Tiba di Bandara Sabiha Gokcen (Episode Turki 1)

Saya dan suami saya melongokkan muka ke arah jendela pesawat. “Ini Antalya,” kata Adem. “Dan kita mulai memasuki Turki.”

Adem, lengkapnya Adem Ozturk, adalah seorang mahasiswa warga negara Turki yang duduk di samping kami. Hal itu tentu saja menjadi keberuntungan bagi kami sebab sedari di pesawat, kami sudah mempunyai travel guide. Dan begitulah, dari Antalya hingga akhirnya kami mendarat di Bandara Sabiha Gokcen, Adem tak bosan-bosannya menceritakan Turki kepada kami.

34592_411992749708_1707707_n

Perasaan saya mulai berlarian ke mana-mana tentang pengalaman apa yang akan saya dapat selama di sana. Namun, satu hal yang selalu saya dengungkan selama perjalanan adalah permohonan kepada Allah agar menjadikan perjalanan ini penuh dengan keberkahan, pencerahan, dan pendewasaan.

Jam menunjukkan angka dua belas lebih dua puluh lima menit ketika seorang pramugari memamerkan senyum terindahnya sambil berkata bye, see you later. Para penumpang pesawat mulai keluar menuju bagian imigrasi. Begitu pula dengan saya.

Seperti biasa, senyum adalah hal yang mahal bagi para petugas imigrasi. Beberapa penumpang pesawat tampak dianggap kurang memenuhi syarat sehingga perlu introgasi lebih lanjut. Terlebih lagi, mayoritas penumpang pesawat kali ini adalah para penduduk negara dunia ketiga: Mesir—dan termasuk kami, Indonesia. Saya pun sempat berpikir, mungkinkah nasib saya tidak akan terlalu jauh dari mereka?

Maka ketika petugas imigrasi berbaju biru itu menatap wajah saya, saya jadi merasa tidak enak sendiri. Tatapan mata yang pertama, mungkin biasa, tapi tatapan yang kedua dan ketiga mulai memberi dampak psikologis dan terasa mengiris ulu hati. Ia pun memberikan paspor saya kepada petugas lain. Dan petugas lain itu mulai melihat ke arah saya beberapa kali. Saya sempat berpikir apakah wajah saya mengalami metamorfosis seperti seekor ulat yang menjadi kupu-kupu hingga begitu sukar dideteksi kemiripan antara foto paspor dan sosok aslinya? Saya tersenyum. Setelah mencuri pandang untuk yang kesekian kalinya, petugas itu pun mengecap paspor saya.

Sumer dan Adem yang sudah sejak tadi menunggu di depan tampak sumringah. “Selamat datang di Turki!” Ya, selamat datang di Turki, kota pertemuan segala peradaban dunia.

“Ini bukan Bandara Attaturk, ya?” Tanya saya kepada Adem.

“Ya, ini Bandara Sabiha Gokcen, perempuan pilot pertama di Turki.”

Tak berapa lama, Kak Aceng mendekati kami dengan senyuman termanisnya. Maklum, salah satu impian hidupnya kini tercapai: Turki.


Senyum itu semakin manis dan mengembang ketika didapatinya dua orang sahabat telah menunggunya di depan bandara. Mereka adalah Yusuf dan Hafiz~dua lelaki baik hati yang pertama kali bertemu kami di masjid Amr ibn Ash.

Mereka bertiga saling berpelukan, melepaskan kata-kata rindu, memuji-muji. Untunglah saya tak sampai hati untuk merasa cemburu. Yusuf dan Hafidz membawa kami ke shuttle bus yang boleh memasuki jalan tol. Kami pun menelusuri jalan raya yang belakangan kami ketahui bernama Umraniye.

Hafiz dan Yusuf membawa kami ke Asrama Hasan Basri untuk bertemu Ustadz Emek (atau Emek Abi) dan melihat-lihat asramanya. Seperti biasa, Emek Abi selalu tersenyum dan dengan hangat menyambut kami. Makanan khas Turki sudah tersedia di meja kantin, dan terasa sekali bahwa memang persaudaraan tidak mengenal batas. Dari mereka, orang-orang berhati mulia itulah, kami belajar banyak.

(Turki, 1 Juli 2010)

9 thoughts on “Tiba di Bandara Sabiha Gokcen (Episode Turki 1)

  1. mipiscina said: wajah saya mengalami metamorfosis seperti seekor ulat yang menjadi kupu-kupu

    terlalu indah :Phehehebunda kesenengan didongengin kisah kamu ceu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s