Kemudian November 2

Gerimis panjang pada medio November ini menandai masuknya musim dingin di Cairo, yang diam-diam turut menyelinap di hati saya sehingga sedikit banyak mempengaruhi kata dan tindak saya hingga menjadi tak sehangat biasa. Pada kondisi demikian, biasanya saya bicara, bercerita panjang lebar kepada Kak Aceng, mengurai benang kusut yang berjalin-kelindan di pikiran saya. Seperti biasa pula, ia mendengarkan, menceritakan kisah berhikmah, kemudian membiarkan saya sibuk berpikir, berefleksi, dan berhitung tentang langkah-langkah saya yang salah. Kisah tentang Nabi Ayyub ini, sedikit demi sedikit mengusir gigil batin yang saya derita dan mengembalikan musim semi di hati saya.

*****

Nabi Ayyub tidak pernah mengeluh, tidak pernah berhenti bersabar saat penyakit yang ia derita semakin parah bahkan sampai mengeluarkan belatung yang menggerogoti tubuhnya. Hingga, pada akhirnya, penyakit tersebut mulai menjangkau hati dan mulutnya. Maka Ayyub ‘alaihissalam pun berdoa, “Sesungguhnya, hati dan mulutku adalah sumber dzikirku kepada-Mu. Jika dua bagian ini ‘mati’, aku akan kehilangan kesempatan untuk berdzikir kepada-Mu.”

Ia tidak pernah berdoa untuk kesembuhannya karena ia tahu, ujian sebesar itu adalah bentuk kecintaan yang besar pula dari Allah untuk dirinya. Tidak pula ia berdoa agar harta, istri, dan anak-anaknya kembali.Ia hanya mengatakan, ” dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang‘” (al-Anbiya: 83)

Image

Dengan sifat rahim-Nya, Allah pun mengembalikan kebagusan fisik Nabi Ayyub, hartanya, dan keluarganya. Demikianlah, kisah orang-orang yang sabar tidak pernah berujung kesedihan.

Hikmah lain dari kisah Ayyub ‘alaihissalam adalah bahwa kita perlu lebih banyak melihat ke dalam diri kita, ke dalam hati kita. Bagaimana keadaan hati kita? Masihkah putih, jernih, dan sensitif terhadap kesalahan dan dosa yang terlaku? Ataukah telah berpenyakit, menghitam, berlubang, atau bahkan busuk dan mati? Bayangkanlah jika penyakit yang diderita oleh batin kita Allah tampakkan ke luar, ke bentuk lahiriah kita. Barangkali, penyakit kita akan jauh lebih parah dibandingkan penyakit Nabi Ayyub. Barangkali, belatung-belatung hati kita yang Allah tampakkan hampir-hampir menghabisi tubuh kita karena saking banyaknya dosa dan penyakit yang tersembunyi di dalam batin kita. Allah Mahabaik, Ia Rahim, Ia Rahman. Ia sembunyikan aib kita dari mata makhluk-Nya hingga kita yang begini ini masih terlihat baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s