Sejuta Kenangan Purba di Sepanjang Jalan Muiz

Bab al-Futuh, The Gate of Conquest, atau Gerbang Penaklukan. Demikian nama gerbang utama benteng Kota Cairo yang terbentang di awal Jalan al-Muiz li Dinillah. Dinamakan demikian karena gerbang ini merupakan gerbang benteng yang pertama kali didirikan di Cairo.Napoleon Bonaparte, pada saat invasinya ke Mesir, masuk melalui pintu ini.

Image

Kawasan ini dibangun oleh Badruddin al-Jamali (orang Armenia) pada 1087. Ketika itu Mesir berada di bawah pemerintahan Dinasti Fatimiyah

 

Sesaat setelah memasuki Bab al-Futuh ini, ada Masjid al-Hakim bi Amrillah. Masjid ini dijadikan sebagai barak militer oleh Napoleon. Selain itu, Napoleon juga menjadikan Masjid al-Azhar sebagai barak militer bagi pasukannya, sampai akhirnya Napoleon berhasil menduduki Qal’ah (Citadel atau benteng utama).

Image

Menangkap senja di Masjid al-Hakim bi Amrillah yang didirikan Khalifah Fatimiyah, al-Hakim bi Amrillah.

Dulunya, kawasan ini merupakan pusat niaga. Kita dapat menemukan hotel, rumah sakit, pasar, wikala (kamar dagang), kuttab (tempat belajar semacam pesantren), hamam (pemandian umum), basilica (tempat penampungan air), dan sebagainya.

Oleh karena itu, tidak berlebihan dikatakan kalau kita sedang berjalan di kawasan tersebut seolah-olah kita ini sedang memasuki museum terbuka; masuk ke dalam mesin waktu dan menemukan sejuta kenangan purba yang mencatat masa-masa kegemilangan Islam sekaligus juga kejatuhannya. Tidak heran jika kawasan ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan di Mesir, terutama untuk wisata budaya dan keislaman.

Image

Salah satu pedagang barang antik yang juga seorang pengrajin

Nah, bertepatan dengan akhir tahun 2012, kami napak tilas ke sana. Saya, Kak Aceng, dan Fatih. Seharusnya Isma adik saya itu juga ikut. Cuma, dia lagi ada konflik gara-gara diusilin sama kaka iparnya alias Kak Aceng. hehehe…Akhirnya, kami bertiga pergi ke sana juga sama kawan kami, Bu Melia dan Pak Budi.

Jalan-jalan (betul-betul jalan, yaaaa) sambil gendong bayi itu rasanya sungguh menakjubkan. Tapi tetep, secara jalannya sama orang-orang tersayang: capeknya nggak terasa. Alhamdulillah. Saya masih mau ke sana sekali lagi, tapi harus bareng sama Isma😀

Image

Kami bertiga😀

//

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s