hari pertama di level 7

Masuk kelas dengan berbaju batik, saya memilih duduk di dekat pintu sambil mencermati hasil ujian akhir level 6 yang baru saja dibagikan (imtihan akhir mustawa saadis). Hmmm… hasilnya nggak terlalu bagus. hanya betul 72 dari 100 soal. hikkkkkkssssss….. kayaknya selama 4 bulan ini les bahasa Arab, itulah hasil yang paling kurang menggembirakan.

Memang, semakin tinggi level belajar kita, tantangannya akan semakin banyak. saya nyaris dibuat menyerah karena merasa tak sanggup lagi berhadapan dengan grammar-grammar Arab. Kaidah-kaidah kebahasaannya pun semakin membutuhkan kerja keras untuk dipahami. Tapi dengan semangat ’45 saya akan terus berjuang melalui ini semua. SEMANGAAATTT!

Hari ini saya dapat kawan baru lagi, meskipun di kelas yang sekarang lebih banyak yang berasal dari satu rumpun Melayu. Ada 7 orang Thailand, 1 Malaysia, 2 Kirghistan, dan 1 orang Turki. Di kelas ini, saya merasa semakin tertantang karena mereka semua pintar-pintar dan fasih menggunakan bahasa Arab. Bahkan, boleh dibilang mungkin saya anak yang paling bawang. hehehe…

Ustadzah yang mengajar masih sama dengan ustadzah yang mengajar saya di level 6: ustadzah ‘Afaaf Jum’ah–yang hari ini genap 34 tahun. Kepada saya beliau bertanya tentang apakah saya sudah tahu kesalahan saya. Saya jawab, “na’am yaa ustadzah. ana aasifah, nasiitu muraadifuhum, wa ‘aksuhum, wa aidhan jamma’uhum. saudzakir marratan ukhra fii baitii. Insya Allah.”

(iya ustadzah, saya lupa pelajaran sinonim, antonim, dan bentuk jamak. saya akan ulangi lagi di rumah, Insya Allah)

Pelajaran dimulai dengan kalimat: كيف تفضين فراغك؟ apa yang kamu lakukan di waktu luang? Semua orang diharuskan menjawab. Begitu pula saya. saya menjawab dengan bahasa yang sangat standar, sehingga kata ustadzah: “bagus, itu bentuk kalimat yang tepat, tapi saya tidak mau demikian, saya mau kamu membuat gabungan kalimat yang lebih tepat dan indah.” Itu teguran pertama. Kawan-kawan pun mulai memberi jawaban. Saya perhatikan bahasa mereka. semuanya mampu berbahasa Arab dengan baik–setidaknya dibandingkan saya. ini pertama kalinya saya masuk ke kelas yang hampir semuanya aktif bicara, dan sesuai dengan tartib bahasa Arab. Saya berada dalam posisi antara minder dan terlecut. tapi sabodo teuing lah… lebih baik PD tapi salah-salah dikit ketimbang diem tapi ntarnya nggak ngerti apa-apa.

hmmm…menunggu episode besok! mudah-mudahan saya mampu melewati ini semua.

keterangan foto: ustadzah siham (guru bahasa Arab saya yang pertama dan punya hati sangat lembut); noi (kawan dari Thailand yang nikah dengan orang Banjar, Indonesia); dan saya)

7 thoughts on “hari pertama di level 7

  1. ceumimin said: C Turki sapa namanya neng…Wiih hebat atuh dapat 74…keren..Pantesan ngga pernah main ke Dokki…Sibuk nya bageur..

    namanya Gul, Teh. mirip-mirip gitu sama nama Presiden Turki. hehehe… tapi yang ini mah ternyata memang belajar di Mesir, Teh. tepatnya di Cairo-Univ, jurusan hukum.hehehe… iya teh, punten belum main2 lagi. soalnya waktu lesnya nanggung. kemarin dari jam 2–4, sekarang malah dari jam 4–6. HIKSSS… padahal kan biasanya pagi>__<tapi sebelum ramadhan insya Allah kami rencananya mah mau main ke rumah Teteh..^^

  2. mipiscina said: ah, mbak ita memang suka merendah…..^^

    lha ga percaya?? kemarin ketemu temen sekelas tahsin, ternyata setelah tanya-tanya cuma saya aja yang tersingkir dari komunitas sholehah itu…sedihnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s