FAQs on Ramadhan…


Frequently Asked Questions on Ramadhan*

oleh Lulu M. Sunman

Jingga menyepuh cakrawala di suatu senja. Sementara, di penjuru dunia tersiar kabar: Ramadhan telah datang! Rasulullah Saw., dalam sebuah hadits yang diriwatkan Thabrani, bersabda, “telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka, sambutlah ia. Telah datang syahr ash-shiyam (bulan puasa) membawa segala rupa keberkatan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.”

Menyambut Ramadhan berarti mempersiapkan segala keperluan yang bisa membuat produksi amalan kita meningkat. Salah satunya dengan memperbanyak pengetahuan tentang Ramadhan. Benarlah apa yang dikatakan Ali ra., al ‘ilm qabla qauli wal ‘amal. Berikut ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul mengenai Ramadhan.

Bagaimana kedudukan niat dalam shaum (puasa)?

“Sesungguhnya segala sesuatu bergantung pada niat,” sabda Rasul. Hadits ini mengisyaratkan bahwa Islam menghendaki niat sebagai syarat sahnya suatu amalan, terutama ibadah mahdhah. Orang yang shaum diwajibkan berniat pada tiap-tiap malam sebelum terbit fajar. Jika tidak diniatkan, maka tidak bernilai shaum. Hal ini seperti yang disabdakan Rasul, “Barang siapa tidak berniat melakukan shaum pada sebelum fajar, maka tidak ada shaum baginya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan Nasa’i).

Namun demikian, jika lupa, kita harus segera meniatkannya di kala ingat, meskipun sudah siang hari (QS. Al-Ahzab: 5). Niat tidak disyaratkan untuk diucapkan, sebab niat merupakan pekerjaan hati. Maka, siapa yang sahur dengan maksud akan shaum, maka ia telah berniat. Demikian pula dengan orang yang bertekad menghindari segala hal yang membatalkan shaum, ia telah berniat, meskipun ia tidak sahur.

Bagaimanakah Rasulullah Saw. mengisi bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu oleh kaum muslimin disebabkan keistimewaannya. Ketika itu, pintu surga dibuka lebar, sedang setan dibelenggu dan pintu neraka pun ditutup. Selayaknya kaum muslimin bisa beramal dengan maksimal pada bulan ini.

Rasulullah Saw., terbiasa untuk mengakhirkan waktu sahur dan menyegerakan berbuka. Sahur adalah amalan yang sangat penting, meskipun hanya dengan seteguk air. “Hendaklah kamu makan sahur, karena itulah makanan yang berkah.” Waktu berbuka, Rasul tidak pernah menundanya dan beliau mengawalinya dengan beberapa buah kurma.

Pada bulan ini, Rasul memperbanyak doa, sebab doa yang berpuasa adalah makbul, “ada tiga golongan yang tidak ditolak doanya, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya.” (HR. Turmudzi).

Rasul pun senantiasa bersikap dermawan dan selalu berdekatan dengan Alquran, “Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan, dan sifat dermawannya itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan, yakni ketika ia ditemui Jibril. Biasanya Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadhan dan membawa Rasul untuk mempelajari Alquran. Rasul Saw., lebih murah hati dalam melakukan kebaikan dari pada angin bertiup (tentang kecepatan dan meratanya).” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas).

Ketika Ramadhan memasuki sepuluh masa terakhirnya, Rasul semakin menggiatkan ibadahnya, “bahwa Rasul bila telah masuk puluhan terakhir dalam bulan Ramadhan, diramaikannya waktu malam, dibangunkannya keluarganya, dan diikat erat-erat kain sarungnya.

Bolehkah kita membatalkan shaum Ramadhan?

Selain mereka yang diberikan keringanan, shaum Ramadhan tidak boleh dibatalkan. Mengenai hal ini, Rasul Saw. mengisyaratkannya dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan at-Turmudzi, “Barangsiapa berbuka (tidak berpuasa) meskipun sehari pada bulan Ramadhan tanpa rukhshah (keringanan) yang Allah berikan kepadanya, maka tidak akan tertebus (dosanya) dengan puasa sepanjang masa yang ia lakukan.”

Siapa saja yang mendapat keringanan untuk tidak shaum?

Allah memberikan keringanan kepada orang yang usianya telah senja, orang sakit dan tidak ada kemungkinan sembuh, orang yang memiliki pekerjaan berat, seperti pekerja tambang atau narapidana yang kerja paksa, wanita hamil dan yang menyusukan anak. Sebagai kompensasi, mereka diharuskan membayar fidyah, yaitu memberi makan seor
ang miskin (QS. al-Baqarah: 184).

