What is Your Motivation to Join this Class?

Saya tidak terlalu tahu apa yang menyebabkan saya memilih untuk mengikuti kelas Academic Writing. Ya, dua pekan terakhir ini saya mulai kursus bahasa Inggris di daerah Agouza. Hari pertama saya merasa begitu bodoh dan bertanya-tanya, jangan-jangan gue milih kelas yang salah nih. Sebab sesuai dengan namanya, ‘Academic Writing’, tentu saja di kelas ini saya akan belajar tentang ragam dan laras penulisan formal; bagaimana menulis laporan, esai, membaca dan menganalisis diagram, membuat personal statement, mencari padanan kata yang lebih formal untuk dituangkan dalam sebuah penulisan akademik, dan lainnya.

Maka, saya pun menarik nafas panjang saat orang-orang mulai menyebutkan alasan mereka belajar academic writing.

DSC_0002 - Copy

“Saya sudah menyelesaikan Phd saya di London, tapi saya masih kesulitan dalam membuat laporan penelitian sebab di sini saya sudah jarang menulis untuk jurnal akademik dalam bahasa Inggris.”

“Beberapa bulan lagi saya akan ke Kanada untuk menyelesaikan Phd saya. Saya harus mulai membiasakan diri menulis laporan dalam bahasa Inggris.”

“Setiap kali saya apply beasiswa, saya merasa selalu kurang tepat dalam membuat personal statement.”

“Saya akan melanjutkan kuliah di Inggris dan saya harus membiasakan diri dengan ragam penulisan akademik.”

Dan masih banyak alasan lainnya. Tentu saja saya tidak termasuk orang yang berbicara di kelas sebab bagi saya, harus berkomunikasi secara verbal dalam bahasa asing adalah salah satu ujian kehidupan. Saya pun mulai menulis di kertas yang diberikan oleh pengampu di kelas saya, Miss Hannah Shackleton.

Saya menghapus alasan yang saya tulis berkali-kali. Sebab, alasan saya sama sekali tidak akademik. Namun, akhirnya saya memang menuliskan alasan yang apa adanya. Alasan yang sama sekali tidak akademik, tapi memang itu motivasi utama saya.

Saat ini saya adalah seorang ibu yang juga bekerja sebagai guru. Sebagai guru, saya harus selalu belajar agar saya dapat memberikan hal-hal baru dan baik bagi murid-murid saya. Sementara, sebagai ibu, jika saya mampu saya ingin memastikan bahwa anak saya mempunyai ibu yang selalu dapat dijadikan tempat bertanya tentang apa pun karena itulah saya harus selalu meningkatkan kapasitas diri saya. 

Pada masa mendatang, saya membayangkan diri saya adalah seorang ibu rumah tangga yang menyibukkan diri dengan keluarga sambil sesekali melihat layar komputer untuk mengisi blog pribadinya dengan menggunakan bahasa Inggris.

Gimana, gimana? Ah, ya, saya tahu alasan saya cukup konyol. Terutama di bagian akhir. Secara jujur, barangkali saya salah memilih kelas, tapi juga tidak benar-benar salah. Sebab, dalam hal penulisan, formal atau nonformal sama-sama harus mempunyai urutan yang sistematis; sama-sama harus meletakkan tanda baca yang pas; sama-sama harus koheren, dan sebagainya. Di kelas ini saya hanya perlu belajar lebih keras dan membaca buku pengetahuan lebih banyak lagi supaya kosakata bahasa Inggris formal saya lebih kaya.

Setelah saya mengikuti beberapa pertemuan, saya pun merasa bersyukur. Ternyata, kelas ini benar-benar menjadikan saya sebagai sosok yang saya rindukan: Lulu, siswa yang tidak tahu apa-apa. Jika sebagai guru saya banyak berbicara dan menjawab pertanyaan. Kini, saya kembali diam, menikmati asupan-asupan baru, kemudian pertanyaan dan kesadaran datang silih berganti untuk memperkaya wawasan, dan di rumah, saya kembali membuka buku dan internet; bukan untuk menikmati tulisan-tulisan tapi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan memperkaya gagasan. Maka, tanpa saya sadari motivasi saya dalam mengikuti kelas ini pun bertambah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s