Kanizah Mar Girgis, Sinagog Ben Ezra, dan Masjid Amr ibn Ash

Kamis kemarin, kami–saya dan Kak Aceng–berjalan-jalan ke Mar Girgis, sebuah lingkaran wilayah yang di dalamnya terdapat gereja-gereja tertua di Mesir. Dari rumah, kami naik bus ke arah Stasiun el Damr Dash untuk kemudian naik metro (subway) ke daerah Mar Girgis.

Kami berpisah gerbong. saya di gerbong khusus perempuan, sedangkan Kak Aceng di gerbong umum. Maka, sepanjang perjalanan mata saya sering sekali mencuri pandang ke arah penanda stasiun. Sedang di manakah saya gerangan? Maklum, takut nyasar.

Tiba di Mar Girgis, pandangan saya langsung jatuh ke arah salah satu gereja tertua di Mesir. Kanizah el-Mu’allaqa (The hanging church atau Saint Virgin Mary Coptic Orthodox Church). Bangunannya kuno, dan Mesir sekali. Maksud saya dengan “Mesir sekali” adalah nyaris serupa dengan arsitektur masjid-masjid di Kairo yang pernah saya sambangi. Setidaknya hal ini menjadi salah satu ayat bahwa memang antara muslim dan non-muslim terdapat keterpengaruhan seni arsitektur.

This slideshow requires JavaScript.

Yang menyenangkan dari kanizah ini adalah suasananya yang nyaman dan nuansa seni-nya. Halamannya luas dan teduh dengan pepohonan. Dinding-dindingnya ramai dengan lukisan dan ornamen, di antaranya mungkin ada gambar-gambar yang diimajinasikan sebagai Ibunda Maria, al-Masih, dan Konstantin. Tapi itu kan hanya dugaan, saya sendiri tidak tahu lukisan apa itu sebenarnya.

Kanizah ini merupakah salah satu yang tertua sekaligus terpopuler di Kairo. Dibangun pada abad ke-4 di atas benteng Babilonia yang dibangun oleh bangsa Romawi. Di teras dalamnya terdapat foto-foto para “saint” yang pernah memimpin kanizah itu, sebermula dari Saint Marc hingga Baba (Pope) Shenouda.

Memasuki ruang utama kanizah, interiornya terlihat semakin indah. ukiran-ukiran serupa kaligrafi bertebaran di mana-mana, begitu pula dengan lukisannya. Beberapa jemaat Koptik Ortodoks tampak sedang beribadah di depan altar yang berlukiskan The Virgin Mary, kemudian berjalan dan menyalakan lilin. Atap kanizah ini sangat tinggi (mirip dengan masjid-masjid Kairo tempo dulu) sehingga hawa di dalamnya tidak terasa panas.

Dari Kanizah el-Mu’allaqa, kami berjalan menuju Mar Girgis (The Church of Saint George). Berbeda dengan el-Mu’allaqa yang banyak terpajang kaligrafi-kaligrafi Arab, di Mar Girgis kami hanya menemukan tulisan-tulisan Yunani. Maklum, yang memelihara bangunan ini ternyata kementrian Yunani.

Lingkungan Mar Girgis memang lebih luas dibanding el-Mu’allaqa, di dalamnya terdapat ruang uzlah (mengasingkan diri) para ahli ibadah dan juga ruang penyiksaan. Namun, kanizah ini rupanya tidaklah terlalu ramai dibandingkan Mar Girgis. Ketika kami masuk, hanya ada seorang ibu yang tengah berdoa sambil menyedekahkan uangnya untuk pemeliharaan kanizah. Atap Mar Girgis bentuknya lebih mirip dengan atap-atap bangunan bermodel Gothic. Menjulang, bentuknya bulat, dan terdapat lukisan besar di kubah bagian dalamnya. Lukisan itu dinamakan lukisan Yesus.

Masih di lingkungan Mar Girgis, di halaman belakangnya terdapat makam-makam para keluarga ahli ibadah dan petinggi kanizah. Lingkungan pemakaman itu tampak teduh sebab pepohonan rimbun yang mengisi halaman-halamannya. Jalanannya pun bersih terpelihara membuat kami memutuskan untuk meluruskan kaki sejenak di sana.

Dari sana, kami berjalan ke bagian bawah daerah Mar Girgis. Kami pun memasuki sebuah kanizah tua lainnya, yaitu Kanizah Abu Serga (The Church of Saint Sergius and Bacchus). Kanizah Abu Serga, menurut keterangan yang berada di dalamnya, dinamakan demikian untuk menghormati Sergius dan Bacchus yang mati sebagai martir karena membela kepercayaannya. Ia dibunuh di Syiria (Suriah) oleh Penguasa Roma Maximian.

Kanizah tersebut, yang juga kanizah tertua di Mesir, dipercaya sebagai tempat peristirahatan the Holy Family, Joseph, dan Mary. Di dalam kanizah ini terdapat ruang bawah tanah–sayangnya ketika kami ke sana, ruang tersebut tidak diperkenankan untuk dimasuki oleh pengunjung. Ruang bawah itu dalamnya sekitar 10 meter dan jika volume air sungai Nil meninggi, maka air sungai pun masuk ke dalam ruang bawah tanah tersebut.

Sebuah foto yang dipajang di atas pintu masuk ruang bawah tanah itu memuat gambar ketika air sungai Nil masuk ke dalamnya.