Sementara itu, untuk yang sakit tetapi ada harapan sembuh dan untuk musafir, mereka diperbolehkan berbuka, namun wajib menggantinya di waktu lain (QS. al-Baqarah: 184).

Bolehkah tidur setelah sahur?

Sekalipun tidak ada dalil yang melarangnya, tidur setelah sahur bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Rasul mencontohkan bersahur di akhir waktu. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dikatakan bahwa jarak waktu sahur Rasul dengan waktu shalat adalah lima puluh ayat. Mengakhirkan waktu sahur menghindarkan kita dari terlambatnya pelaksanaan shalat shubuh.

Selain itu, jangan pula dibiasakan tidur sambil menunggu waktu berbuka. Sebab, Ramadhan adalah bulan yang paling baik untuk menuntut ilmu, dan waktu-waktu yang paling baik digunakan untuk menuntut ilmu adalah setelah shubuh, dzhuhur, dan menjelang berbuka.

Jika kita ingin tidur, hendaklah dipilih waktu yang benar-benar tepat untuk istirahat, seperti satu jam sebelum dzhuhur atau setelahnya.

Bagaimana hukum mencicip makanan ketika shaum?

Mencicip makanan merupakan suatu hal yang diperbolehkan ketika shaum. Berkata Ibnu Abbas, “tidak mengapa apabila ia merasakan makanan asam atau sesuatu yang hendak dibelinya.” Selain itu, Hasan ibn. Ali pun biasa memamahkan kelapa untuk cucunya. Hal ini bisa dianggap sebagai rukhsah. Para ulama memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi masakannya, asalkan sekadarnya dan tidak mencapai tenggorokannya. Hal ini dianalogikan dengan kumur-kumur yang boleh untuk dilakukan asal airnya tidak masuk ke tenggorokan.

Apakah menggosok gigi diperbolehkan ketika shaum?

Mengenai hal ini, ada perbedaan pendapat para ulama. Ada yang mengatakan makruh dengan landasan hadits Rasul saw., ”demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau tidak sedap orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi.” (HR. Bukhari). Menggosok gigi dikatakan makruh, sebab bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah.

Namun demikian, dalam Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq menuliskan bahwa Rasul Saw., biasa menggosok gigi (bersiwak) ketika berpuasa. Hanya saja, ketika menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi, kita perlu berhati-hati, jangan sampai pasta giginya tertelan.

Apakah muntah membatalkan shaum?

Apabila muntah dilakukan dengan sengaja, maka shaum-nya batal, sebagaimana yang tertera dalam hadits riwayat Ahmad dari Abu Hurairah, “barang siapa terpaksa muntah, niscaya tidak ada qadha atasnya, barang siapa yang sengaja muntah, hendaklah ia meng-qadha-kannya.

Jika muntah disebabkan oleh penyakit dan kondisi fisik akan lebih baik jika shaum dibatalkan, maka sebaiknya dibatalkan dan di-qadha ketika sembuh.

Apakah benar, marah dapat membatalkan shaum?

Marah tidak membatalkan shaum, namun dapat merusak dan menghilangkan pahala shaum. Bersabda Rasul Saw., “shaum adalah perisai. Maka, apabila salah seorang kamu sedang shaum, janganlah ia menuturkan kata-kata yang keji, dan janganlah ia menghingar-bingarkan. Jika seseorang memakinya atau memukulnya, hendaklah ia berkata, ‘saya sedang shaum’”.

Dalam Ihya-nya, al-Ghazali menjelaskan tiga tingkatan shaum: umum, khusus, dan lebih khusus lagi. Tingkatan umum adalah ketika shaum yang dilakukan hanyalah untuk mencegah perut dan kemaluan dari pemenuhan keinginannya, seperti makan, minum, dan berhubungan seksual. Tingkatan khusus adalah pencegahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya dari dosa. Adapun tingkatan yang lebih khusus adalah mencegah hati dari segala cita-cita yang hina dan pikiran duniawi.

Termasuk dalam perkara yang merusak pahala shaum adalah berdusta, mengumpat, bersumpah palsu, memandang dengan nafsu, berkata keji dan merenggangkan hubungan, serta perkataan yang mengandung ria.

Bolehkah mengkonsumsi obat anti-haid pada bulan Ramadhan?

