Kemudian November

Kemudian November, bulan yang mengawali kisah hidup saya, datang lagi. Kali ini diawali dengan doa Nabi Yunus; Laa ilaaha illa anta, subhanaka innii kuntu min az-zhalimiin. Tiada Tuhan selain-Kau, mahasuci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

Image

sumber gambar: di sini

Yunus ‘alaihissalam ditelan seekor ikan paus besar. Orang-orang menyebutnya ikan huut. Siang dan malam tubuhnya terombang-ambing di lautan, dan ia diliputi kegelapan; tidak ada setitik pun pintu masuk bagi cahaya. Maka, Yunus mendapati dirinya dipenuhi perasaan takut dan pesimis, seolah-olah pintu harapan tertutup baginya. Dalam kondisi demikian, ia berkontemplasi, merenungi peristiwa demi peristiwa. Hingga akhirnya ia pun menyadari bahwa setiap peristiwa mempunyai sebab; dan setiap sebab mempunyai penyebab. Yunus pun paham; ia harus kembali kepada Penyebab dari segala sebab. Ia berdoa dalam kepasrahan sehingga Allah menjadikan doa Nabi Yunus sebagai salah satu media paling ampuh untuk mengabulkan doa dan menerima ibadah seorang hamba.

Yunus–ikan paus–lautan–siang dan malam, adalah kisah perjalanan seorang hamba, siapa pun ia, si kaya maupun miskin. Yunus adalah seorang pedagang, ia kaya dan terpandang. Namun, dalam sebuah kondisi, nilai materi menjadi tidak bernilai sama sekali; semua hal keduniaan tumbang dan tidak dapat memberi manfaat apa-apa. Hanya penguasa Yunus, penguasa ikan paus, penguasa lautan, dan penguasa siang-malam, yang dapat mengeluarkan kembali sosok Yunus dari tubuh ikan paus itu. Melalui peristiwa tersebut, Nabi Yunus pun mendapatkan hakikat makna tauhid yang sebenar-benarnya.

Dan, ya, kisah Nabi Yunus adalah kisah kita; manusia yang ada dalam kondisi serba mengkhawatirkan. Kita diliputi kegelapan, dan kegelapan itu bernama masa depan yang tidak pernah kita ketahui akan bagaimana. Kita pun diombang-ambing oleh ombak dalam lautan bernama kehidupan, dan ikan paus dalam diri kita yaitu sesuatu yang kita bawa terus-menerus; nafsu yang terus mengajak kita dalam kelalaian dan ketidakjelasan langkah. Akankah kita tertelan oleh nafsu kita sendiri?

Ikan paus yang bersemayam dalam diri kita tentu lebih berbahaya daripada ikan paus yang menelan Yunus ‘alaihissalam. Karena ikan paus yang bernama nafsu akan menghalangi umur abadi kita untuk hidup berbahagia di akhirat nanti. Maka, belajarlah kepada Nabi Yunus; dalam hidup ini, jangan terlalu melihat kepada sebab materi. Namun, hadapkanlah diri kita kepada Penyebab dari segala sebab. Menghadaplah kepada Allah lebih dekat lagi, dengan hati dan diri kita.

Kemudian November, dan saya tahu bahwa langkah saya semakin berkurang. Inilah nasihat pertama di bulan ini untuk diri saya yang saya sarikan dari kitab al-lama3aat Bediuzzaman Said Nursi. Terimakasih dan cinta saya untuk Kak Atjeng atas kesediaan dan kesetiaannya menguraikan cerita orang-orang Salih bagi saya, istrinya yang belum salihah ini *ngelap ingus sambil sesenggukan.

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s