The More We…… The Happier Will Be

Saya memang nggak terbiasa megang dapur sendirian. Bawaannya grogi; takut kurang asin lah, gosong, nggak enak, dan berbagai ketakutan lainnya yang sebenarnya hanya alasan saya aja supaya nggak ditinggalin di dapur sendirian. hahaha… Tapi betul loh, Kak Aceng jauh lebih pintar masak dibanding saya. Saking jauhnya, kadang saya suka diikhlasin aja minggat dari dapur supaya nggak memperlama proses masaknya. Nah, hari ini saya merasa sangat keren karena melewati hari dengan senyum kemenangan.

Ceritanya pagi-pagi sekali Kak Aceng pamit, “Cin, saya pergi dulu, yaaa..”

“Oke. Hati-hati. Cin, di dapur ada makanan apa ya?” tanya saya.

“Kemarin kan saya bikin cumi-cumi sama sambel terong . Jangan lupa sarapan.”

Saya pun mengheningkan cipta. Tiba-tiba bayangan peristiwa tadi malam bermunculan: seorang wanita makan malam dengan porsi ‘khilaf’ sehingga tanpa disangka ia menghabiskan cumi-cumi yang tersedia. Siapakah wanita tersebut? hanya Tuhan dan tukang bajaj yang tahu.

cats

Okelah, ini waktunya buat saya untuk menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad untuk mengabdikan diri di dunia perdapuran. Akhirnya saya memutuskan untuk masak sop daging sekalian buat Fatih. Di sinilah terjadi insiden yang nggak akan saya lupa seumur hidup. Pas mencampur sedikit air sop ke wajan berisi tumisan bawang putih, tiba-tiba muncul api macam di warung makan Cina (bahasa kerennya Flambe). Apinya besar dan saya tiba-tiba keingetan lagi peristiwa tahun lalu: dapur yang hampir terbakar karena gimana caranya tiba-tiba api masuk ke dalam minyak😦. Duh Gusti! batin saya sambil H2C. Alhamdulillah apinya padam.

Intinya, setelah menakar bumbu sedemikian rupa dengan bolak-balik nyicip kuahnya, akhirnya saya menarik napas lega: sop daging ini layak dimakan!

Di sela-sela proses masak sop, Fatih yang baru bangun tidur dateng sambil ngucek-ngucek mata. Pas matanya agak terang, dengan cekatan ia menunjuk ke arah pisang. eaaaa sodara-sodara mamanya Fatih kudu bikin pisang-susu-cokelat-keju dulu buat sarapan Fatih. Ternyata Fatih makannya lahap.

Menjelang zuhur, saya kembali masuk dapur buat bikin cemilannya Fatih. Saya bikin bola-bola ubi goreng yang lumayan ngingetin ke tukang gorengan yang suka mangkal di pinggir Stasiun Cilebut. Apa kabarnya ya tu abang?

Dunia masak-memasak berhenti sejenak karena saya harus ngajak Fatih jalan-jalan keluar. Saya memutuskan untuk jalan-jalan ke sekolah sekalian ambil rapor anak-anak yang siap diisi. Sepanjang jalan, tangannya Fatih melambai-lambai menyapa semua orang macam Miss World yang lagi naik panggung. Lahhh… saya yang grogi lah karena gimana pun kan saya juga harus ikut tengak-tengok ngebalesin senyum orang-orang di jalan yang kebanyakan adalah lelakih. Di tengah jalan ada tukang isy (roti gandum, makanan pokok orang Mesir) lagi main bola sama anak kecil. Secara otomatis Fatih berhenti, nunjuk-nunjuk bola. Okelah kita nongkrong-nongkrong cantik dulu sebentar demi anak bahagia.

Waktu berlalu dan aku termangu.. ish apa sih. Singkat cerita, Fatih ngamuk nggak mau pulang. Maunya main bola di luar atau main sama kucing di kolong mobil. Ya sudah, saya tinggal aja Fatih di luar pagar sampai dia sadar mamanya nggak di sana lagi. Fatih mulai memanggil saya sambil masuk pagar, “Mama.. mama.. mama.. sini..” Saya diam dan Fatih mulai menangis. Saat itulah saya muncul bak ibu peri dengan senyum berseri. Saya peluk sambil diberi pengertian supaya jangan lama-lama main di luar.

Di rumah, Fatih tidur. Saya kembali masuk dapur. Tiba-tiba saya punya harapan sederhana bikin kejutan buat Kak Aceng. Hahaha.. Saya pun mulai merebus telur  ayam kampung, mengolah daging, menggoreng ikan teri, dan bikin sambel. Saya mau bikin telur balado gitu deh. Bau harum menyeruak dan saya bahagia dengan apa yang saya lakukan pada hari ini.

Sebelum magrib, Fatih bangun. Saya ajak dia mengangkat jemuran dan menjemur cucian. Fatih punya tempat menjemur sendiri dan dia paham barang yang bisa dia jemur: kaos kaki semua orang dan baju-baju milik dia. Nah, kalau dia salah ambil, bakal langsung disimpan di lantai balkon yang pastinya bikin cucian jadi kotor lagi😀😀 Sambil jemur, sambil ngoceh setiap kali dengar suara pesawat dan suara kaki kuda, “ssuuut,,, tuh tuh.. suuut…” sambil telunjuknya ditaro di mulut supaya kita nggak ribut. Lahhh,, yang ribut dia sendiri padahal hahahaha..

Kak Aceng tiba di rumah setelah azan isya selesai berkumandang, “Harum banget. Masak apa Cin?”

“Telur”

“Kok harum?”

“iyalah, kan saya yang masak.”

Kak Aceng mulai makan dengan porsi lengkap: sop, daging, telur-ikan teri balado dengan lahap dan sumringah. “Wah, ini enak banget Cin!”

“Apaan, orang biasa aja…” ujar saya merendah untuk menaikkan mutu. hahaha…mencoba rendah hati padahal hidung udah kembang-kempis nggak keruan sampai nambah diameternya.

P.S.: Orang bilang no pic=HOAX, tapi percayalah semua makanan itu sudah habis sebelum tombol kamera ditekan.

—-

Bahagia itu ternyata datang dari arah mana saja yang kita mau tanpa perlu berpikir panjang tentang ‘apa ya yang bisa bikin saya bahagia’. Bahagia, barangkali, hanya sekadar persoalan memutar sudut pandang kita tentang banyak hal yang selama ini terlewati dengan percuma dan tanpa rasa, atas nama rutinitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s