tentang hujan

berhubung tadi ada sidak alias inspeksi dadakan dari bunda en ahmad, dan secara tidak kebetulan hujan turun dengan begitu deras, saya pun kembali teringat akan sesuatu….

***

ini adalah percakapan antara saya (waktu masih lucu-lunya^^) dan bunda.
bunda: musim kemarau adanya di bulan apa?
lulu: nggak tau
bunda: kalau musim hujan?
lulu: nggak tau
bunda: lulu, kalau mau tau kapan terjadinya musim hujan, kemarau, atau pergantian musim, kamu tinggal ingat-ingat bunyi akhir di bulan tersebut. misalnya, september, oktober, november, dan desember. nah, itu kan bunyi akhirnya “ber” semua tuh? itu artinya hujan lagi senang-senangnya turun. bunyi hujan turun kan gitu lu, apalagi kalo deras ‘ber..ber..ber..”
pada januari dan februari, hujannya lagi penyesuaian, jadi nggak terlalu deras. makanya, bunyinya pun ga jelas, cuma ‘ri..ri..ri..’. maretnya, hujan mulai turun seadanya: ‘ret..ret.ret..’. pas bulan april, hujan yang turun udah tinggal sisanya, ‘pril..pril..pril..’.
coba deh, di juni dan juli, kita kan ga bisa nemuin nuansa suara hujan sama sekali, itu artinya kemarau sedang dalam masa puncaknya. hingga tibalah agustus, sebagai bulan yang meletuskan kemarau jadi musim penghujan, ‘tus!’ begitulah, dan musim secara perlahan mulai berganti.
“ber”-nya september tidak akan se-“ber”-nya oktober, november, dan desember.
****
itu adalah salah satu cerita dari bunda yang masih saya ingat. beberapa tahun setelahnya, di sd kelas lima, saya mendapat penjelasan ilmiahnya dari pak idris saat beliau menyampaikan materi tentang proses kondensasi. tapi, kalau dipikir-pikir, analoginya bunda ini bener juga dan ketika kecil, sempat bikin saya memasang kuping untuk mendengar suara hujan di tiap bulan. apa benar suara hujan maret itu “ret..ret..ret..”, “pril..pril..pril..” pada bulan april, dan menjadi “ber..ber..ber..” pada september hingga desember.

meskipun begitu, saya pun tidak menutup dugaan lain, seperti: kayanya ini keisengan bunda aja deh.. soalnya juga, suatu ketika, saya pernah bertanya perihal plat mobil:
lulu: bun, kok mobil yang itu pake huruf ‘B’?
bunda: iya, soalnya itu mobil daerah jakarta.
lulu: kenapa nggak ‘J’ aja, kan Jakarta.
bunda: dulu, Jakarta itu namanya ‘Batavia’. jadi pake huruf ‘B’.
lulu: kalau bogor kenapa hurufnya ‘F’?
bunda: soalnya dulunya namanya ‘fogor’..
lulu: kalo cirebon kenapa ‘E’?
bunda: udah dong lu…masa sih bunda kudu jawabin satu-satu.
tapi sebetulnya saya curiga: masa sih bogor yang segini belandanya pernah pake nama fogor? kok kayanya asosiasinya ke kodok banget gitu loh. ‘fogor’, semacam mendengar kata ‘frog’. akhirnya, demi ketentraman hidup, saya pun bertanya pada ayah:
lulu: ay, emangnya waktu dulu nama bogor itu fogor ya?
ayah: bukan, dulu namanya buitenzorg.
lulu: kok kata bunda namanya fogor sih?
ayah: masa? ah, itu mah bercanda, Lu..

jadi, ini sedikit ingatan yang melintas tadi, saat hujan turun dengan begitu “ber” di oktober.
091007, masih di fogor, eh…bogor.

2 thoughts on “tentang hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s