Kejutan Sebelum Berangkat dan Asrama Hasan Basri (Episode Turki 2)

Kejadian-kejadian yang kami lalui di hari pertama ini betul-betul luar biasa. Setidaknya, Anda akan berpikiran sama setelah mengalami kejutan-kejutan yang membingungkan setengah mati. Yang paling mengerikan adalah ketika kami ingin mengambil paspor kami yang sudah dicap oleh konselor Turki.

“Tanggal 30 Juni nanti, datang jam 3, dan silakan Anda ambil paspor Anda!” Demikian kata-kata petugas itu kami pegang sepenuh hati hingga akhirnya kami pun memutuskan segera membeli tiket ke Turki tanggal 1 Juli.

34592_411992754708_3963148_n

Seorang lelaki berambut putih dengan topi pet biru tengah berdiri di depan pintu konselor Turki ketika kami tiba di sana pukul tiga lewat sepuluh menit.

“Lihat, aku sudah menunggu dari jam sembilan pagi, dan sampai sekarang pintu ini belum terbuka,” keluhnya sambil mebelalakkan kedua matanya hingga alisnya ikut terangkat.

Sore itu matahari masih saja menyengat hingga kami memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang rindang. Sambil menunggu, saya menyanyikan lagu lir-ilir bersama suami saya.

Satu jam berlalu dan pintu masih tertutup, seolah menyeringai sinis kepada orang-orang yang sudah menunggu sedari tadi. Tampak laki-laki berbaju putih dan berbadan kecil mendekati pintu itu, mengetuknya, menggedornya, hingga menggebraknya supaya pintu itu terbuka. Namun, usahanya belum berbuah hasil. Entahlah, mungkin ia lupa berdoa supaya Tuhan membukakan hati para petugas konselor itu.

“Iftah ya Simsim!” Ujar bapak yang telah menunggu sejak jam sembilan pagi itu mencoba untuk menggunakan mantra yang digunakan Alibaba ketika membuka gua berisi harta karun. Tentu saja mantra kali ini tidak akan pernah berhasil.

Empat puluh lima menit berikutnya adalah pemandangan orang-orang yang menerobos ke dalam konsuler setelah pintu keramat itu dibuka. Di sini antrean tidak berlaku untuk mengambil kembali paspor yang sudah diberi visa. Konsuler pun menjadi seperti tempat antrean sembako dengan teriakan di mana-mana.

Saya dan lima perempuan lain yang datang sore itu membuat barisan sendiri karena kami mendapat prioritas pelayanan dari petugas. Hanya ada satu dari kami yang berhasil mendapatkan kembali paspornya di antrean pertama. Selebihnya, “Silakan Anda tunggu 15 menit lagi.” “Silakan Anda tunggu 30 menit lagi.” “Silakan Anda datang lagi besok.”

Berhubung saya ada di kelompok yang menunggu 15 menit lagi, maka tidak lama kemudian giliran saya pun tiba. Namun, apa yang terjadi? “Maaf, paspor Anda belum bisa diambil.” Ketika itu jarum jam berada di angka enam. Kami sudah menunggu selama tiga jam.

Beberapa kali kami kembali, tetapi jawaban petugas tetap sama. “Besok datang ke sini jam 9, dan Anda akan mendapatkan paspor Anda.”

“Mana mungkin balik ke sini jam 9 pagi. Kami akan berangkat besok jam 10.” Kata suami saya. Dan ketika kata-kata itu meluncur dari mulutnya, ia pun menjadi pusat perhatian karena semua mata memandangnya. “Dengar, petugas yang kemarin bilang, sekarang kami harus kembali ke sini jam tiga untuk mengambil visa. Kami sudah memesan tiket untuk besok, masa sih harus dibatalkan?”

Ma’alisy. Komputer kami rusak.” Seperti biasa, kata maaf dianggap jurus paling ampuh untuk menyelesaikan pembicaraan.

