Terima Kasih, Tuan Guru!

Terima kasih. Ucapan yang amat singkat tetapi mempunyai efek magis yang dapat menyunggingkan senyum di setiap wajah.

Hari itu adalah hari pembagian rapor. Seorang wali murid tengah menunggu gilirannya untuk saya panggil dan menerima rapor anaknya. Namun, saya memilih untuk tidak memanggilnya. Saya mendatanginya sambil menyerahkan rapor anaknya. “Alhamdulillah, anak ibu mengalami banyak perkembangan di berbagai sisi.”

“Bagaimana anak saya, Tuan guru?” tanyanya.

“Anak ibu luar biasa. Saya senang sekali bisa sering bertemu dengan anak ibu di sekolah.”

Ia berdiri tepat di depan teman-temannya. memperhatikan saat saya mengambil foto. Tapi ia tidak mau ikut difoto. curang :p

Ia berdiri tepat di depan teman-temannya; memperhatikan saat saya mengambil foto. Tapi ia tidak mau ikut difoto. Curang :p

Kemudian kami berbicara tentang perkembangan-perkembangan anaknya (sebut saja namanya Fulan): tentang bibir mungilnya yang mulai tersenyum dan kemampuannya untuk menanggapi obrolan teman-temannya. Tentang kemauan kerasnya untuk mengendalikan tangannya saat ia marah. Tentang keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Tentang semangatnya dalam belajar dan peningkatan tingkat pemahaman terhadap hal-hal yang diajarkan.

Ketika saya membicarakan hal-hal tersebut, pikiran saya berputar ke permulaan interaksi saya dengan Fulan yang sangat pasif. Ia tidak akan bicara kecuali sedikit. Itu pun sambil menunduk dan dengan volume yang sangat rendah sehingga saya harus selalu mendekatkan telinga saya ke wajahnya. Jika ia marah, ia akan melempar segala benda yang ada di dekatnya sambil berteriak atau menangis. Ketika ia merasa payah dalam belajar, matanya akan berkabut, sementara tanggannya menggenggam pensil sekuat-kuatnya, lalu ia akan menenggelamkan wajahnya di buku tulis. Ia memilih untuk bermain sendiri saat istirahat, dan saat merasa terganggu, ia tidak akan ragu untuk memukul dan menendang.

Hingga akhirnya saya memanggil orangtua Fulan dan berbicara tentang perilaku anaknya di sekolah sambil saya terus bertanya tentang sikapnya di rumah. Dari sinilah komunikasi kami terjalin dan terus merancang hal-hal yang dapat membantu perkembangan anaknya, baik di rumah dan di sekolah.

Ternyata hasilnya di luar dugaan. Sangat di luar dugaan sampai-sampai saya hampir selalu memujinya setiap kali kelas usai. Saya ingin orangtuanya tahu akan hal ini dan menjadikan mereka bangga akan anaknya. Maka saya menceritakannya dengan bersemangat.

Saya melihat air yang tergenang di mata ibu A, sementara senyumnya terus mengembang saat mendengarkan saya bercerita.

“Terima kasih, Tuan guru, terima kasih, terima kasih.” Ujarnya berulang-ulang.

Saya tidak tahu apa yang terkandung dalam ucapan terima kasihnya. Sudah lama saya tidak mendengar ucapan terima kasih yang demikian magis hingga membuat hati saya begitu gerimis. Padahal, sayalah yang seharusnya berterima kasih sebab diizinkan untuk belajar dari sosok mungil tentang semangat dan ketekunan dalam menjadi pribadi yang lebih baik.

Terima kasih, Fulan!🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s