Warna Sabtu

Dulu, setiap kali pergi ke sekolah, sering sekali saya memandang kedua taman tersebut dari balik kaca bus 700 jurusan al-Hayy as-Sabi3–Syari3 Sudan. Namanya Hadiqah Gezira dan Hadiqah Hurriyyah yang terletak di pinggiran Sungai Nil. Hadiqah Gezira punya catatan tersendiri di hati saya; sebagai taman pertama yang saya sambangi bersama Kak Aceng ketika saya tiba di Mesir. Sebetulnya, Hadiqah Gezira tidak indah sama sekali; miskin tanaman, terlalu banyak kursi, dan keberadaan kafe yang pastinya banyak memproduksi asap hookah. Namun, sentuhan angin yang sepoi, sejuknya udara yang menyelinap di antara jemari, suara mesin perahu, dan gemericik air Nil, menjadi jamuan yang sulit ditolak di negeri panas ini.

Sementara itu, Hadiqah Hurriyah yang letaknya di seberang Hadiqah Gezira, terlihat lebih rimbun, ramai, dan berwarna dengan barisan pepohonan, mekar bunga, kicauan burung pipit, dan koakan gagak. Jika saya berjalan-jalan pagi ke Sungai Nil, pastilah saya menyempatkan diri sebentar untuk melihat-lihat taman itu dari luar. Dan, hampir selalu saya bertanya, “Cin, ini taman buka jam berapa, sih?” “Kapan kita ke sini?”

Hari ini setelah mengetahui bahwa Kak Aceng ada agenda ngaji dari pagi sampai malam, maka saya pun memutuskan untuk jalan-jalan bersama Fatih dan Adam. Bisa garing bolak-balik kalau tetap bersarang di rumah. Dari rumah, kami jalan kaki sekitar 5 menit ke Stasiun Behouth untuk menaiki subway menuju Stasiun Opera. Dalam waktu kurang dari 20 menit kami telah di sana. Karcis masuknya 3 EGP dan itu terhitung cukup mahal jika dibandingkan dengan biaya masuk ke taman-taman lain yang berada di kawasan Nasr City. Pertama kali memasuki taman tersebut, mata saya langsung menuju pada sebuah pohon beringin besar yang menjanjikan rasa teduh dan nyaman. Ya, kami–saya, Fatih, dan Adam–berjalan ke sana untuk duduk di jajaran kursi yang tersedia. Tapi, ketika baru saja saya melepas tas, seorang bapak menghampiri, “Ahwah, syai, haga sa2ah?” tanyanya menawarkan berbagai jenis minuman.”Laa, syukran ehna najlis hena bas,” ujar saya sambil menunjuk kursi mengisyaratkan bahwa saya hanya duduk-duduk di sini. “mamnu3, di cafe,” lanjutnya lagi.

DSC_1027

Fatih, Hadiqah Hurriyah, dan Cairo Opera House

Ternyata, jreeeennnng…. rupanya pohon beringin itu dijadikan cafe dan kita yang nggak beli apa-apa nggak boleh nebeng di sana. Aseeeeeemmmm. Batin saya perlahan. Sebetulnya keras-keras pun tidak masalah sebab orang Mesir kan nggak mungkin juga paham apa itu ‘asem’. Singkat cerita, saya pun mengajak Adam dan Fatih untuk keluar dari lingkaran adem pohon beringin dan masuk ke daerah pinggiran yang agak panas dan dikhususkan untuk kaum proletar. Cukup sulit juga kami mendapati spot teduh yang bisa dijadikan tempat istirahat. Sejauh mata memandang hanya ada pasangan muda-mudi yang lagi gombal-gombalan. Dimulai dari ngasih mawar, terus pura-pura nolak, sampai akhirnya pandang-pandangan iyuuuhh. Adalagi yang main kejar-kejaran; yang pria berkemeja kota-kotak sementara pasangannya memakai baju, jilbab, dan sepatu hak tinggi berwarna shocking pink alias pink stabilo yang sinarnya bahkan lebih menyilaukan dibandingkan matahari. Beberapa muda-mudi lain tengah melingkar dan menyanyikan lagu hebi berday tu yuuu.. hebi berday tu yuuuu… sambil bertepuk tangan. Sementara, orang-orang yang tengah berfoto mulai menggunakan gaya di ambang batas normal; melompati pagar, memanjat patung, memeluk patung, ngumpet di balik patung, terus demikian berkali-kali sembari mulutnya tidak lepas memberi isyarat kepada juru fotonya agar mengambil gambar dari berbagai sisi.

Daripada dipusingkan dengan hal-hal berbau kiamat sughra, saya pun memutuskan untuk segera duduk ketika melihat ada tempat yang cukup nyaman. Fatih dan Adam mulai bermain bola dan jumpa fans pun dimulai. Beberapa orang mulai mendekati Fatih, menanyai namanya, hobinya, makanan favoritnya, di mana sekolahnya, cita-citanya, hingga akhirnya mengajak foto bersama. Demi menjaga citra baik, saya pun memajang senyum sampai akhirnya jumpa fans pun usai.

ngemil roti-main bola-ngemil roti-main bola

ngemil roti-main bola-ngemil roti-main bola

Di sini Fatih sama sekali tidak antusias. Dia lebih senang menyuapi saya roti dibandingkan dengan bermain bola. Hingga akhirnya sekumpulan gagak mulai berkoak dan berlenggak-lenggok di rumput. Awalnya Fatih hanya melihat dari jauh, kemudian mendekat, mendekat, mendekat, dan gagak pun beterbangan satu per satu. Telunjuk Fatih mulai menunjuk angkasa, “Tuh, tuh, tuh..” ujarnya sambil menatapi gagak yang terbang. Mood saya berangsur kembali dan mulai melupakan kisah kafe-pohon beringin itu.

