Benteng Kesabaran Terakhir Itu Bernama Khaled Said

Pemuda itu didekati oleh dua orang polisi keamanan di sebuah kafe di kawasan Sidi Gaber, Aleksandria. Dengan kasar, ia diseret keluar lalu dianiaya. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi, sementara kepalanya dihantamkan berkali-kali ke tembok dan tangga hingga akhirnya, ia pun menjelma benteng terakhir rakyat Mesir yang selama ini membendung luapan ketertekanan mereka.

Peristiwa yang menimpa pebisnis muda itu terjadi tidak lama setelah aksi pengeboman gereja saat malam tahun baru di Aleksandria. Ditambah lagi, terjadi pula dua “insiden Khaled Said” lain di kota yang sama beberapa waktu setelah penganiayaan yang terjadi terhadap Khaled, tentunya dengan pelaku yang sama: polisi keamanan. Alasan pembunuhannya pun sama: tak ada. Maka, bayangkanlah temperatur kemarahan sepanas apa yang melingkupi Aleksandria kali itu. Mereka pun mulai menyerukan, “ana ismi Khaled Said” atau “kulluna Khaled Said” sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

****
“Ibu, Anda harus meliburkan kami pada Selasa pekan depan.” Kata salah satu peserta kurus bahasa Indonesia kepada saya.

Saya mengernyitkan dahi, “Mengapa?”

“Ini mungkin tidak masuk akal. Tapi sudah ada 40 ribu orang Mesir yang menandatangani petisi di internet. Mereka akan turun ke jalan untuk menuntut mundur presiden!”

“Apakah Tunisia telah menjadi inspirasi?” Sejujurnya, saya bertanya dalam kondisi kaget.

“Bukan karena itu saja, Bu. Tapi ini memang sudah saatnya.”

Perkataan salah seorang peserta kursus itu diamini oleh teman-temannya yang sama-sama berada di kelas itu. Saya pun segera memulai pelajaran meskipun pikiran saya dipenuhi berbagai hal. Enam hari lagi, entah apa yang akan terjadi.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia yang membahas tentang pemerintahan dan pemilu, situasi di kelas saya sering mendadak menjadi dingin dan kaku. Kemudian terdengar suara nafas yang ditarik panjang. Ketika mereka giliran berbicara, hampir tidak ada seorang pun yang memberi apresiasi bagi pemerintahan yang sekarang, bahkan rata-rata dari mereka memilih untuk menjadi Golput pada Pemilu kemarin. “Untuk apa kami berpartisipasi sedangkan kertas suara kami sudah terisi.”

Saya pun pulang dengan pikiran yang penuh, dan segera, setelah tiba di rumah, saya pun menceritakan hal ini kepada Mas Khanteng. Ia menyarankan saya untuk segera menelepon penanggung jawab Puskin (semacam BIPA) dan meminta agar Puskin diliburkan.
***

Selasa, 25 Januari 2011. “yom el-ghadab” atau “hari kemarahan” itu pun tiba bersamaan dengan hari libur nasional Mesir, yaitu “eid el-Shurthah” atau “Hari Polisi”. Sepanjang perjalanan sejauh 19 km dari rumah saya menuju sekolah, saya tempuh dengan taksi. Selama itu pula mata saya sibuk menyapu Mesir. Jalanan sangat lengang, hampir tidak ada kendaraan berlalu lalang. Maklum, ini baru jam delapan. Polisi pun sama sekali tidak terlihat~ya, hari ini mereka libur.

Namun, lihatlah 4 jam kemudian, massa mulai melakukan long march, kemudian berkumpul di Maydan Tahrir (Liberation Square), jantung Kairo. Mereka melakukan aksi simpatik, menuntut reformasi dan menuntut mundur presiden. Unjuk rasa pada hari itu adalah unjuk rasa terbesar sepanjang sejarah Mesir. Banyak orang yang turun mempertaruhkan segalanya, berunjuk rasa di hadapan tekanan dan kebrutalan polisi Mesir. Hari itu saya berdoa untuk Mesir, “Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman, sebagaimana perkataan Nabi Yusuf kepada orangtuanya, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, Insya Allah aman’ [1]”

Unjuk rasa pada Selasa itu mengguncang Mesir (terjadi di beberapa titik penting, terutama Kairo, Aleksandria, dan Ismailiah). Tidak ada yang menyangka kursi baja itu mulai condong ke barat perlahan-lahan. Gelombang demonstrasi terus berlanjut, dan mencapai puncaknya pada pekan lalu. Setelah 30 tahun, akhirnya akan ada kurikulum tambahan untuk pelajaran sejarah di sekolah-sekolah Mesir🙂

Tuan Khaled, lihatlah delapan juta orang yang turun ke jalan itu. Jumat kemarahan dan Jumat pemakzulan telah terlewati, kini mereka tengah menyiapkan rangkaian aksi untuk Jumat penghabisan. Sudah banyak, Tuan, sudah banyak darah yang tumpah, tetapi mereka masih tetap bertahan.

Tuan Khaled, berbahagialah di alam sana. berbahagialah bersama 300 pemuda lain yang telah menyusulmu dalam serangkaian unjuk rasa kali ini. Seseorang di Tahrir telah berkata, “kami sudah terlalu lelah untuk merasa takut, dan jika kami harus memberi 1000 nyawa kami dalam revolusi kali ini, akan kami berikan.”

[1] Q.S. Yusuf: 99

3 thoughts on “Benteng Kesabaran Terakhir Itu Bernama Khaled Said

  1. wah sadis banget tuh..tapi mantep yah rakyat misr..”kami sudah terlalu lelah untuk merasa takut, dan jika kami harus memberi 1000 nyawa kami dalam revolusi kali ini, akan kami berikan.”subhanallah ceu, merindiiiing bo!ohiya, aku baru dapet info neeh,,jadi orang mesir teh tidak menggunakan senjata… senjata mereka adalah iman kita dan suara mereka. wah,,pasti tuh yang aksi banyak hifdzil qur’annya, orang2 shaleh. perempuan ngikut jihad juga ga tuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s