35726_411998874708_5445821_n

Kami tetap di tempat kami sampai jam delapan malam bersama seorang bapak yang nasibnya serupa dengan kami. Namanya Amru, orang Mesir yang lebih suka memakai bahasa Inggris.

“Gimana ini, lebih baik kalau dari kemarin petugasnya bilang saya nggak bisa mengambil visa hari ini. Jadi, saya nggak perlu pesan tiket untuk penerbangan besok pagi.”

Kami bersimpati. Tapi di satu sisi kami lega karena ada orang yang bernasib sama.

Saya merasa pesimis. Rasanya, persiapan yang telah kami lakukan menjadi hambar, dan tiket yang sudah kami beli akan hangus begitu saja. Di saat-saat seperti itu, Sumer Spahui menjelma oase bagi kami.

“Ginanjar, kamu pulang saja dulu. Istirahat. Nanti jam dua belas malam kita akan pergi lagi ke konsuler,” ujar Sumer dari balik telepon kepada Kak Aceng.

Apa lagi yang bisa kami lakukan selain menyetujuinya? Azan Maghrib berkumandang dan kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan pulang, kami berpegangan tangan. Mencoba optimis menunggu jam dua belas malam.

****

Saya sedang mengepak barang-barang ketika ponsel saya berdering. Kabar yang saya dengar rupanya sangat manis. Lelaki yang saya sebut ‘Cinta’ itu pulang dengan senyum yang saaaaangat lebar. Visa itu saya lihat empat jam sebelum kaki saya melangkah menuju Bandara Internasional Kairo. Tapi, tidak masalah. Kata orang, semakin sesuatu susah didapat, semakin disayang.

Berkat visa itu, saya dapat menikmati pemandangan di Turki dari balik shuttle bus. Pemandangan yang berlalu, tak ubahnya seperti Jakarta, hingga dari ambalik jendela saya melihat sebuah masjid berasitektur khas Turki berdiri tegak di antara rumah-rumah. Ya, ini Turki. Salah satu negara yang sangat ingin saya tapaki sejak saya melihat foto Hagia Sophia dan Sultan Ahmet Camii di sampul buku SD saya, Nurul Fikri.

“Kita akan turun,” kata Yusuf sambil bangkit dari tempat duduknya.

Setelah menyambung dengan taksi, kami turun di depan asrama Hasan Basri (semacam pesantren khusus untuk menghafal Alquran). Asrama itu berdiri megah di samping masjid. Seseorang yang kami kenal tampak keluar dari mulut pintu asrama.

“Emek Abi!” Ujar Kak Aceng kegirangan sambil menyalami dan memeluknya. Lelaki yang sedikit tambun itu pun membalas pelukannya.

“Ayo makan, kalian pasti capek.” Emek Abi memberi isyarat kepada kami untuk mengikutinya.

Saya berdecak kagum melihat asrama itu. Bersih, rapi, terang, serta diisi oleh orang-orang bersenyum manis serta berhati mulia. Di beberapa bagian ruangan yang saya lewati terdapat kumpulan-kumpulan lelaki yang entah sedang melakukan apa. Hasan Basri adalah asrama untuk laki-laki. Maka, jangan salahkan saya jika ketika itu saya merasa menjadi perempuan paling cantik di sana.

Yusuf mengangkat nampan yang berisi makanan ke meja kami. Saya sedikit mengernyitkan alis karena makanan-makanan itu tampak begitu aneh. Tapi, apa yang harus kami pikirkan ketika kelaparan selain segera menyantap makanan itu?

-Umraniye, 1 Juli 2010-

**Keterangan foto:
1. Di bandara bersama Sumer, Yusuf, dan Hafiz
2. Salah satu sudut di asrama Hasan Basri yang digunakan oleh para santri untuk bersantai
3. Makanan pertama yang kami makan: makaroni, bayam dan yoghurt, serta sup ‘lidah burung pipit’

5 thoughts on “Kejutan Sebelum Berangkat dan Asrama Hasan Basri (Episode Turki 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s