Suatu Hari di Kedutaan Turki

Saya menyambut Ahad, 27 Mei Juni 2010 dengan sangat malas. Bagaimana tidak, saya baru tidur ketika mas khanteng bangun. Walhasil, ketika dia pergi ke kedutaan Turki, saya memutuskan untuk melanjutkan tidur di flat.

Namun, rencana saya tidak berjalan mulus karena tiba-tiba ponsel berdering dan saya diminta untuk menyusul ke kedutaan Turki. ohhh tidaaakkkkk.. karena itu berarti saya harus mandi, menyeterika, menyetop bus, dan menahan kantuk di metro. Saya turun di Stasiun Sadat yang populer dengan sebutan “Tahrir”. Dari sana saya berjalan ke mogamma dan menyusuri jalan yang tidak dekat sampai kedutaan Turki.

Sebuah bangunan yang eksotik bercat krem-merah berdiri di samping cafe shisha. Akhirnya sampai juga. Namun, mendadak perasaan saya jadi tidak enak demi melihat antrean orang-orang yang mengular ke luar.

“maalisy, gozi hunak,” (sori, laki gw di sana) ujar saya kepada satpam. Saya pun masuk ke ruang tunggu. Di sana ada Kak Aceng. Ia tersenyum melihat saya. Tapi percayalah, senyum seringkali berarti ironi~dan arti senyum kali ini “lihat antrean ini, mungkin kita harus tidur di sini sebelum nama kita dipanggil.” hehehe…

Saya menyandarkan punggung saya ke tembok. Seorang perempuan muda dengan rambut keriting sempurna tiba-tiba berdiri di depan saya. Ia mengibaskan rambutnya yang dicat pirang. Saya membayangkan debu-debu bertebaran dari sana~tapi tentu hanya bayangan!
Ya Tuhan, ini cobaan baru berikutnya. Ia tipikal perempuan yang bebas berkendak. Maka, ia pun menengokkan mukanya kepada saya,
“Bisa geser, aku mau duduk di sana,” katanya sambil menunjuk ke lantai yang tengah saya pijak.
“Tentu, silakan.”

Perempuan itu membiarkan kertas rekening bank-nya menjadi alas duduknya. Sementara matanya sibuk menggerayangi peta perjalanan yang akan ia lalui selama di Turki. Serentak kami–saya, suami saya, dan Sumer (kawan suami saya dari Turki)–menoleh ke arahnya. Entah takdir atau kebetulan, perempuan itu pun menoleh ke arah kami.

“Hei, kamu orang Turki bukan?” Tanyanya kepada Sumer.
“Ya”
“Boleh tolong aku, aku lagi bikin pertimbangan tentang rute yang bakal aku ambil.”

Dan kami berempat pun terlibat perbincangan yang cukup dapat melupakan mumetnya antrean kali itu.

Nama perempuan itu Moroogh (tapi saya menangkapnya ‘murur’ (jalan raya), dan dia tidak marah). Ia tidak tipikal perempuan Mesir kebanyakan. Ia bercerita bahwa ia sangat suka jalan-jalan, dan sudah banyak negara yang ia sambangi. Mulai dari Asia Tenggara, India, Srilanka, Amerika, Amerika Latin, London, Eropa, Afrika, dan entah lagi.

Pantas saja ia terlihat menguasai rencana perjalanan ke Turki kali ini.

Setelah beberapa jam menunggu, kami bertiga mulai gelisan. Tapi Moroogh lebih-lebih lagi, sehingga saya tidak tahu harus membahasakannya seperti apa. Sebentar-sebentar ia menghampiri pos satpam untuk melihat urutannya.

“Tau nggak, masa aku ada di urutan 120! Kamu ada di urutan berapa?”
“Tujuh puluh,” jawab Kak Aceng.

Dan begitulah waktu berlalu bagi Moroogh, menghampiri pos satpam, melihat urutan, kemudian bergumam, “I’m going to die.. I’m going to die…” Seringkali ponselnya berbunyi. Beberapa kali dari ibunya, lalu adiknya, kemudian kucingnya…

“Oh kokaaa… apa kabar? kamu sudah baikan? hmm.. miaw miaww…” ujarnya kepada kucingnya yang berada di balik ponselnya itu. Setelah selesai melepas kangen dengan kucingnya, ia berpaling ke arah kami sambil menyodorkan sebuah gambar di ponselnya.

