Benteng Salahuddin: Potret Kejayaan Tiga Dinasti

Runtuhnya Dinasti Fathimiyah sekaligus menandai berakhirnya masa kebesaran Syi’ah di Mesir, Afrika Utara (Tunisia, Aljazair, dan Libia), dan Syam (Suriah, Lebanon, Palestina, dan Yordania).  Dinasti Fathimiyah ditumbangkan oleh Salahuddin al-Ayyubi, yang kemudian menjadi pendiri dan penguasa Dinasti Ayyubiyah. Salahuddin kemudian membangun pusat pemerintahan baru di Kairo, yaitu di ujung Bukit Muqattam. Tempat inilah yang pada akhirnya dikenal sebagai Qal’ah Salahuddin, Citadel of Salah al-Din, atau Benteng Salahuddin.
Image

Gerbang utama Benteng Salahuddin yang kini ditutup dan menjadi ‘rumah’ bagi para tunawisma. Kondisinya sangat kumuh dan bau. (Abaikan wajah tak diundang yang terpampang di sana)

Pada masa yang bersamaan, tengah pula terjadi kecamuk perang Salib. Salahuddin sengaja memilih tempat yang jauh dari jantung peperangan (Jerussalem) sekaligus juga jauh dari pesisir laut, dan merupakan tempat paling aman di Cairo agar benteng ini tidak mudah dijatuhkan.

Awalnya, Salahuddin membangun bentengnya dalam bentuk yang masih sederhana. Dinasti pelanjutnya, yaitu Mamalik meneruskan pembangunan benteng ini, dan pada zaman Dinasti Utsmani, melalui Gubernur Muhammad Ali Pasha, benteng ini semakin mempertontonkan kemegahan juga kekayaan teknologi dan arsitektur yang mengagumkan. Pencapaian itu bahkan membuat Jepang, yang ketika itu berada pada Masa Restorasi Kaisar Meiji, bertandang ke Mesir untuk berbagi pengalaman.

Salahuddin al-Ayyubi menatah sejarahnya melalui benteng ini hingga tiba saat bagi keturunan ketiganya untuk memimpin Dinasti Ayyubiyah. Sayangnya ketika itu, kekuasaan telah membutakan mata keturunan-keturunannya tersebut hingga kekuasaan Dinasti Ayyubiyah tidak lagi berpusat di Mesir, melainkan tepecah ke dalam tiga faksi, penguasa Ayyubiyah-Mesir dan Afrika Utara, Ayyubiyah-Yaman, dan Ayyubiyah-Syam. Dan selamanya kisah tentang perpecahan akan berakhir pada kehancuran. Demikian pula dengan Dinasti Ayyubiyah. Setelah kematian sultannya yang terakhir, yaitu Najmuddin, maka Panglima perang Dinasti Ayyubiyah yang bernama Aybak dari Sirkasian pun mengambil alih kekuasaan dinasti tersebut.

Berdirinya Aybak di tampuk kekuasaan menandai senjakala kekuasaan Dinasti Ayyubiyah sekaligus juga sebagai fajar kelahiran bagi Dinasti Mamalik, atau dinasti para budak. Aybak sendiri akhirnya menikahi istri muda Najmuddin, yaitu Syajara ad-Duur yang sebelumnya sempat menjadi sultanah Ayyubiyah menggantikan suaminya.

Berbeda dengan kebiasaan dinasti-dinasti sebelumnya yaitu perpindahan kekuasaan sultan selalu ke tangan putra mahkota, pada zaman Mamalik, kekuasaan sultan berpindah dari satu panglima kepada panglima yang lain. Akibatnya, setiap panglima saling mencurangi sultan agar dapat menggantikan posisi sebagai Sultan Mamalik.

Di antara penguasa Mamalik yang tersohor adalah Sultan Nashir al-Qalawwun. Nama besarnya diabadikan dengan dibangunnya sebuah masjid berkubah hijau di komplek Benteng Salahuddin ini. Nama masjid ini dinisbatkan kepada sultan ini, yaitu Masjid an-Nashir. Sultan an-Nashir sendiri, pada akhirnya dikuburkan di dalam masjid ini.

Image

Majid an-Nashir (berkubah hijau) yang terlihat di antara Masjid Muhammad Ali Pasha dan pilar benteng

pageBagian dalam Masjid an-Nashir menunjukkan corak bangunan masa Mamalik

Sementara, di seberang Laut Tengah, Dinasti Utsmani yang tengah melakukan politik ekspansif atau perluasan wilayah, mulai mengarahkan pasukannya ke arah timur, yaitu ke Persia, untuk memerangi Dinasti Shafawi yang bermazhab Syi’ah. Namun, di tengah perjalanan, mereka menemukan bahwa sekutu dekat mereka, yaitu Dinasti Mamalik, melakukan konspirasi dengan Dinasti Shafawi untuk bersama-sama menyerang pasukan Utsmani. Hal ini menyebabkan dibelokkannya pasukan Utsmani ke arah Mesir untuk menyerang Dinasti Mamalik.

Kemenangan Pasukan Utsmani menandai babak baru bagi Mesir. Kini, Mesir bukan lagi pusat ibukota melainkan menjadi provinsi dari wilayah kekuasaan Utsmani. Kairo dan Benteng Salahuddinnya yang semula merupakan pusat pemerintahan negara kini hanya menjadi pusat kegubernuran. Hingga tiba masa Muhammad Ali Pasha, Gubernur baru Utsmani untuk wilayah Mesir yang diangkat setelah masa penaklukkan Napoleon atas Mesir.

Pada zaman Muhammad Ali Pasha, banyak dilakukan perbaikan dan pembangunan besar-besaran. Mulai dari taman-taman, istana, penjara, gerbang, hamam, sampai dengan pembangunan masjid yang dikenal dengan nama Masjid Muhammad Ali Pasha atau Alabaster Mosque. Muhammad Ali Pasha adalah seorang yang buta huruf tetapi ia mempunyai kecintaan yang besar kepada dunia arsitektur dan teknologi. Dengan demikian, wajar jika pada zamannya ia banyak mendirikan bangunan-bangunan prestisius.

 2

Bagian luar dan dalam Masjid Muhammad Ali Pasha

Masjid Muhammad Ali disebut sebagai Alabaster Mosque karena dinding luar dan dalamnya merupakan marmer. Marmer tersebut sebagian berasal dari Mesir dan sebagian lainnya berasal dari Italia. Arsiteknya adalah Amin Effendi, seorang Utsmani, dan juga Pascal, seorang Perancis. Arsitektur Masjid Muhammad Ali Pasha terhitung unik, menggabungkan perpaduan arsitektur masjid Turki-Utsmani dan juga arsitektur Baroque Eropa, yang menjadikan model arsitektur bangunan tersebut menjadi satu-satunya model bangunan masjid di Mesir, tak ada duanya.

Kesan indah, megah sekaligus relijius berpadu menjadi satu dalam bangunan ini, baik di luar atau pun dalam. Keberadaan masjid yang berada di puncak benteng membuatnya dapat dilihat dari sudut mana pun dan dari kejauhan, seakan-akan bangunan yang mengapung di ketinggian langit.

3

Benteng Salahuddin menjadi saksi bisu atas kisah dari tiga dinasti ini. Bahwa kekuasaan bukanlah suatu yang lestari. Pasang surut suatu peradaban adalah hal yang niscaya, dan kita sebagai anak zaman hanya perlu membuka mata batin lebih lebar lagi agar dapat melihat serpihan hikmah yang tercecer di balik kemegahan bangunan, di balik kehancuran peradaban, di balik setiap reruntuhan zaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s