Gagak yang lucu, ke mana engkau terbang?

Gagak yang lucu, ke mana engkau terbang?

“Dam, naik perahu, yuk!” ajak saya pada Adam. Seperti biasa, Adam ngangguk terus. Kami pun keluar dari Hadiqah Hurriyah dan menyeberangi jalan menuju Hadiqah Gezira.

Dua ekor anjing tampak hilir mudik di depan pintu masuk Hadiqah Gezira. Tapi itu jadi kebahagiaan tersendiri bagi Fatih, “Mooo.. mooo… mooo,” panggil Fatih sambil terus saja menunjuk ke arah anjing. “Itu anjing bukan sapi, suaranya guk guk guk,” ujar saya. Tapi tetap, bagi Fatih, moo.. moo..moo.. adalah panggilan kesayangannya bagi hewan berkaki empat. Kami disambut penjaga berkumis tipis yang segera mengulurkan tiket masuk, “sittah gineeeeeeeeh” Adam segera memberikan uang sebesar 6 EGP.

“mumkin narkab safinah min hena?” tanya saya kepada penjaga pintu taman. “Ya, bisa aja. Kamu mau yang 30 menit atau 1 jam?”

“Lima belas menit nggak bisa?”

Dan ia pun tertawa bersama kawannya, entah apa maksudnya. Dengan suara yang keras, ia memanggil seseorang, “Ini ada orang yang mau naik perahu. Kamu antar dia.”

“Berapa?” tanya saya

“Yaa… sekitar 50 EGP”

“Nggak deh, makasih,” ujar saya sambil berlalu

“Ya udah, kamu maunya berapa?”

“Sudah, saya nggak mau apa-apa.”

Nah, ini contoh salah satu kengawuran yang kerap terjadi kepada orang yang dianggap turis di Mesir. Mencurangi angka, ngajak muter-muter nggak jelas, memeras, dan sebagainya. Saya pernah naik perahu “full music” yang tenar seantero Sungai Nil itu hanya dengan uang 2 EGP dan sekarang saya diminta 50 EGP. watdepiiiip.

Nahrun Nil: Nahrun Tabaarak min 3azimil a3tsuri

Nahrun Nil: Nahrun Tabaarak min 3azimil a3tsuri

Akhirnya, kami pun menuruni tangga dan berdiri di pinggiran Sungai Nil. Fatih tampak sangat menikmati semilir angin, memandangi perahu, kayak, dan felucca yang lalu lalang. Sementara saya dan Adam mencoba untuk mengacuhkan telinga dari musik-musik rakyat Mesir yang mulai mengalun keras dari perahu yang siap berjalan. Perempuan-perempuan yang awalnya duduk di dalam perahu kini mulai berdiri, menggoyangkan perut, tangan, dan kakinya mengikuti alunan musik.

Tak berapa lama, kami pun keluar. Kejutan pun tiba lagi. Di depan kami berdiri seribuan atau bahkan lebih, para suporter klub bola al-Ahly atau lebih akrab disebut ‘Ultras Ahlawy’ Mereka meneriakkan yel yel yang tidak saya pahami, tapi tuntutan mereka dapat dilihat dari poster-poster yang mereka bawa. “Freedom for Ultras” dan juga poster gambar seseorang disertai tulisan “Free”. Barangkali mereka menuntut kebebasan salah seorang rekan mereka yang  ditangkap oleh rezim militer. Para wartawan telah siap menyorot aksi mereka, sementara kami beralih ke arah gedung Opera, Adam sibuk memfoto dan merekam aksi tersebut.

Hurriyyah li Ultras

Hurriyah li Ultras

Kami kembali berjalan, kali ini ke arah Stasiun Opera untuk kembali ke rumah. Namun, ternyata arus besar demonstran juga datang dari arah stasiun. Adam sempat mendekap dan mendorong saya ketika saya ‘meleng’ karena tercengang dengan deru yel-yel para demonstran. Di stasiun pun, ketika hendak memasuki subway, kami harus menyingkir dulu ke pojokan saking arus demonstran keluar bak air bah dari dalam subway.

IMG-20131020-WA0005

Jalan-jalan kami belum berhenti saat subway berhenti di Stasiun Behouth. Dari sini kami akan memenuhi undangan Bu Melia untuk bersilaturahim ke rumahnya. Di sana Fatih dan omnya makan dengan lahap, saya yang melihat Fatih makan lahap jadi ikutan pengen makan (alasan, padahal memang lapeeeer). Setelah ngobrol-ngobrol, kami pun pamit pulang sebab magrib akan segera tiba.

Demikianlah Sabtu ini berjalan. Bagaikan palet, ada berbagai warna yang telah memenuhi relung-relung hari; oranye-biru, cerah-kelabu, apa pun itu, semoga menjelma lukisan hari yang indah dalam bekas hidup yang disebut “kenangan.”

Me and my lollipop

Me and my lollipop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s