Hujan di mana-mana

Cairo hujan deras berhari-hari!!! (biasa aja, dong.. hujang doang..) Kagak dul, masalahnya ini bukan perkara biasa. Ini perkara luar biasa sampe-sampe saya pun harus memberitakannya dengan tiga buah tanda seru. Biasanya, hujan yang turun di Cairo bisa diibaratkan seperti tatapan lelaki salih kepada pujaan hatinya, hanya selewatan lepas itu nunduk lagi. hahaha… Ya gitu dah, biasanya hujannya hanya gerimis, beberapa saat, dan kita nggak perlu buka-buka payung. Tapi beberapa hari ini, hujan terus-menerus mengguyur Cairo, hingga puncaknya Jumat kemarin.

Gembirakah saya? Jelasssssh pakai “shadd”. Saya super gembira karena hujan selalu mengingatkan saya kepada kampung halaman saya; Bogor. Kota hujan, kota yang mengudar aroma tanah basah di setiap sudutnya. Hujan selalu memberi ruang bagi saya untuk bernostalgia tentang banyak hal. Maka saya akan diam di balik kaca jendela yang sedikit terbuka, membuka kembali kenangan dan menikmati episode hidup yang telah lalu.

Hujan kali ini rupanya diiringi dengan salju, meskipun kawasan Dokki tempat saya tinggal hanya terimbas dinginnya saja. Salju di bilangan Cairo-Giza hanya turun di beberapa wilayah, seperti di Rehab,Ma3adi, Helwan, Madinaty, dan Madinat Shourouq. Namun, sepanjang sejarahnya, inilah kali pertama Cairo disapa oleh salju (sumber foto: Shorouknews.com). Makanya, koran-koran pada heboh deh mengangkat fenomena ini sebagai berita utama.

Image

Nah, kalau saya denger kata tentang salju, seperti kebanyakan orang tropis lainnya, saya bakal bilang, “Mau dong lihat saljuuuuu..” hahaha… Liburan ini saya pengen banget ke Maroko, ke Pegunungan Atlas, lihat salju : D sekurang-kurangnya ke Marakkesh dah, salah satu kota yang namanya melekat banget di kepala saya gara-gara pas SD suka nontonin seri Jejak Rasul. Tapi Kak Aceng tipe bapak yang overprotective. Katanya, “Kasian Fatih kalau ke daerah bersalju kecil-kecil harus merasa kedinginan.” Laaahhh padahal kan kasih sayang seorang ibu itu bakalan menghangatkan udara sedingin apa pun (mode: ketawa jumawa). Ah, sudahlah.

Balik lagi ke Cairo dan hujan yang tidak biasa itu, suhu di Cairo pun menjadi tidak biasa. Sekarang memang sedang musim dingin, tapi musim dinginnya nggak biasa deh, ini dingin banget iniii… sampe 4 derajat, bahkan real feel-nya itu 1 derajat. Nah, kalau udah gini, mau nggak mau suka nggak suka, saya pun harus ngumpet di ketek laki  beli daffaya alias penghangat ruangan. Diperkirakan, dingin model begini bakalan bertahan sampai dua hari ke depan. Kemudian, hujan yang nggak biasa ini juga ternyata menciptakan genangan-genangan air raksasa di jalanan. Bisa dimaklumi ya, karena Cairo tidak punya gorong-gorong atau pun sistem drainase yang sanggup menampung air hujan yang cukup banyak ini.

 

4 thoughts on “Hujan di mana-mana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s