balada sekilo tomat di Mesir: dari sopir taksi, rekayasa Pemilu, sampai pembunuhan

Kamis, 14 Oktober 2010

Selepas mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing di Puskin, saya merasa capek secapek-capeknya. bukan saja karena hari sudah malam, tapi juga karena memang paginya nemenin anak-anak study tour ke Mubarak Science Center di bilangan 6th October. atas pertimbangan itu, saya pun memilih untuk pulang naik taksi sambil mengajak Teh Umi, salah seorang pengajar di Puskin.

seperti biasa, saya menyetop taksi putih. pertimbangannya sederhana; taksi ini menggunakan argo, jadi kita nggak perlu tawar-menawar harga. berbeda dengan taksi hitam. lagi pula taksi putih jauh lebih nyaman.

“Medinat nasr?” tanya saya.
“mesyi, fein?” tanya si sopir taksi
“Raba’ah”

Saya dan teh umi–juga kedua orang krucilnya–segera masuk. namun, belum lagi duduk dengan sempurna, sopir taksi sudah membuka percakapan yang nggak asik sama sekali.
“aku nggak mau pake argo, yaa..” ujar si sopir taksi sambil melirik ke arah kami.
“loh?”
“pokoknya nanti kamu harus bayar aku 30 pounds. ini argonya ga usah dilihat!”

saya mendadak pengin turun. namun, teh umi segera menyahut.
“kami naik taksi ini karena ada argonya..”
“kamu nggak tahu ya, harga tomat sekarang 10 pound sekiloooo!” katanya dengan suara dikeraskan.
“loh, kamu juga ga tau ya, di tempatku malah 15 pounds sekilo!” balas Teh Umi dengan ketus.
“wallahi?” tanya si sopir dengan ekspresi kaget.
“iya.”
“ya udah, tapi aku tetep ga mau pake argo karena harga tomat sekarang mahal.” sopir itu masih saja keukeuh dengan 30 pounds-nya.
“malesh da’wah ya aam. ga ada urusannya sama saya. kalo pas saya sampe biayanya 30, saya kasih 30. pokoknya saya bayar sesuai harga di argo!”

saya segera menyahut, “bas ya ‘aam. nanzil hena! udah, kita turun aja.” tapi taksi itu tetap melaju seiring dengan ucapan-ucapan ngaco sang sopir. sebetulnya kalau dalam kondisi seperti ini, lebih baik mencari taksi lain.
“ya udah, ya udah. kamu bayar sesuai argo.” sopir taksi itu pun menyerah. ia segera melempar pandangan ke luar taksi.suasana mendadak hening.

Taksi yang kami naiki dengan mulus menyapu jalanan antara Giza dan Kairo. jalanan terasa lengang dan saya pun mulai menikmati pemandangan di Sungai Nil. Saat yang paling indah di Kairo adalah ketika malam karena tiba-tiba saja kota yang didominasi warna tanah dan berdebu itu diselimuti cahaya-cahaya dari bangunan dan memantul ke sungai.
***
Sudah sebulan terakhir ini harga tomat di Mesir melambung menjadi 10–15 pounds sekilo atau sekitar 17.500 rupiah, padahal sebelumnya hanya 1,5 sampai 2 pounds sekilonya. hal ini sulit sekali dibayangkan karena bagi rakyat Mesir, tomat adalah salah satu makanan yang harus selalu ada. bisa dikatakan sebagai kebutuhan sangat primer bagi rakyat Mesir. Tingginya harga tomat yang melambung secara tiba-tiba ini seringkali menghiasi halaman-halaman media massa di Mesir dengan sebutan: Tomatim Junun atau “tomat gila”.

saya secara pribadi, awalnya tidak terlalu peduli dengan harga itu karena memang 1 kilo tomat bagi saya cukup untuk membuat banyak makanan. Namun, kejadian di taksi pada hari itu benar-benar membekas di hati saya; bagaimana seorang sopir taksi yang tak kami ketahui rimbanya, tiba-tiba meracau tidak jelas hanya karena harga tomat!

Lantas, saya pun cerita kepada suami saya. ia tertawa. namun, jumat paginya, ia segera memperlihatkan sebuah berita berbahasa Arab dari sebuah website. berita itu tentang tomat dan rekayasa Pemilu Mesir.

“Jadi gini,” katanya. “kenaikan harga tomat itu disinyalir segaja dilakukan untuk komoditas Pemilu dan ajang kampanye…”

dalam berita itu disebutkan seorang calon wakil rakyat menjual tomat dengan harga murah dan membagi-bagikan secara gratis di daerah Shubra el-Kheima. Modusnya, sebagian calon wakil rakyat ini memborong tomat dari distributor dengan harga murah, sementara tomat yang mendadak dikatakan “langka” dijual oleh distributor kepada masyarakat dengan harga mahal. di tengah hiruk-pikuk rumah tangga akibat tingginya harga tomat, datanglah para pahlawan pembawa tomat sebagai juru selamat. demikianlah kira-kira isi berita yang dapat saya simpulkan😀

jujur saja, saya sempat kaget. mengapa sempat? karena tentunya sebagai warga indonesia yang sudah terbiasa mendengar berita ‘malpraktik’ dalam kegiatan Pemilu di tanah air, sudah seharusnya saya tidak perlu kaget. ya, jadi seharusnya saya tidak perlu kaget lagi..

cerita tomat itu kemudian saya simpan di saku baju saya. tiba-tiba saya bersimpati dengan sopir taksi.
***
Sabtu, 16 Oktober 2010, saya pergi berdua dengan suami saya ke Puskin. saya mengajar seperti biasa, sedangkan suami saya mempersiapkan tutorial untuk mendampingi para mahasiswa yang ingin belajar bahasa Indonesia di Canal Suez University, Ismailia, pada akhir Oktober nanti.

pulangnya ia bercerita, “Cin, tau nggak, tadi ada berita serem loh!”
“apa tuh?” tanya saya penasaran.
“seorang istri mati di tangah suami hanya karena tomat.”
saya terpekik. “Kok bisa?”

Ceritanya, si istri kepingin tomat. kemudian, ia minta tolong kepada suaminya, yang bekerja sebagai buruh kasar, untuk membeli tomat. suami itu pun pergi mencari pesanan istrinya, tetapi karena harga tomat yang tidak sebanding dengan penghasilannya yang hanya 20 pounds sehari, ia pun kembali ke rumah dengan tangan kosong.

“malesh. maaf,” katanya.
sang istri tidak bisa menerima. terjadilah percekcokan, yang mungkin menyinggung perasaan atau jiwa kelelakian si suami. ia pun beranjak ke dapur dan mengambil sebilah pisau. setelah itu, ia melihat darah dan istrinya yang tiba-tiba saja tak bicara lagi.

saya sungguh tak ingin membayangkannya. saya tidak ingin menaruh suami malang tersebut ke dalam posisi antagonis dalam tragedi itu. benarlah predikat itu, ‘gila’. ‘tomat gila’. beberapa kalangan menjadi gila karena tomat, tetapi tentu yang lebih gila adalah mereka yang membuat harga tomat di sini menjadi gila.

nb.: tentang sopir taksi itu, karena argonya menunjukkan angka 21,75. maka saya pun membayar dengan jumlah yang tak terlalu jauh.

8 thoughts on “balada sekilo tomat di Mesir: dari sopir taksi, rekayasa Pemilu, sampai pembunuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s