Setelah Tiga Bulan di Mesir (1): Episode Kedatangan

Belum lekang dari ingatan saya ketika pertama kali menjejakkan kaki di negeri Musa ini. Seorang petugas bandara bertanya padaku,
“Bassburt?” (sebenere dia ngomong ‘passport’, cuman aja emang logatnya begitu.)
Saya segera menyerahkan passport. Dan berusaha PD dengan menggunakan bahasa Inggris yang pas-pasan. hehehe.

“I come here to study with my husband,” ujar saya
Sebelum diinterogasi macam-macam. “He’s studying here.”

“Ah, so, he’s Azhar student?” Tanyanya.

“Alhamdulillah.”

Setelah itu, ia segera mengembalikan passport saya dan memmberitahu saya jalan menuju pintu keluar. Di depan pintu keluar saya lihat beberapa pendatang asal Indonesia tengah diinterogasi seraya dibongkar muatan tasnya. Sejak maraknya TKI ilegal asal Indonesia, sambutan bandara terhadap orang Indonesia memang tidak terlalu ramah–begitu katanya.

Saya mendekati seorang petugas pintu keluar dan segera menyerahkan passport saya. Ia bertanya kepada saya dalam bahasa Arab ‘ammiyah.

“i’m sorry sir, but i don’t really understand Arabic.”

Namun, penjaga bergaris wajah tegas itu bertanya lagi kepada saya, kali ini dengan nada lebih keras.

“Pardon me Sir, i told you that i’m not speaking Arabic. But if you still want to ask me please let me go outside and bring my husband to you so you can speak with him. He’s student here.”

“In Egypt? Where?” Akhirnya ia pun menangkap maksud saya.

“al-Azhar.”

***
Saya pun melenggang keluar dengan sedkit deg-degan. Bagaimana tidak, seorang kawan saya yang tiba sepekan sebelumnya harus diinterogasi dulu selama sekian jam oleh petugas bandara sebelum akhirnya diperbolehkan keluar.

Di luar saya melihat muka yang sudah tak asing lagi. Ah, itu dia wajah lelaki yang hampir setahun ini begitu lekat dalam hidup saya.

Udara dingin serta-merta menampar wajah saya. Rupanya tadi hujan turun dan mengembalikan hawa dingin yang sebetulnya mulai menghangat.

Saya pun segera masuk ke dalam mobil yang telah menunggu. Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan kota Kairo di malam hari sambil menerka pengalaman apa yang akan saya alami di negeri seribu menara ini.

***
Imarah (apartemen) 11, Rab’ah al-Adawea. Kami (saya dan suami) tiba di tempat kediaman kami yang pertama dan segera menuju lift untuk naik ke lantai 8. Sampai di sana, saya disambut dengan tulisan:
“ahlan wa sahlan zawjati al-mahbubah” atau dalam bahasa Sundanya “wilujeng sumping pun istri nu dipikanyaah.” kalau kata anak-anak zaman sekarang mah “so sweeeeeeeeeeet…” suami saya pun segera mengabarkan kedatangan saya kepada keluarga.

Flat yang kami huni terhitung besar untuk keluarga kecil (belum ada anak). Ada tiga kamar tidur yang ukurannya besar-besar, di samping juga ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan balkon.

Ketika memasuk kamar, saya merasa sangat surprise, kamar tidur kami penuh dengan bunga-bunga segar yang berwarna-warni. Pandangan saya tertuju pada seikat mawar ungu yang berada di kasur. Ya ampun, baru kali ini saya melihat mawar berwarna ungu. Lagi pula, Istri mana yang tidak suka mendapatkan bunga dari suaminya?

Malam itu saya merasa sangat bahagia, tetapi saya juga tidak bisa menyembunyikan kelelahan saya. Tom yum seafood yang sudah disiapkan pun akhirnya disimpan untuk esok hari.

Saya tiba di Mesir pada 1 Februari 2009 pukul 04.00 CLT.

11 thoughts on “Setelah Tiga Bulan di Mesir (1): Episode Kedatangan

  1. gila si akang dahsyat laaah.Seumur gue di Mesir , baru tiga kali gue ngerasain hujan, itu pun bukan ujan klo di Indonesia mah, ng apernah nyampe lebih dari satu jam , nga deras pula. Sekarang pasti musim panas di sana, lagi musim banyak buah..semangka, syaman asali (melon manis)..sama satu buah khas musim panas, gue lupa namanya, gue nyebutnya buah kaktus. buah itu bagus buat melegakan tenggorokan yang kering. Lu, jangna pulang sebelum nyicipin ramadhan di sana…seru banget, loe bakal nyesel, lakukan apapun yang dibolehkan untuk memperpanjang visa dan izin tinggal. Kudu wajib, a must experience you shud have!

  2. ladiepink said: lulu!! rindu kamu!! bila mau ketemu???

    khuzaimah, saya rindu kamu pula. hehehe..saya nak main-main lagi ke rab’ah jika selesai imtihan. tunggu lah saya nak temui kamu di bilik. hehehe. sudah imtihan belum di Fajr?

  3. shikaumaru said: gila si akang dahsyat laaah.Seumur gue di Mesir , baru tiga kali gue ngerasain hujan, itu pun bukan ujan klo di Indonesia mah, ng apernah nyampe lebih dari satu jam , nga deras pula. Sekarang pasti musim panas di sana, lagi musim banyak buah..semangka, syaman asali (melon manis)..sama satu buah khas musim panas, gue lupa namanya, gue nyebutnya buah kaktus. buah itu bagus buat melegakan tenggorokan yang kering. Lu, jangna pulang sebelum nyicipin ramadhan di sana…seru banget, loe bakal nyesel, lakukan apapun yang dibolehkan untuk memperpanjang visa dan izin tinggal. Kudu wajib, a must experience you shud have!

    iye maru, secara gw di mari bakalan paling kagak ampe akhir taon. gw lagi mau nyicip anggur di mari nih, cuman ntar dulu dah nunggu dateng musimnye en turun harga. kikikik

  4. hz86 said: huwahasik banget ye ceu :Pkalo cuma sampe akhir tahun adam kumaha?

    kalau adam mau ke sini, ntar clulu diem di sini dulu setahunan lagi sambel belajar macem2.

  5. selebardaunkelor said: beuhhhhhhhh kang aceng….romantis pisan euy.saya ama kiki lagi baca dan senyum-senyum lihat foto kalian berdua. kata kiki: senang deh lihat foto lulu-aceng….

    hehehe. jadi kaga enakmbak ita, salam ya buat mbak kiki🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s