Bertualang ke Lembah Warna

Fatih Dipanagara, jika suatu ketika kaurasakan bahwa dirimu terlalu lelah berhadapan dengan rutinitas, lakukanlah perjalanan. Perjalanan akan membawa kita ke alam baru yang memperkaya batin hingga kita menyadari bahwa dunia ini begitu luas: janganlah bersempit hati. Dunia ini tidak berujung: janganlah berkerdil jiwa. Setiap lekuk bumi menawarkan perbedaan dan itulah yang membuat bumi ini begitu harmonis, indah untuk dipandang, dijelajahi, dan dipelajari.

Image

Perjalanan menuju Colored Canyon dari kawasan Sharm el-Sheikh. Sejauh mata memandang, hanya bukit, pasir, dan jalan. Namun, wilayah ini dikelilingi oleh Laut Merah

 Dalam perjalanan, Fatih, kita pasti menemukan hal baru,hal aneh, hal diluar dugaan dan pengetahuan kita. Simpanlah hal-hal tersebut di dalam saku bajumu sebagai bekal hidup. Sewaktu kau perlu, tengoklah sebagai pengingat bagi dirimu.

Image

Fatih, bunga sesederhana apa pun yang tumbuh di tempat gersang akan selalu terlihat indah bagi sesiapa yang memandang. Maka, jadilah dirimu sebaik-baiknya di tengah dunia yang kautahu, semakin tak ramah.

Nak, perjalanan akan memperlihatkan bahwa manusia diciptakan berbeda oleh-Nya. Jika dalam perjalananmu kautemukan orang-orang yang disebut sebagai bedouin, badui, atau suku pedalaman, belajarlah dari mereka tentang cara menghargai alam. Jangan katakan mereka sebagai orang terasing yang jauh dari peradaban karena merekalah para penjaga bumi. Di mata mereka takkan kautemukan keinginan untuk mengisi perut mereka lebih dari apa yang dibutuhkan.

Image

Para tetua dan anak-anak bedouin. Kau lihat batu batu besar itu, Nak? Di dalam batu itulah meraka tinggal, berteduh dari sengatan panas padang pasir.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, kita pun tiba di Lembah Sa’lan atau Colored Canyon yang berada di Sinai Selatan, berjarak sekitar 700 km dari Cairo. Nak, tempat ini disebut Colored Canyon karena lembah ini berwarna-warni, umumnya berwarna merah. Pemandu wisata mengatakan bahwa ribuan tahun lalu, tempat ini juga merupakan lautan. Beriring dengan proses alamiah, bagian yang dahulu merupakan lautan ini pun kini menjadi lembah dan padang batu. Demikianlah keagungan dan kekuasaan Allah, Sang Kreator Alam Semesta. Berada di tempat ini, sunggung serasa berada di bagian bumi yang sangat asing: hanya ada lembah, karang dan bebatuan yang terhampar dan menjulang-julang, tak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Sunyi dan sepi. Untunglah kita pergi ke sana saat musim dingin. Udaranya tidak terlalu panas.

Image

Mulai dari sini, kita akan menyusuri lembah dengan bantuan seorang penunjuk jalan yang merupakan orang bedouin

Di sinilah kita memulai petualangan yang sesungguhnya, Nak. Menyusuri jalan setapak, naik turun dan terjal, melewati jurang kecil dan ngarai. Kata pemandu kita, dulu jurang tersebut merupakan palung. “Ini jalur ikan hiu,” katanya. Memang, jurang tersebut lebih tampak sebagai bekas jalur air.

Image

Fatih, lihat, kau dan mamamu telah siap menyusuri ‘jalur ikan hiu’ yang curam dan sempit

Sekitar dua jam kita menyusuri jurang yang curam itu. Medan tempuhnya cukup berat, karena harus menuruni turunan yang tinggi dan melewati celah yang sangat sempit. Apalagi ketika mama dan baba harus bergantian menggendong kamu, Nak. Sekitar dua kali kita berhenti untuk meluruskan kaki.

Image

Beristirahat sejenak, memenuhi hakmu untuk disusui. Di sini tidak ada tanda-tanda kehidupan kecuali pohon-pohon kecil yang berguna untuk penawar racun ular yang hidup di lembah ini.

Meski terlihat gersang, namun jurang berbatu itu tetap memiliki pesona keindahan tiada banding. Inilah hebatnya Allah. Ia yang Maha Indah tetap menyisipkan keindahan di tengah alam yang kondisi tipografinya hanya bebatuan itu. Lelah perjalanan dan curamnya medan tak terasa oleh sebab kita dibuai oleh keindahan pemandangan dan keajaiban fenomena alam di sepanjang jalan yang kita lewati. Hingga tiba jugalah kita di akhir lembah yang wajahnya lebih luas dan datar. Sebuah pohon rindang berdiri, menyapa, menawarkan keteduhan. Di bawahnya ada saung orang bedouin, Mereka menyambut kita dan membuatkan teh dengan aroma yang khas.

Image

Nak, di sinilah akhir dari penelusuran lembah dan akhir dari perjumpaan kita dengan orang bedouin.

Dari Lembah Sa’lan kita pun kembali, untuk beristirahat dan menyambut hari-hari baru dengan rasa syukur tak berujung atas segala nikmat Allah yang tak terhitung.

Image

Nak, inilah Laut Merah yang memisahkan Mesir dengan Saudi Arabia. Kita berdiri di tanah Mesir, dan di belakang kita terlihat perbukitan yang berada di wilayah Saudi Arabia.

2 thoughts on “Bertualang ke Lembah Warna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s