Gunawan

Menjadi pengguna setia kereta rel listrik (KRL) kelas ekonomi rasanya memang nano-nano. Jika beruntung, saya akan bersebelahan dengan bapak atau ibu beraura kharismatik yang akan memberikan wejangan sejak ia menyapa sampai dengan waktu saya atau dia yang tiba di stasiun tujuan. Yang paling menyebalkan adalah jika saya bersebelahan dengan pria bermacam umur yang mulai mengeluarkan kretek dan pemantik dari kantongnya. Ya, perokok. Ada sih yang kalau ditegur bisa langsung paham, tapi kadang saya harus mengalah dengan berpindah tempat duduk atau bahkan pindah gerbong untuk menghindari asap rokok. sembari menyerapah tentunya.

Tapi arah cerita ini bukan tentang penumpang menyebalkan versus menyenangkan, ya. Ini tentang Gunawan. Pertemuan saya dengan anak itu berlangsung cukup lama, yaitu ketika saya masih kelas 2 SMU. berarti hampir sekitar tujuh tahun yang lalu. yang membuat Gunawan begitu menarik adalah fisiknya yang sangat eye-catching. Badannya kecil, lengannya hanya sampai siku, dan kakinya hanya sampai lutut.

Sejak pertama kali bertemu, saya bertekad akan berkenalan dengan anak itu, dan ternyata pertemuan itu terjadi di Stasiun UI.
“Nunggu kereta bu?” saya menyapa ibunya gunawan yang sehari-hari menggunakan Gunawan untuk mencari uang di KRL dengan mengemis. secara fisik, ibunda gunawan adalah wanita sehat yang terlihat bugar, dan tampak salihah dengan jilbabnya.
“Iya, Neng. Ibu mau ke Bogor”
“ohh..jangan-jangan ibu orang Bogor juga”
“Iya, neng di Bogor juga bukan tinggalnya?”
“Saya di Ahmad Yani. Ibu di mana?”
“Saya di cemplang”
Pembicaraan pembukaan pun berlangsung agak lama, hingga saya bertanya tentang Gunawan. “Assalamu’alaykum, apa kabar de?” tanya saya kepada Gunawan. Gunawan diam, hingga tanya jawab seputar gunawan pun berlangsung dengan ibunya.
“Namanya siapa, Bu?”
“Gunawan”
“Sejak lahir sudah seperti ini?”
“Iya, sekarang umurnya udah enam tahun”
“oh..”
Tiba-tiba Gunawan ikutan nimbrung. Ketika dia bicara, saya melihat deretan giginya yang bertumpukan.Kereta pun datang, kami berpisah. saya berdiam di satu gerbong, sedangkan ibunda Gunawan dan Gunawan menelusuri gerbong untuk melanjutkan rutinitas pekerjaannya. Sejak saat itu ingatan saya kepada gunawan selalu saja lekat.
setiap pertemuan dengannya, berarti itulah waktu saya untuk berinfak.

Pertemuan dengannya sempat terjeda beberapa lama, hingga akhirnya saya pun kembali menjumpai mereka di gerbong-gerbong kereta. saya memperhatikan tatapan iba penumpang pada Gunawan dan gerakan tangan mereka yang serta merta merogoh kantong untuk memberikan uang kepada ibunda Gunawan. dalam satu gerbong, mereka mungkin bisa mendapat uang lebih dari sepuluh ribu. Kemudian saya membayangkan pendapatan mereka dalam sehari. Mungkin sampai seratus ribu bahkan lebih. Sejak saat itu saya memutuskan untuk hanya menyumbangkan senyum kepada Gunawan. Tidak lagi uang.

Yang membuat saya sedih adalah ibunya yang tidak berusaha untuk berwirausaha di rumahnya. Misalnya bikin warung, meskipun kecil-kecilan. Paling tidak, itu bisa menyehatkan mental Gunawan yang bisa berpikir bahwa hidup masih bisa berlanjut tanpa mengemis.

Namun yang paling-paling membuat saya miris adalah ketika pukul 5.30 saya bergegas menuju kereta, tetapi tiba-tiba langkah saya harus terhenti sebab di dalam stasiun ada anak kecil, terduduk di depan pintu sambil mengiba kepada setiap orang yang melewatinya. ya Allah, itu kan Gunawan.

Kini, setiap ibunda Gunawan mengemis, Gunawan tidak lagi digendong, ia menyertai langkah ibunya dengan menyeret-nyeret kakinya di lantai KRL. Gunawan sudah besar, dan sudah belajar banyak untuk mengemis.

Saya teringat kisah Umar dengan dua orang pengemis. Sebelum Umar memberikan uang, ia bertanya apakah kegiatan mengemis yang dilakukan itu merupakan profesi atau bukan. Pengemis pertama diberi uang oleh umar untuk berwirausaha sebab dia mengemis bukan karena profesi tetapi terpaksa karena harus menghimpun uang untuk melakukan usaha yang baru. Tetapi, Umar mendera pengemis yang kedua karena menjadikan mengemis sebagai profesi.

::ya Allah, bebaskan kami dari kemiskinan yang membelenggu dan ringankanlah tangan kami untuk berinfak di jalan-Mu::

//

3 thoughts on “Gunawan

  1. tangan di atas memang selalu lebih baik daripada tangan dibawah….miris ngeliat orang yg masih seger buger menjadikan mengemis sbagai profesi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s