Menghalangi aliran darah kotor untuk keluar tentu akan berdampak negatif bagi kesehatan, terutama bagi rahim. Oleh karena itu, penggunaan obat anti-haid harus dihindari. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan dirinya, juga tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah).

Apabila obat tersebut sudah terlanjur dikonsumsi, dan darah haid benar-benar tidak keluar, maka shaumnya tetap sah. Namun, jika ragu, apakah darah tersebut benar berhenti atau tidak, maka hukumnya seperti wanita haid, tidak boleh melakukan puasa.

Bolehkan mencium ketika shaum?

Dalam sebuah hadits yang berasal dari Aisyah dinyatakan bahwa, “Nabi Saw. biasa mencium di waktu shaum, dan bersentuhan. Dan beliau adalah orang yang paling mampu menguasai nafsunya.”

Dengan demikian, mencium diperbolehkan ketika shaum, tetapi hanya bagi orang yang mampu menahan syahwatnya. Namun, lebih utama untuk ditinggalkan, sebab jika air maninya keluar, maka shaumnya batal.

Batalnya shaum juga terjadi pad orang yang onani, menghayal, atau melakukan hal lainnya yang membuat air mani keluar dengan sengaja (istimna’).

Bagaimana dengan menonton “sinetron Islam” ketika Ramadhan?

Kebanyakan orang menganggap sinetron yang berbau Islam cukup layak untuk ditonton ketika Ramadhan, bahkan lebih jauh, bisa mengingatkan kita pada Allah. Namun, kita perlu hati-hati. Menonton sinetron tersebut tentu tidak dilarang, tetapi ada hal-hal yang perlu diingat. Pertama, waktu-waktu pemutaran sinetron tersebut—berdasarkan kebiasaan pada beberapa tahun sebelumnya—mendekati waktu maghrib. Saat itu, seharusnya waktu kita bisa lebih bermanfaat dari sekadar nonton sinetron, misalnya dengan membaca Alquran dan berzikir.

Kedua, biasanya sinetron tersebut disambung lagi setelah break azan maghrib. Hal ini jangan sampai membuat kita mengorbankan waktu maghrib demi sinetron, atau shalat maghrib di awal waktu demi mengejar tayangan sinetron.

Ketiga, jika diperhatikan lebih jauh, “sinetron-sinetron Islam” ketika Ramadhan tidak ubah seperti sinetron biasanya. Hanya, tokohnya berjilbab dan berpeci, serta lebih banyak menyebut nama Allah. Ending-nya pun pasti sama: yang jahat akan betaubat, dan tokoh protagonis yang sejak awal ditindas, menjadi disayang oleh orang-orang. Akan sangat lebih baik jika momen Ramadhan ini dijadikan media untuk mengurangi kebiasaan menonton sinetron, terutama untuk ibu-ibu.

Wajibkah shalat tarawih dilakukan, dan berapakah jumlah rakaatnya?

Mengerjakan shalat tarawih, hukumnya adalah sunah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jama’ah, dari Abu Hurairah, “Rasulullah menganjurkan untuk mengerjakan shalat pada bulan Ramadhan, tetapi tidak mewajibkannya. Beliau bersabda, ‘barang siapa yang bangun pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan ridha Allah makan dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Jumlah bilangan shalat tarawih yang biasa dilakukan Rasul adalah delapan rakaat (dengan shalat witir menjadi sebelas rakaat). Hal ini termuat dalam kitab shahih Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, “bahwa Rasulullah shalat delapan rakaat dengan orang banyak, kemudian berwitir. Pada malam berikutnya, mereka menunggu-nunggu, tetapi beliau tidak datang.”

Namun, suatu kenyataan pula bahwa pada masa Umar, Utsman, dan Ali, orang-orang mengerjakan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat (dengan shalat witir menjadi dua puluh tiga rakaat). Imam Syafi’i pun mengatakan, “Saya mendapatkan orang-orang di Makkah shalat tarawih dua puluh rakaat.”

Apa saja amalan-amalan khusus yang dilakukan Rasulullah Saw. di likur akhir Ramadhan?

Ada beberapa amalan yang dilakukan dengan lebih kerap oleh Rasulullah Saw. di likur akhir Ramadhan. Di antara ibadah yang beliau istimewakan adalah menghidupkan malamnya dengan ibadah, membangunkan keluarganya untuk shalat di malam-malam itu, mengikat ikat pinggang[1], mandi di antara maghrib dan isya dan menghias diri diam-diam sambil mengharapkan lailatul qadr, dan ber-i’tikaf.

Salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan malam, sekurang-kurangnya adalah dengan senantiasa shalat isya dan shubuh secara berjamaah. Diriwayatkan oleh Abu Syaikh al-Ashahani dari Abu Hurairah, “Barang siapa mengerjakan shalat isya dengan berjamaan di bulan Ramadhan, maka ia sungguh telah memperoleh lailatul qadr. Namun, tentu memelihara tahajjud (shalat malam/tarawih) lebih disukai. Dari Ali ra., “adalah Nabi Saw. membangunkan keluarganya di puluhan yang akhir dari bulan Ramadhan dan Nabi membangunkan pula semua anak kecil dan orang besar yang sanggup shalat” (HR. Thabrabi).

Apa yang dimaksud dengan i’tikaf?

Menurut istilah syara’, i’tikaf adalah tetap berada dalam masjid dengan niat mendekatkan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari maksiat. I’tikaf merupakan sunnah yang sangat tinggi nilainya dan senantiasa dilakukan oleh Rasulullah, sebagaimana yang disampaikan Aisyah, “adalah Rasulullah ber-i’tikaf di sepuluh yang akhir dari bulan Ramadhan, hingga beliau wafat,” (HR. Bukhari dan Muslim).

I’tikaf berlaku untuk lelaki dan perempuan muslim yang wajib shaum. I’tikaf dilakukan di masjid-masjid yang digunakan untuk pelaksanaan shalat jum’at atau berjamaah.

Apa syarat diperbolehkannya perempuan untuk ber-i’tikaf?

Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan oleh para perempuan ketika akan i’tikaf:

  1. mendapat persetujuan suami atau orangtuanya. Apabila suami telah mengizinkan istrinya untuk ber-i’tikaf, maka ia tidak boleh menarik kembali persetujuannya tersebut.
  2. tempat pelaksanaan i’tikaf yang digunakan harus memenuhi tujuan umum syariat, masjid. Untuk hal ini, terdapat perbedaan pendapat para ulama, namun yang lebih kuat adalah bila i’tikaf tersebut dilakukan di masjid (tempat shalat) di rumahnya.

Apakah perempuan yang sedang haid boleh ber-i’tikaf?

Dari Ummu Salamah, “Rasulullah Saw. masuk ke halaman masjid dan berseru sekeras suaranya, ‘sesungguhnya masjid tidak diperbolehkan bagi orang haid dan junub,” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani). Orang yang haid dan junub hanya diperbolehkan melewati atau melalui masjid. “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu dekati sembahan dalam keadaan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan, begitu pun alam keadaan janabat, kecuali kamu hanya melaluinya saja, sampai kamu mandi!” (anNisa: 43).

Dengan demikian, maka i’tikaf tidak berlaku untuk para perempuan yang sedang haid, karena mereka dilarang untuk berdiam diri di masjid.

Apa yang dimaksud dengan lailatul qadar?

Lailatul qadar adalah salam dari permulaanya, hingga keluar fajar. Sebab itulah ia bernilai lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun 4 bulan). Keistimewaan malam tersebut membuat Rasul menyuruh ummatnya untuk mencari malam al-qadar di likur akhir bulan Ramadhan. Tidak ada nash yang secara pasti menunjukkan jatuhnya malam al-qadar. Namun, diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “carilah dengan segala daya upaya, malam al-qadar di malam-malam ganjil di sepuluhan akhir dari bulan Ramadhan.”

Saat malam al-qadar jatuh, kita hidupkan malam itu dengan ibadah dan doa. Berkata Aisyah, “Saya bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana pendapat Anda seandainya saya tahu malam jatuhnya lailatul qadar, apa yang saat itu harus saya ucapkan?’ maka ujar Rasul, ‘katakanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku).” (HR Ibnu Majah dan Turmudzi).

Apakah perempuan yang sedang haid bisa mendapat lailatul qadr?

Juwaibir bertanya pada adh-Dhahhak, “bagaimana pendapat Anda tentang perempuan yang sedang bernifas, perempuan yang sedang haid, musafir, dan yang sedang tidur nyenyak, apakah mereka mendapat bagiannya di malam al-qadar itu?” adh-Dahhak menjawab, “sesungguhnya semua mereka mendapatkannya. Tiap orang yang amalannya diterima Allah, diberikan bagiannya dari malam al-qadar itu oleh Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim.”

Dari perkataannya bisa disimpulkan bahwa malam al-qadar menjadi hak bagi mereka yang sejak awal memperlakukan Ramadhan dengan baik, sehingga amalan mereka diterima oleh Allah.

