on “Ibu Paling Bahagia

    • Alhamdulillah Mbak, Fatih sudah 2,9 bulan. Ngocehnya banyak dan harus dijawab supaya hatinya nggak perih😀
      Bulan Juni yang bintang itu kayanya semacam keadilan gitu deh karena yang dia tau pasangan bulan itu kan bintang. soalnya konsep bulan yang dia pahamin baru bulan yang di langit aja, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s