Memilih Cantik

Sepi tengah menggelayuti matanya saat saya mengajaknya berbicara. “Kamu sedang sedih? Kenapa nggak ikut bermain dengan kawan-kawan?”

“Ya, Bu. Aku kadang-kadang kesepian.” Jawabnya.

“Kenapa? Kok kemarin-kemarin ibu masih lihat kamu main-main sama kawan-kawan.” Pancing saya. Kali ini sambil menuntun tangannya untuk memasuki ruangan yang sepi agar saya bisa bicara lebih lanjut dengannya.

“Ada temanku yang bilang aku bau dan gendut.” Kali ini matanya memerah.

muslimah

“Wah, kalau kamu dibilang gendut, terus ibu ini apa? masa raksasa?” saya berusaha untuk menghiburnya. “Mana yang lebih penting untuk kita sebagai perempuan, otak yang pintar atau badan yang kurus?”

“Badan yang kurus. Supaya teman-teman suka.”

Ia dan teman-temannya memang tengah memasuki masa awal pubertas. Atau barangkali mereka mulai menyerap konstruksi kecantikan yang berkembang di dunia ini: unyu-unyu, badan kurus, kaki jenjang, kulit putih mulus, dan lainnya.

“Ada tiga hal yang akan dilihat oleh teman-teman dari kita. Otak, perilaku, dan fisik. Di antara tiga hal ini yang paling Allah sukai adalah akhlak yang baik dan otak yang digunakan untuk berpikir sehingga kita menjadi pintar. Kalau akhlak kita jelek dan kita nggak suka mencari ilmu, Allah bakal sedih.” Ujar saya. “Badan memang penting, tapi badan yang sehat, bukan badan yang kurus. ya?”

Kemudian, saya mengajaknya berbicara tentang pubertas. Hal-hal apa yang akan dialami oleh seorang perempuan ketika itu. Dari mulai perubahan fisik, perasaan yang lebih sensitif, keinginan untuk dianggap berwajah cantik, dan keharusan untuk menutup aurat. Saya juga mengajaknya bicara tentang sentuhan-sentuhan terlarang dari orang lain, terutama dari lawan jenis.

“Kalau pintar dan berakhlak baik, kamu akan semakin cantik.”

Di akhir pembicaraan saya menekankan bahwa kita harus percaya diri dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Bahwa dalam hidup ada hal-hal yang dapat kita pilih ada juga yang hanya bisa diterima. Tubuh adalah hal yang harus kita terima, lebih dan kurangnya. Sedangkan akhlak dan ilmu adalah hal yang dapat kita pilih. Allah suka jika kita memilih untuk berakhlak baik dan juga rajin dalam menuntut ilmu.

“Jangan merasa kesepian lagi, ya, karena ibu senang sekali kalau dipilih jadi teman ngobrol kamu.”

Ia tersenyum dan mulai bercerita tentang hal yang menyenangkan hatinya.

***

blog

P.e.r.e.m.p.u.a.n. Ada yang mengejanya dengan bangga, dan juga yang kecewa. Dulu, saya termasuk golongan yang kedua. Saya pernah mengalami fase ketakberterimaan saya terhadap hal ini. Saya menangis ketika mendapat haid yang pertama, gagap dalam menghadapi perubahan-perubahan fisik yang terjadi, dan sempat menyakiti diri. Lahir dan batin. Adagium yang sering kita dengar adalah tidak ada asap tanpa api. Tentunya ada hal yang mendasari ketakberterimaan saya dan rata-rata itu karena saya mendapatkan ucapan dan perilaku tak nyaman dari orang lain. Tapi hal itu sudah lewat dan ternyata memang takdir Allah begitu indah dengan menjadikan saya sebagai seorang perempuan yang seperti ini adanya.

Stigma gemuk, hitam, tembam, pesek, entah mengapa mudah sekali menjadi masalah ketika dilekatkan dengan kondisi fisik seorang perempuan. Saya pernah mendengar seseorang berbicara, “Aduh, lihat deh betisnya mirip talas dikarungin.” atau “Elo shading-nya salah, itu masih kelihatan tembam dan pesek. Sini gue tirusin.” “Jadi anak perempuan nggak boleh gemuk-gemuk.” Dan setiap hari gadis-gadis mungil di penjuru dunia dicekoki film-film princess oleh orangtua dan komunitas mereka. Sehingga, konsep cantik yang tertanam dalam benak mereka adalah kecantikan ala princess.

Sayang sekali jika perempuan dibentuk untuk fokus terhadap cantik yang demikian. Cantik yang bersifat materi, terlihat, bukan terpantul, sehingga melahirkan kepribadian materialistis. Mengukur segala bentuk keberhasilan dengan capaian materi. Padahal, cantik yang sebaik-baiknya adalah pantulan dari kebaikan akhlak, keterpakaian akal pikiran, dan juga ketelatenan dalam menghargai tubuh. Didiklah anak perempuan dengan sebaik-baiknya sebab dari rahim mereka akan terlahir para pengukir zaman. Perempuan adalah sekolah pertama bagi setiap nyawa, maka muliakanlah agar mereka mampu membentuk generasi mulia yang sanggup berdiri setegar karang, meski arus zaman semakin garang.

 

Sumber gambar: di sini

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s