Kisah Sepatu dan Bulan Juni

“Cinta itu memang seperti udara, kita tidak bisa melihatnya, tapi kita bisa merasakannya. Sejuk. Juga mengisi memenuhi rongga paru-paru kehidupan kita. Lalu memberikan semangat dan makna kehidupan yang lebih berarti. Ia jauh, tak tersentuh, tetapi terasa kuat, betul-betul kuat, terasa dekat, sangat dekat.” (Atjeng, suaminya Lulu)

cats

Ehm (betul-betul berdehem), ceritanya akhir-akhir ini saya sedang suka membuka file-file lama. Dan begitu ya, setiap kali kita mencoba melipat waktu, bernostalgia, mengingat-ngingat hal-hal lewat, selalu ada aja keharuan yang tiba-tiba menyergap. Salah satu tulisan-tulisan yang saya baca adalah surat-surat dari Kak Atjeng. Ya, sebelum menikah kami memang belum pernah saling lihat. Kami ini pasangan maya yang hanya bertemu lewat huruf dan tanda baca.

Namun, cerita kehidupan jarang sekali dapat kita terka: saya jatuh cinta pada lelaki yang sosoknya hanya dapat saya kira. Pada akhirnya, Allah yang Mahabaik itu mempertemukan kami di Bandara Soekarno Hatta. Ada rasa yang aneh saat pertama kali bertemu raga. Tapi, bagi saya ia sudah seperti kawan dekat. Maka, kami pun berbagi cerita dan bertukar tawa tanpa rasa kikuk meskipun barangkali ia tidak tahu kalau saya sedang menata hati setengah mati supaya jangan sampai terlihat grogi. Hahahaha…

Keluarga Kak Atjeng yang menjemput mengajak saya istirahat sebentar di warung bakso. Selama menunggu pesanan saya izin ke kamar mandi–padahal aslinya saya sekalian mau duduk di mushala supaya nggak perlu ngobrol lebih lama😀. Ketika saya keluar, sepatu abu-abu saya tidak ada. Hanya ada sepasang sepatu yang tersisa, itu pun berwarna merah. Saya segera paham bahwa sepatu itu baru saja saya lihat dua jam lalu. “Tukeran dulu, ya! Supaya saya ada alasan buat ke rumah Lulu.” Dan alasannya sesederhana itu.

Setelah makan, saya segera pamit untuk pulang. Kak Atjeng memaksa untuk mengantar saya ke Bogor. Tapi, saya bersikeras untuk diturunkan di stasiun dan melanjutkan perjalanan dari Jakarta ke Bogor dengan kereta. Saya harus bersegera sebab saya ada janji untuk menemani bunda belanja.

“Eh, kamu pakai sepatu siapa, Lu?” Tanya bunda saya. Saya hanya menjawab dengan nyengir nggak jelas. Bunda itu perempuan keren, ia pasti sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat cengiran saya. “Gitu, ya. Padahal kata bunda kan kamu nggak perlu ke bandara.”

Sepatu merah dan sepatu abu-abu yang bertukar pemilik pada April 2008, duduk bersisian di rak sepatu yang sama pada Juni 2008. Saya bersyukur bahwa perasaan yang merajai hati saya bermuara di tempat yang baik: pernikahan. Bagi saya, pernikahan adalah proses untuk memaripurnakan diri: belajar untuk mengembangkan sayap perlahan-lahan supaya bisa mengelilingi ceruk-ceruk dunia dan mendaratkan diri di surga kelak.

2221

Pernikahan, Allah katakan sebagai mitsaqan ghaliza atau perjanjian yang mahakokoh dan mahaberat. Maka ia adalah hal yang patut diperjuangkan dengan cara meredam ego, menumbuhkan sikap legawa, menerima ketidaksempurnakan, serta memperbanyak syukur, sabar, doa, dan ibadah. Cinta, selamat menyambut Juni keenam!

 

5 thoughts on “Kisah Sepatu dan Bulan Juni

  1. Baarokallaahu fiik ka Lulu. Semoga makin mengekal sampai ke surga..🙂
    Jadi awal kenalnya lewat tulisan ya ka? Masya Allah ya, kadang tulisan bukan hanya menghujam di hati, bahkan penulisnya punya tempat sendiri di hati yang baca.
    Ternyata mirip banget yah sama Isma, perkenalkan saya temen sekelasnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s