Terminal Terakhir

“[…]Januari mengeras di tembok itu juga
lalu Desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu”

–Buat Ning, Sapardi Djoko Damono

setitik cahaya di tengah hitamnya dunia, akan tetap bersinar

setitik cahaya di tengah hitamnya dunia, akan tetap bersinar

Satu hal yang dijanjikan secara pasti oleh kehidupan adalah kematian. Setiap yang bernyawa pasti akan mati; bunga akan gugur, hewan akan bersatu dengan alam, sementara manusia harus menunggu sementara waktu untuk dibangkitkan kembali dalam kehidupan abadi. Sayangnya, terkadang kita berjalan terlalu tergesa-gesa, melewatkan berbagai penanda bahwa setiap satu langkah yang terayun, satu tarikan nafas, satu detakan jantung sejatinya semakin mendekatkan kita pada kematian.

Bagi saya, teguran paling keras tentang kematian adalah ketika mendengar kabar kematian seseorang yang saya kenal. Teman kecil saya bunuh diri di usia belia karena cintanya yang kandas. Seseorang yang pernah mengantar jemput saya kecelakaan di jalan raya. Aki saya meninggal ketika haji wada’, Nini saya meninggal karena sakit. Kabar kematian membuat saya sejenak terpekur memikirkan kapan ajal saya,  ajal orang-orang yang saya cintai. Namun, kematian bukanlah hal yang harus dipikirkan; kematian hanya perlu dipersiapkan karena ia selalu datang tanpa salam, tanpa permisi, tanpa basa-basi.

Baru saja saya membuka tumblr saya yang berisi cerita belajar memasak dan curhatan-curhatan. Tetiba saya menemukan tulisan yang pernah saya buat ketika mendengar kabar kematian kawan saya yang letak kelasnya hanya terpaut belasan langkah dari kelas saya.

————————–

Mourning Train

adakah kau tahu tentang sepasang sayap yang akan menjemputmu dalam diam;
mengendap-endap tanpa suara dan begitu tiba-tiba?

seketika jiwa dan raga terpisah ke dimensi yang entah.

Tuhanku, ketika tiba waktuku
datangkanlah sepasang sayap itu kepadaku:

dalam aku yang paling senyum

dalam senyum yang paling baik

dalam baik yang paling sempurna

Tuhanku, setiap aku adalah milik-Mu
dan setiap milik-Mu akan kembali pada-Mu

————

Allahumma inni asaluka husnal khatimah. Begitulah doa agar Allah berkenan memberikan akhir yang baik di terminal pemberhentian hidup kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s