“Lihat, ini Koka. manis bukan? umurnya hampir 4 bulan. Tapi kasihaaan.. sekarang dia sedang sakit. uuu,,, Koookaaa…”

Kami pun menciptakan raut muka berbela sungkawa.

Badan saya mulai panas. Rasanya ingin pulang saja setelah menunggu berjam-jam lamanya. Tapi, Sumer selalu melarang, “sebentar lagi, sebentar lagi.”

Satu per satu pengaju visa mulai tumbang, Seorang bapak yang cukup gemuk duduk di atas tempat sampah. Laki-laki berbaju hitam yang belakangan namanya terdeteksi–Ahmad Habib, mulai bersandar ke laki-laki yang ada di sampingnya. Matanya terpejam, dan rambut a la jamaika-nya menyentuh muka laki-laki di sampingnya.

Dua jam kemudian, Ahmad sudah dalam posisi terlentang. Ya, terlentang. Sepertinya dia adalah pengaju visa yang paling sedikit dosanya karena paling sedikit serapahnya (yaiyalah..secara tidur terus).

Moroogh mulai mengoceh lagi, “Ibuku nggak percaya kalau aku masih di sini,.. ya ampun, aku bakalan mati sebentar lagi.”

“Lihat, sekarang jam empat dan kamu belum dipanggil. apa mungkin aku harus nunggu sampai besok subuh, baru namaku dipanggil. aku bakalan mati sebentar lagi..”

Sumer mulai mengantuk. Kak Aceng juga tak beda jauh. “Kita tunggu sampai jam 5 sore, setelah itu pulang.” Saya pun setuju. Bukan apa-apa, tapi apa lagi yang bisa saya lakukan selain setuju.

Hampir jam lima dan Moorogh terus mengawasi presensi pemanggilan. “Sebentar lagi giliranmu.”

Dan benar saja. Kami dipanggil ke dalam. Yang menerima kami namanya Ust. Sahid, dan dia orang yang ramah dan murah senyum. Tak berapa lama, pengajuan visa kami diterima.
“Kapan mau berangkat?” Tanyanya
“Secepatnya, Ustadz.” Jawab kami.
“Kalau begitu, hari Rabu nanti silakan kembali ke sini.”

Saya merasa girang membayangkan rencana liburan kali ini meskipun cekaman bayangan mahalnya biaya perjalanan di sana semakin menghantui.
Tapi, kami punya Allah, dan Dia Maha Pengasih.

“Selamat yaa..” Kata Moorogh. Orang-orang melihat ke arah kami seolah berkata “mabrukk mabrukk..”

Kami pun undur diri pada jam 5 sore. Kami pulang dari Tahrir ke Nasr City dengan taksi. Tak lupa pula mampir ke Nile Thailand Resto untuk memanjakan perut. Delapan jam yang cukup melelahkan kini terasa menyenangkan..🙂

Saya masih membayangkan perempuan dengan nomor urut 50 setelah saya, Moorogh.

//

9 thoughts on “Suatu Hari di Kedutaan Turki

  1. kak ani: hehehe.. makasih mbak. doain yaa moga perjalanannya menyenangkan.mbak Linda: iya, maklum musim panas. jadi yang antre pun bejibuuuunnnn.. tapi kabarnya kalau musim dingin antreannya lebih masuk akal. hehehe

  2. Kabar terakhir Istanbul lagi banjir Boy, kemaren sih Om SBY kena macet gara-gara banjir –iniseriusBukanKarenaIriBlomBisakeTurki– semoga pas loe dan Mas Khanteng di sana kondisinya lebih baik…selamat liburan

  3. sumpeh, ini siapa yang nulis.kayaknya itu bukan aku yg komen lho ceu.baca aja baru nih..tapi baguslah aku dibeliin oleh2.haaaa? oleh2 apaan noh yang pake acara gantian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s