Dari Tunisia Sampai ke Mesir

Akhir-akhir ini, headline berita di hampir semua koran-koran Mesir yang saya lihat adalah berita tentang Tunisia. Mengapa berita Tunisia begitu ramai di sini? Ada beberapa kemungkinan jawaban, Mesir dan Tunisia sama-sama punya kesamaan, selain merupakan negara Arab dan mayoritas berpenduduk muslim, kedua negara tersebut juga sama-sama diperintah oleh rezim otoriter selama puluhan tahun.

Tunisia, diperintah oleh Ben Ali selama dua puluh tiga tahun. Selama periode itu pula, ada beberapa hal yang sangat menekan lahir dan batin penduduknya. Pertama, mahalnya harga komoditas bahan pokok, kemudian kran demokrasi yang tertutup, dan mungkin yang paling menyakitkan adalah larangan berjilbab dan azan. Serupakah dengan Turki pada masa Attaturk? Ada beberapa kesamaan, tetapi yang jelas~tak dapat dipungkiri juga kalau Attaturk berhasil mengangkat rasa nasionalisme orang-orang Turki yang bekasnya tertatah sampai sekarang. Berbeda dengan Tunisia yang semakin hari semakin kehilangan akar budaya kearabannya.

Penggulingan Ben Ali yang dilakukan oleh rakyat Tunisia bermula dari aksi bakar diri yang dilakukan oleh seorang tukang sayur. Namun, yang menyebabkan terjadinya hal ini adalah penganiayaan yang dilakukan oleh polisi Tunisia kepada tukang sayur ini ketika ia berdagang. Berawal dari sana, kemarahan rakyat Tunisia yang terpendam selama berpuluh tahun pun pecah. Bom waktu itu telah meledak. Ledakan itu berbuah hengkangnya Ben Ali dari tanah airnya itu. Namun, adakah bangsa Eropa, yang ketika dulu mendukung sekularisasi yang dilakukan Ben Ali, memberikan suaka politik kepadanya? Rupanya tidak. Sementara waktu, Ben Ali singgah di Arab Saudi, bersama istrinya yang membawa bekal 1,5 ton emas dalam pelariannya. Adakah kisah ini mirip dengan penggulingan Reza Pahlevi dan pelariannya bersama Farahdiba ke Mesir?
Setelah itu, apa yang terjadi di Tunisia? Senin lalu, azan pun berkumandang untuk pertama kalinya di sana setelah bertahun-tahun terpendam dinding-dinding masjid. Orang-orang bebas beribadah di masjid mana pun yang mereka suka, bukan di masjid khusus yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Hak yang paling asasi itu telah kembali, hak untuk beribadah dengan nyaman dan tentram.
Ah, mari kita kembali ke pembicaraan yang sangat ramai di Mesir tentang Tunisia. Peristiwa itu kini menjadi buah bibir yang paling merah di tengah-tengah rakyat Mesir. Tunisia seolah memberi nafas baru akan kemungkinan perubahan kepemimpinan di Mesir jika rakyat mampu bersatu melawan pemerintahan tiran. Namun, apakah masyarakat di sini cukup berani melakukannya?
Awal pekan ini, seorang pria membakar dirinya di depan MPR-nya Mesir. Ia mengatakan bahwa ia ingin pemerintah mengembalikan hak-haknya dia sebagai rakyat yang ter(di)jarah selama hidupnya. Namun, aksi bakar dirinya tidak mendapat respon yang gempita sebagaimana di negeri jiran.
Namun, sudah banyak pemantik yang menyala dan berptensi membakar kemarahan rakyat, paling tidak sejak saya mulai hidup di sini. Pemantik pertama, naiknya harga tomat dan bahan-bahan pokok lain, seperti beras dan gula (harga gula sudah turun lagi). Kedua, meningkatnya angka golput dan penangkapan kelompok-kelompok oposisi pemerintah pada pemilu kemarin, Ketiga, pemantik yang menyebabkan kebakaran paling besar adalah pengeboman gereja pada awal tahun 2011, menyusul aksi penembakan terhadap Kristen Koptik di metro (kereta bawah tanah) beberapa waktu lalu. Semoga bola ketiga ini tidak digiring ke arah sentimen beragama.
Sebentar lagi, pemilihan presiden (Pilpres) akan segera digelar di Mesir. Rumor yang berkembang, penguasa yang mengangkangi Mesir selama 30 tahun itu, tetap akan melaju~sekalipun, putra mahkotanya disebut-sebut akan ikut maju bersaing dengan ayahnya. Sudilah kiranya pemerintah Mesir menyelenggarakan pilpres yang mewakili aspirasi rakyatnya. Seandainya pun harapan itu seperti mimpi di siang bolong, semoga segalanya berjalan dengan tidak anarkis (aku menerawang membayangkan sulitnya harapan itu terkabul).
________
“Di sini tidak ada demokrasi. Pemerintahan yang berlaku di negara kami adalah monarki. Jika dia mati, sang putra telah bersiap berdiri.” Kata perempuan Mesir itu padaku. “Saya tidak peduli.”
Aku pun mengingat-ingat obrolan-obrolan orang-orang kelas bawah di pinggir-pinggir jalan tentang harapan mereka terhadap negaranya. Semoga harapan itu tak menguap bersama asap sisha.
negeri ini begitu rupawan
namun debu menyembunyikannya.
negeri ini begitu indah
namun putus asa menyuramkannya
Aku hanya berharap, tempat permulaan peradaban ini, tempat pijakan para nabi ini, tempat torehan tinta para ulama ini, akan membaik, terobati, dan menjadi tempat bersemayam segala kedamaian.

6 thoughts on “Dari Tunisia Sampai ke Mesir

  1. Akhirnya nulis juga ya neng..Masa2 seperti ini pernah ada di bayangan saya bertahun2 yll ketika dan setiap ada pemilu di mesir..kenyataannya ternyata mesir masih butuh pemantik yang lain..

  2. mipiscina said: “Di sini tidak ada demokrasi. Pemerintahan yang berlaku di negara kami adalah monarki. Jika dia mati, sang putra telah bersiap berdiri.” Kata perempuan Mesir itu padaku. “Saya tidak peduli.”

    Nanti 2014 dan 2019 di Indonesia Mungkin Gw bakal bicara yang sama seperti wanita itu katakan…

  3. hahaha.. iya ceuaduh Mesir, Mesir…. katanya tanggal 25 nanti mau ada demo gede-gedean. kalo di internet mah dah ada sekitar 40ribu orang yang mau turun. bas musy ‘arfah da sah wala la. hehhehehe~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s