Lagi pula, untuk mereka yang berhalangan untuk beribadah secara maksimal, masih dapat memanjatkan doa yang sangat banyak dan melakukan ibadah lain semisal berzikir, membaca buku-buku Islam, mengulang hafalan Alquran, memberi makan orang yang berbuka, dan memperbanyak sedekah.

Bagaimana menyiasati akhir Ramadhan dengan optimal meskipun harus mudik (pulang kampung)?

Jika memungkinkan, sebaiknya mudik dilakukan sebelum sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Hal ini merupakan upaya antisipasi agar waktu-waktu akhir bulan Ramadhan kita tidak terbebani oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Sebab, seperti sudah dipaparkan sebelumnya, Rasul selalu menggiatkan ibadahnya di masa akhir bulan Ramadhan.

Ketika mudik di akhir Ramadhan, kita akan dipusingkan oleh hal-hal yang tidak perlu, sehingga membutuhkan kesabaran ekstra. Misal, perjalanan yang panjang, macet, panas, dan melelahkan. Hal itu membuat kita jadi sulit untuk mengontrol perasaan: mudah marah dan mengumpat, sebab bersabar bagi orang lapar adalah perkara yang tidak mudah.

Bersilaturrahim tentu merupakan ibadah. Akan tetapi, sebaiknya diatur pula, agar tidak mengganggu ibadah yang lebih penting, ibadah yang waktunya hanya Allah sediakan secara singkat, sedangkan kita bisa meraup berjuta berkah di dalamnya.

Bagaimana cara membiasakan anak untuk shaum?

Menyambut Ramadhan dengan sebaik-baik sambutan harus dibiasakan sejak kecil. Salah satunya adalah dengan menjalani perintah untuk shaum. Meskipun orang yang wajib melaksanakan shaum adalah mereka yang telah baligh, tetapi tidak ada salahnya untuk membiasakan anak untuk shaum.

Dalam sebuah hadits-nya, Bukhari dan Muslim meriwayatkan, “Dari Rubayyi binti Muawid berkata: ‘di pagi asyura’ Rasulullah mengirim utusan ke kampung-kampung anshar: ‘siapa yang pagi ini dalam keadaan shaum, maka sempurnalah shaumnya, dan barang siapa yang pagi ini tidak dalam keadaan shaum, maka shaumlah pada sisa hari ini.’ Dan kami pun melakukan shaum Asyura: sebagaimana kami menyuruh shaum pada anak-anak kecil kami, dan kami beserta putra-putra kami berangkat ke masjid dengan menjadikan mainan dari kapas buat mereka. Jika ada salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami berikan mainan itu kepadanya sampai masuk waktu berbuka.”

Sekalipun hadits tersebut ada dalam konteks shaum Asyura, namun hal ini juga berlaku untuk shaum di bulan Ramadhan, sebab shaum pada bulan tersebut memiliki posisi tersendiri di hati Rasulullah.

Para orangtua bisa membiasakan anak-anaknya untuk shaum, secara perlahan-lahan, misalnya dengan mengatur waktu sahur dan berbuka untuk mereka.

Daftar pustaka

Al-Ghazali. 1982. Ihya Ulumuddin Jilid 2. Jakarta: CV Faizan.

Al-Jufri, Salim Segaf, et. al. 2004. Kajian Komprehensif tentang Ramadhan. Jakarta: Syariah Consulting Center.

Ash-Shiddiqiey, Hasbi. 1983 Pedoman Puasa. Jakarta: Bulan Bintang.

Sabiq, Sayyid. 1990. Fiqih Sunnah Jilid 1. Bandung: PT Al-Ma’arif.

——————. 1990. Fiqih Sunnah Jilid 2. Bandung: PT Al-Ma’arif.

——————. 1990. Fiqih Sunnah Jilid 3. Bandung: PT Al-Ma’arif.

Syariahonline.com




[1] Ada perbedaan pendapat para ulama mengenai ungkapan ini, ada yang mengartikan Rasul meningkatkan kesungguhannya dalam beribadah, tetapi ada juga yang mengartikan bahwa Rasul, selama sepuluh hari terakhir, tidak menyetubuhi istrinya.

*(Tulisan ini pernah dipublikasikan melalui majalah Da’wah (Dewan Da’wah Islam Indonesia) untuk edisi Ramadhan 1428 H)

2 thoughts on “FAQs on Ramadhan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s