Keluar dari kanizah tersebut, kami melangkahkan kami menuju Sinagog Ben Ezra. Berbeda dengan ketika kami hendak memasuki kanizah, penjagaan pintu masuk sinagog ini terhitung ketat. Sebelum memasuki sinagog ini, terlebih dahulu kami memasuki metal detector. Penjaga pintu masuk itu bernama Muhammad dan seorang polisi yang menemaninya berjaga bernama Ahmad.

Ada dua tingkatan di dalam Sinagog Ben Ezra ini. Bagian bawah khusus untuk lelaki dan bagian atas untuk perempuan. Sementara itu, tempat untuk Rabi memimpin ibadah terletak di tengah. Sebuah mimbar dengan Torah di atasnya terlihat sebagai sentral di ruangan itu, sedangkan menorah (tempat naro lilin) simbol Yahudi yang tenar itu, terdapat di dua sisi bagian depan sinagog. Sayangnya, pengunjung dilarang memotret sinagog tersebut.

Awalnya, Ben Ezra merupakan kanizah milik umat Koptik. Namun, kanizah itu dijual kepada seorang Yahudi asal Jerussalem, Abraham ben Ezra, seharga 20.000 dinar. Ben Ezra datang ke Kairo pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiah, di bawah pimpinah Ahmad ibn Thouloun.

Sinagog ini juga menjadi tempat peribadatan seorang Yahudi asal Spanyol, Musa ibn Maimun (Moses Maimonedes), selama berada di Mesir karena bertugas sebagai dokter pribadi Shalahuddin al-Ayyubi.

Perjalanan kami di lingkungan Koptik ini pun berakhir. Kami bersiap melanjutkan perjalanan ke arah majid Amr ibn Ash. Masjid bersejarah yang letaknya berseberangan dengan kawasana tersebut.

Masjid Amr ibn Ash merupakan masjid pertama di Afrika, dan didirikan oleh Amr ibn Ash ketika berhasil membuka Mesir sebagai daerah kekuasan Islam di paruh tahun 20 Hijriah (pada masa kepemimpinan khalifah Umar). Masjid ini terletak di bilangan Fustath, Kairo. Dinamakan Fustath (tenda) sebab di sinilah kaum muslimin ketika itu mendirikan tenda dan beristirahat.

Di masjid inilah kami kembali meluruskan persendian, dan tentunya melaksanakan shalat zuhur. Saya–karena tidak shalat–bersandar di tembok masjid sembari menyaksikan keluasan (tidak megah sebagaimana masjid Syaikh Rifa’i dan Sultan Hassan) masjid tersebut. Sementara itu, Kak Aceng shalat berjamaah dengan para pelajar asal Turki yang tengah pelesiran ke Kairo.

Masjid Amr ibn Ash berbentuk kotak sempurna, bagian depan, belakang, dan sampingnya digunakan sebagai tempat shalat, sedangkan bagian tengahnya yang tanpa atap itu terdapat kubah yang dijadikan tempat wudhu. Dengar punya dengar–dan memang begitulah faktanya–di masa Dinasti Utsmani, masjid ini pernah dihancurkan sebab dipercaya bahwa Amr ibn Ash menimbun harta karun di bawah masjid itu. Namun, ternyata harta yang dimaksud itu tak ditemukan sama sekali. Itulah sebabnya mengapa wajah masjid Amr ibn Ash tidaklah serupa dengan wajah aslinya–pernah dihancurkan, kemudian dibangun kembali.

Di bagian pojok masjid ini terdapat sebuah ruangan yang menyerupai bentuk makam-makam yang biasa terdapat di masjid-masjid Kairo. Kabarnya, di sinilah dikuburkan Abdullah ibn Amr ibn Ash. Namun, kabar itu sendiri entah benar entah tidak karena ketika saya mengintip ke dalamnya lewat sebuah lubang, ternyata dalamnya lebih menyerupai gudang. banyak barang-barang yang tak lagi digunakan disimpan di situ. Memang, di bagian tengahnya terdapat ‘sesuatu’ yang mencurigakan. Nah, ‘sesuatu’ itulah yang kebenarannya tak saya ketahui.

Hari pun beranjak semakin tua, dan tampaklah sekelompok turis memasuki masjid. Yang perempuannya diharuskan memakai sejenis baju pocong berwarna hijau untuk menutup aurat mereka. Kami sendiri memutuskan untuk mengakhiri perjalanan ini sebab rasanya sudah cukup puas dan cap
ek.

Begitulah perjalanan kami ke kanizah, sinagog, dan masjid. Ketiga jenis bangunan tersebut masing-masing mempunyai keindahan yang–dalam bahasa Kak Aceng–berdialog satu sama lain.

Maka kami pun kembali menuju stasiun, menaiki metro dan memulangkan diri ke rumah kami di Kampung Sepuluh (Hayy al-‘Ashir)

ket. gambar: di dalam Kanizah el-Mu’allaqa

4 thoughts on “Kanizah Mar Girgis, Sinagog Ben Ezra, dan Masjid Amr ibn Ash

  1. selebardaunkelor said: wah seru kayaknya ceu lulu….

    ah mbak Ita, melihat sejarah ternyata memang sangat seru. Sayang, kesadaran itu baru tumbuh di negeri orang. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s