Winter story 1: Masjid Ibnu Thulun and Amir Taz Palace

Kamis (24/12/09) kemaren kan rencananya saya mau melampiaskan hasrat yang merindu dendam kepada sesuatu yang namanya “jalan-jalan”. Akhirnya, setelah melakukan musyawarah dengan mas khanteng, bermufakatlah kami: Piramid.

Maka, malam pun menjadi sangat riweuh dengan aktivitas nyari pinjaman kamera (thanx to ust. munaji’s family for the camera :D). paginya, kami siap berangkat ditemani seporsi mie goreng, enam buah bakwan udang, 1,5 liter air mineral, dan sebotol jus anggur merah.

Dengan semangat 45, kami menunggu bus ac 375 coret tujuan Piramid dari halte di dekat rumah. tapi apa daya, 45 menit menunggu rasanya cukup membuat hidung yang awalnya kembang kempis menjadi kaku. kami pun memutar haluan!

Setelah melihat situasi dan kondisi, kami memutuskan untuk menjelajahi bilangan Kairo Lama. dari halte ‘abd robb rasul–yang deket restoran sea food ‘Aam Gambari (Paman Udang [Ind.], btw, nama restoran yang aneh), kami naik tramco ke Rab’ah, dan disambung lagi dengan tramco tujuan sayyeda aeshah.

Kami turun di maydan (bundaran) Shalahuddin: sebuah bilangan yang dikerumuni oleh bangunan-bangunan bersejarah peninggalan dinasti-dinasti Islam Mesir: benteng shalahuddin yang gagah dan besar, masjid kembar syaikh kutub tarikat ahmad rifa’i dan sultan hasan (dengan corak arsitektur gotik), makam syah Iran Muhammad Reza Pahlavi, masjid al-Mahmudiyyah dan masjid Qainbay ar-Rammah yang eksotik. dari sana kami menelusuri jalan besar, kecil, dan setapak untuk mencapai masjid Ibnu Thulun, yaitu jalan Saliba. berhubung Mas khanteng lebih berbakat jadi juru foto, akhirnya saya yang kebagian jadi objek fotonya–yang sialnya ternyata sama sekali ga ada bakat jadi foto model.

Di sepanjang perjalanan, saya seringkali menutup hidung. percaya atau tidak (tapi sebaiknya percaya), di pojokan jalan banyak banget jejak-jejak artistik peninggalan orang yang habis buang hajat. ada yang tertimbun pasir, sudah kering kerontang, sampai yang masih kuning hangat, berbaur dengan bau pesing. benar-benar mengerikan.

ternyata, perjalanan yang kami tempuh lumayan juga, sekitar setengah kilo meter. tapi tetep asyik dong secara JJM alias jalan-jalan mesrong. cis! Dan akhirnya sampailah kami di area masjid Ibnu Thulun di bilangan Qatha’i. Masjid Ibnu Thulun dibangun di abad ke-9 M, dimasa pemerintahan Gubernur imperium Abbasiyyah (dengan pusat ibu kota Baghdad) Ahmad ibnu Thulun, yang kemudian memiliki hak pemerintahan otonomi dari kekhalifahan Baghdad, untuk kemudian menjadi dinasti tersendiri (dinasti Thuluniyyah atau Tulunid) selama kurang lebih satu abad.

Di kompleks masjid Ibnu Thulun, rupanya, banyak juga turis yang lagi jalan-jalan ke sana. di depan palang menuju lingkungan masjid, kami melihat jejeran mobil travel. Tapi kok nama travel yang tertulis di beberapa mobilnya aneh-aneh yak: dari mulai yang namanya “Clean travel” alias “Biro Perjalanan Bersih” sampai “Ginger travel” alias “Biro Perjalanan Jahe.” saya berpendapat, namanya sangat kreatif dan agak keluar dari batas nalar saya sebagai orang biasa.

dari luar pun saya sudah bisa menebak betapa gagahnya masjid ini. sampai di sana, suami saya a.k.a Mas Khanteng langsung mengajak saya menuju menara. beruntungnya saya punya suami yang dulunya tukang maen. hohoho😀

ternyata di sana memang jadi tempat incaran para turis karena ketika kami ke sana, sudah banyak bule-bule yang berfoto ria. suami saya sibuk memfoto pemandangan yang menakjubkan (tentunya sudah termasuk saya). kami juga iseng-iseng foto berdua, cuma kok ya jadinya close-up banget..

 

dari menara, kami turun untuk salat zuhur. selain itu, kami juga membaca sejarah masjid ini, juga pemugaran-pemugaran yang dilakukan untuk kembali meremajakan masjid ini.

