Hari Paling Menyedihkan

Saya ingin mencatat bahwa Rabu, 2 Februari 2011 ini adalah hari paling berdarah sepanjang demonstrasi “Tsawrah al-Ghadab” sejak Selasa, 25 Januari lalu. Saya hanya dapat terperangah di depan televisi melihat bentrokan kubu pro-Mubarak dan anti-Mubarak.

Sejak saya pulang dari sekolah dan menempuh jarak sekitar belasan kilometer, saya menyaksikan pawai-pawai yang diikuti ratusan orang. “Na’am yaa Mubarak!” teriak mereka. Saya merasa khawatir. Khawatir sekali.

“Ke mana mereka, Bu?” tanya saya kepada Bu Rahayu yang berbaik hati memberi saya tumpangan di mobilnya. “Nggak ke Tahrir, kan, Bu?” tanya saya.
“Nggak, jadwal mereka kan demonya di Mostafa Mahmoud. di belakang sekolah.”

Jarak dari Tahrir–tempat demonstrasi anti-Mubarak–ke Mostafa mahmoud–pro-Mubarak, tidaklah terlalu jauh. cukup melewati tiga atau empat stasiun metro.

“Mungkin nggak ya bentrok di Tahrir?” Tanya saya lagi.
“Mungkin. Bisa seperti di Alexandria.”

saya kembali menyibukkan diri dengan memfoto para demonstran pro-Mubarak dari balik kaca jendela mobil. Untunglah penumpang mobil kali ini perempuan semua, jadi kami tidak perlu melewati pemeriksaan-pemeriksaan setiap 100 meter.

Sampai di rumah, saya segera menonton al-Jazeera. Bundaran tahrir masih penuh seperti kemarin. kabarnya ada sekitar 3 juta demonstran yang bertahan di sana. Dan entah mengapa tiba-tiba sekelompok pasukan berkuda menyerbu demonstran, Itulah permulaan tragedi yang saya saksikan sejak tadi sore hingga waktu menunjukkan pukul 00.00 CLT. Saya merinding, membayangkan bentrok yang akan terjadi antarkedua kubu. Sebetulnya saya tidak perlu membayangkan karena gambaran nyatanya langsung terekam di depan saya. Seorang demonstran anti-pemerintah dikeroyok, kemudian terjadi aksi saling pukul dan lempar batu.

Sejumlah orang berlarian, mempersiapkan senjata lain. Dua buah tronton militer segera membentuk barikade untuk memisahkan kedua kubu tersebut. Tiba-tiba semuanya terasa mencekam. Tembakan berulang kali dilepas ke udara, para pemuda yang harus berlari-lari menggotong rekannya yang tumbang karena terluka.

Sebegitu banyaknya massa saling berhadapan, melempar batu, siapa yang tak merinding melihatnya? Saya memutuskan untuk masuk kamar dan beristirahat dari tontonan itu, sambil bertanya-tanya, siapa setan yang tega mengadu saudara setanah air itu? siapa setan yang tengah menyeringai di antara cucuran darah yang mencatat 500 orang cedera dalam bentrokan kali itu?

Sebuah panser dan beberapa lelaki berseragam militer berjaga di jalan raya tepat di depan flat yang tengah saya tempati ini. Sebegitu rawannya kah kondisi tanah ini? Pikiran saya disesaki pilihan untuk ikut gelombang evakuasi atau sementara waktu bertahan di sini. percayalah, itu bukan keputusan yang mudah.

Besok seharusnya saya harus siap ke sekolah pukul sembilan pagi. tapi rencana itu sepertinya harus dibuyarkan karena jam malam kini diberlakukan mulai pukul sepuluh pagi hingga lima sore. Saya sendiri masih belum tahu apa yang mungkin terjadi esok hari selain kecurigaan yang meruncing antara masyarakat Mesir sendiri, saling curiga siapa yang pro siapa yang kontra, siapa yang preman, siapa yang bukan. Malam ini tawuran mulai terjadi di Distrik 10, Nasr City. sementara, adik ipar saya yang baru saja menyelesaikan ujian semester satunya di Provinsi Manshurah harus mengurungkan niatnya untuk kembali ke Kairo setelah ia terjadi tawuran di dekat flat yang ditinggalinya.

“Cin, kata Ade, di Manshurah orang-orang saling bacok.” Saya lemas sekali. Padahal sehari sebelumnya ia mengatakan kondisi di sana aman terkendali. Kembali, saya menonton lewat televisi. pemukulan masih terjadi di bundaran Tahrir. Apa yang akan terjadi lagi? Sementara ini, pemerintah mengambinghitamkan pihak oposisi atas terjadinya tragedi itu. Katanya, pihak oposisi terpecah sehingga saling pukul.

Entah mengapa pemerintah seolah belum menyadari bahwa kebanyakan orang di sini bukan anak kecil yang menelan bulat-bulat apa-apa yang disuapi oleh ibunya. Sejak pecahnya revolusi ini, secara resmi polisi dan intel telah menjadi musuh utama masyarakat, terutama mereka yang memakai baju sipil, dan menggabungkan diri dengan para demonstran anti-pemerintah. Sementara, kali ini militer (tentara) menjadi satu-satunya elemen pemerintah yang mendapat peran protagonis sebagai penjaga rakyat. Saya hanya tidak mau membayangkan, suatu waktu, entah besok, lusa, atau entah, militer membuang predikat protagonisnya dan berbalik menyerang demonstran anti-pemerintah.

Jumat lusa akan menjadi hari dengan gelombang demonstrasi terbesar. Saya tidak tahu apakah hal itu kan terwujud atau tidak mengingat kini hampir semua akses transportasi dari provinsi lain ke kairo diperketat, bahkan ditutup. Malam ini saya berharap rakyat Mesir terutama anak-anak dapat tidur dengan lelap, karena ketika bangun ada banyak persoalan yang sudah menunggu.

ket.gambar: diambil oleh Om Tob ketika kami berlima menyusuri jalanan antara Nasr City–Tahrir–Dokki pada hari kelima demonstrasi Mesir (Sabtu, 29 Januari 2011)

12 thoughts on “Hari Paling Menyedihkan

  1. Terima kasih, mbak. tadi malam di bawah rumah sudah ada panser yang jaga. pukul dua terdengar suara tembakan dan teriakan orang-orang. beberapa KM dari sini sudah terjadi tawuran antarwarga. Seperti perang sipil, mbak. semoga yang terjadi nanti adalah yang terbaik, mbak, untuk semuanya. untuk WNI di sini, dan terutama untuk rakyat Mesir.

  2. mipiscina said: Terima kasih, mbak. tadi malam di bawah rumah sudah ada panser yang jaga. pukul dua terdengar suara tembakan dan teriakan orang-orang. beberapa KM dari sini sudah terjadi tawuran antarwarga. Seperti perang sipil, mbak. semoga yang terjadi nanti adalah yang terbaik, mbak, untuk semuanya. untuk WNI di sini, dan terutama untuk rakyat Mesir.

    mirip sekali deskripsinya dengan suasana Jakarta Mei 1998 lalu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s