10

Perkelahian di Bawah Rumah

Malam tadi, saya baru akan beranjak tidur pada pukul 2 dini hari. Belum lagi saya sempat memejamkan mata, tiba-tiba terdengar keramaian di luar. Keramaian itu saya tafsirkan bukan sorak kemenangan orang-orang yang gembira karena Mesir berhasil menekuk Italia 1-0 di kejuaraan Piala Konfederasi, melainkan sorak yang bernuansa suram.

Benar saja. Ketika saya dan ka aceng melongok dari jendela, sudah ada dua kubu yang tengah berhadapan di samping lapangan futsal sambil membawa pentungan. Mereka beradu mulut dalam jarak dekat. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya, tapi kalau kata ka aceng, mungkin di antara gerombolan anak muda itu tadi ada yang mengganggu anak gadis sebuah keluarga.

Perkelahian nyaris tak terkendali saat pentungan mulai diangkat. Beruntung, datang masyarakat yang melerai mereka. Perkelahian kali itu tidak bisa selesai dengan kalimat, “shallu ‘ala an-Nabiy” seperti biasanya. Namun akhirnya, para orang tua yang berusaha melerai pun berhasil memisahkan dua kubu tersebut.

Semenjak kami pindah tempat tinggal dari Rab’ah ke distrik 10 (hayy Ashir), malam-malam kami memang nyaris tak pernah tenang. suatu waktu, bengkel mobil yang berada di bawah rumah kami, masih saja sibuk memotong besi pada jam 1 malam. Belum lagi kegemaran orang Mesir yang suka bermain futsal selepas jam 11 malam, atau riuh rendah orang-orang yang nongkrong di kafe saat menggelar nonton bareng siaran sepak bola yang menampilkan Mesir sebagai partisipannya. Bisa gempa deh hayy ashir setiap kali Mesir berhasil menguasai bola, apalagi ketika gol.

Maklum, musim panas. Malamnya jauh lebih hidup dibandingkan pagi dan siangnya.

p.s.: biasanya, di sini, kalau ada orang yang bertengkar, bisa dengan mudahnya dilerai dengan kalimat, “shallu ‘ala an-nabiy.” mereka akan terdiam dan segera mengirim shalawat kepada Rasulullah saw–seperti yang saya saksikan di bus dalam beberapa perjalanan.

keterangan gambar
atas : pemandangan dari rumah di Rab’ah. Yang mirip piramid itu adalah makam dan monumennya anwar sadat.

bawah: pemandangan dari rumah di mutsallas, hayy ashir yang kami tempati hampir dua bulanan ini..

Advertisements