Keluar dari masjid, rencana awalnya sih kami mau lanjut ke Museum Anderson–tinggal koprol sekali langsung nyampe. tapi, setelah melihat diskriminasi harga tiket masuk yang sangat jauh antara orang asing dan orang Mesir, kami pun jadi merasa malas. apa-apaan ini! orang mesir hanya dipungut 1–2 pound, sedangkan orang asing 35 pound. yahh..kan kesel. Ya sudin, kami segera keluar.

dari sana kami memutuskan untuk berjalan ke arah Amir Taz Palace alias istana Amir Taz. dalam perjalanan menuju ke sana, lagi-lagi saya harus menutup hidung.

sebetulnya, bangunan-bangunan di sepanjang jalan menuju Istana Amir taz terbilang menawan dan berkarakter, tapi ya..namanya juga nggak dirawat. sambil berpegangan tangan (SADUYYY…) suami saya bercerita kalau dulunya, bilangan ini adalah pasar internasional. dan mengalirlah cerita lainnya. kadang saya bingung sama daya serap suami saya tentang sejarah.

memasuki Amir Taz, kami disambut kumis baplang paman penjaga istana. kami melangkahi metal detector, razia tas, lalu sambil tersenyum paman itu mempersilakan kami (untunglah ia tidak shock melihat bekal yang dibawa di dalam tas kami😀 ). “tafadhal…,” katanya mempersilakan.

keterangan tentang istana ini ditulis dengan bahasa Spanyol dan bahasa Arab. Loh, kenapa nggak pake bahasa Inggris saja, ya? saya jadi berpikiran mungkin saja proyek peremajaan istana ini dibantu oleh lembaga kebudayaan–atau yang jenisnya–Spanyol. Soalnya, waktu saya jalan-jalan ke Gereja Mar Girgis, tulisan-tulisannya banyak yang pake bahasa Yunani. eh… usut punya usut taunya emang dibantu sama kementrian apanya Yunani gitu.

Istana ini ternyata emang luar biasa (dibuat pada awal abad ke-14), oleh Amir Saifuddin bin Taz, salah satu panglima dan raja dinasti Mamluk (Mamalik) Bahriyyaah. Jan..jan.. minta ampun deh emang kalau ngeliat sisa-sisa peradaban Islam di sini. istilahnya, ini istana bener-bener pelepas penat dan penawar dahaga banget..indah, rindang penuh pohon, ramah, eksotik, dan menenteramkan.

dan yang paling saya senang adalah: kami masuk dengan gratis. Yang saya lihat di sana adalah kamarnya yang besar-besar; sudah ada generator buat mengalirkan air di seluruh istana; ruang rapat yang indah; balairung, kamar-kamar yang megah, rang-ruang istana bertingkat-tingkat (ada sekitar 3 sampai 4 tingkat), kamar mandi dan hamam (sauna) yang luar biasa; dan tempat-tempat lain yang saya belum bisa deteksi. hehehe…

saya juga sempat mencari-cari tempat para harem dengan pengetahuan ala kadarnya bahwa–yang saya baca-baca loh yaa..– biasanya, harem-harem ditempatkan di ruangan yang kaca jendelanya kecil. nahhh.. saya nggak nemuin ruangan yang seperti itu. Tapi, memang ada spot spot yang terlarang dan sayangnya terkunci, sehingga kami tidak bisa menyusup seperti sepasang detektif.

oh ya, istana ini dilengkapi dengan museum dan ruang pameran lukisan. istilahnya paket jalan-jalan 3 in 1. Di museum, ada batu-batu, ukiran, keramik, peluru meriam, sampai surat-surat yang ada stempelnya. selain itu, ada juga kisah tentang Amir Taz yang dipampang di banner horizontal yang sangat menarik. setidaknya saya jadi tahu, bahwa Amir Taz dinobatkan menjadi raja dan panglima pada usia di bawah 15 tahun. dan dikatakan, bahwa ia memang menempa pendidikan keilmuan sekaligus militer dengan sangat keras.

Di ruang pameran lukisan tentu saja kami menikmati lukisan. tapi, kok semuanya lukisan orang Spanyol, ya? dan di ruangan ini pula baterai kamera mati.

informasi yang tak kalah pentingnya adalah to
ilet umum di istana ini terhitung sebagai toilet umum terbersih dan terwangi di Mesir. semuanya keramik dan lantainya kering. oke, ini adalah hal yang sangat langka.

Selesai dari Istana Amir Taz, kami kembali berjalan ke arah Benteng Salahuddin: menunggu bus yang akan membawa kami ke Stasiun kereta bawah tanah alias metro anfak, menuju tempat saya mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing.

4 thoughts on “Winter story 1: Masjid Ibnu Thulun and Amir Taz Palace

  1. gihihihi..ngedouble post di fs dan mp juga jadinyaaa…seru-seru…lagi ngejar seri pejalan tangguh nih, ngedit dan nambah.SIC gimana kabar, katanya mau jadi kelas internasional Lu? Adik-adikku itu potensinya pada luar biasa loh Lu, aset berharga didik baek-baek yaa…kenalin sama karya2 sastra nasional biar buka wawasan dan dunia indah mereka.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s